07

147 29 13
                                        

Annyeong, everyone!! Balik lagi dengan author cherry!

Oh, kali ini. Cherry gak sendirian loh. Cherry ada project duet sama author Pizza! Ini salah satu cerita yang kita buat.

Mari kita persembahkan, author kita! realpacarsatya

Ini project sesama Carat. Carat merupakan salah satu fandom Kpop yang sangat terkenal.

Semoga kalian suka, dan jangan lupa tinggalin jejak dan kasih komen ya!!

Cerita ini, update setiap hari rabu. Mengikuti jadwal 'Gose/Going Seventeen.'

🍒🍕🍒🍕🍒🍕

“Perasaan kita sejalan, tetapi takdir menolak untuk menyatukannya.” — Aya

🍒🍕🍒🍕🍒🍕

Matahari perlahan condong ke ufuk barat. Cahaya jingga yang tercurah dengan lembut membalut taman sederhana itu, mengubahnya menjadi pemandangan yang terasa hangat dan nyaris magis. Bayang-bayang pepohonan memanjang, seolah ikut mengantar hari menuju peristirahatan.

Mereka melangkah keluar dari kafe—tempat singgah singkat yang tak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga diam-diam mengenyangkan hati. Tawa kecil dan candaan ringan mengiringi langkah mereka. Senyum yang terukir di wajah Aya dan Dipta tampak tulus, seolah dunia sedang memberi jeda dari segala beban yang selama ini menghimpit.

“Mau lihat city light, nggak?” tanya Dipta tiba-tiba.

Ia tahu betul—atau setidaknya, merasa tahu—bahwa Aya memiliki ketertarikan khusus pada pemandangan malam kota. Lampu-lampu yang menyala di kejauhan, gemerlap yang kontras dengan gelapnya malam, selalu memberi rasa tenang yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

“MAU!” jawab Aya spontan, nyaris berteriak.

Tama refleks menempelkan telunjuknya di depan bibir Aya. “Ssst! Nggak usah teriak. Malu-maluin aja,” omelnya.

Aya memutar bola matanya malas. “Ya emang kenapa? Gue excited, Ka. Salah? Komennya tuh mirip netizen—dikit-dikit nyinyir.”

“Ck.” Tama mencibir, lalu menoleh ke Dipta. “Lihat, tuh. Kelakuan idola lo. Dibilangin malah nyolot.”

Alih-alih tersinggung, Dipta justru tertawa kecil. “Nggak apa-apa, Bang. Aya itu refleks. Kalau udah senang, ya gitu.”

“Tuh, kan!” Aya menunjuk Dipta dengan ekspresi menang. “Lo aja yang kebanyakan komentar, Ka.”

Tama pura-pura mengepalkan tangan, mengancam hendak meninju Aya. Tentu saja hanya gertakan—ia bahkan tak akan tega menyentuh ujung rambut gadis itu.

“Ah, lo mah!” dengus Tama.

“Udah, ayo kita berangkat,” ajak Dipta, mencoba meredam ‘perang kecil’ di antara mereka.

“Gue nggak ikut,” ucap Tama tiba-tiba.

Aya langsung menoleh. “Heh? Ngambek lo?”

“Kagak!” sangkal Tama cepat. “Gue mana pernah ngambek kayak lo. Tiap lima menit selalu baper.”

“ENAK AJA!” sergah Aya.

“Gue mau nongkrong. Mumpung besok free. Jarang-jarang gue ngerasain libur,” lanjut Tama.

Aya langsung menoyor kepala Tama. “Omongan lo! Tiap bulan libur lima kali masih aja ngaku budak korporat.”

“Udah ah, gue cabut dulu,” ujar Tama sambil melangkah mundur. “Jagain Aya baik-baik. Anterin pulang. Jangan sampai lecet sedikit pun—kalau lecet—”

The Ballerina [⚠️Tahap Revisi⚠️]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang