* akhir kisah
"MAHEN?"
Tidak ada jawaban dari siapapun. Keisha, sangat takut kehilangan Mahen yang sangat ia cintai itu. Ia panik karena Saat memanggil nama Mahen tidak ada yang menyahut. Dimana Mahen?
"Mahen? kamu dimana sih?" ia mulai cemas, pikirannya kemana mana.
"Kenapa sepi banget? Gue juga kenapa?"
"Apa jangab jangan Mahen sama Felisa?"
Ingatannya kembali berputar memori memori sedih tentannya dan Mahen saat masih sekolah. Sungguh, di tinggal olehnya adalah keadaan yang paling Keisha benci di hidupnya.
Tak sengaja air matanya jatuh. Ia ingin bertemu dan memeluk Mahen saat ini. Badannya tertunduk lemas di sebelah sofa sambil memegang ponselnya. Ia sudah mengirim pesan kepada Mahen, namun tidak ada jawaban.
Jika semua ini benar, dirinya akan merasa benar benar kehilangan seseorang yang ia cintai. Ia tak sanggup memikirkan kehidupannya yang akan datang tanpa Mahen.
"Gue, gue ga sanggup hen."
"Keisha, kamu kenapa? Loh kok nangis?"
Mendengar suara khas itu, Keisha berbalik badan. Ia melihat Mahen datang dari pintu belakang sambil membawa kresek hitam. Ia mengusap air matanya dan berlari ke arah Mahen.
Grep.
Mahen tak tau apa yang istrinya alami selama ia pergi, namun ia mengerti bahwa Keisha hanya butuh pelukan. Tangannya mengelus lembut kepala Keisha, ia membiarkan istrinya itu menangis di dalam dekapannya.
"Udah?" tanya Mahen saat Keisha berhenti menangis.
Mahen mengambil air putih untuk Keisha, dan membantunya untuk minum. Jujur saja ia bingun kenapa istrinya ini tiba tiba saja menangis dan memeluknya. Tangab Mahen masih setia mengusap punggung Keisha agar tenang dan dapat bercerita.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Mahen saat Keisha sudah tenang.
"Aku mimpi buruk, aku kira itu nyata."
"Mimpi apa sayang? Kenapa sampe nangis gini?"
"Ya karena mimpinya sedih."
"Hmm? Coba cerita."
"Aku mimpi, kamu, kamu sama Felisa lagi. Aku sedih banget, aku gabisa ngebayangin kalo itu beneran terjadi. Apalagi tadi pas aku bangun kamu gada di rumah. Aku kira selama ini, waktu kita bersama itu cuma mimpi juga."
Mahen menatap istrinya gemas saat bercerita itu. Ia ingin tertawa namun menahannya.
"Aku ngefreeze tadi."
Mahen tak menjawab, ia tersenyum dan masih terus mengusap punggung istrinya. Dan Keisha, masih sedikit sesenggukan.
"Denger ya, aku tau kamu pasti trauma sama masalalu kita. Tapi kamu percaya kan sama aku? Aku bener bener cuma milik kamu Keisha. Gada yang bisa misahin kita. Takdir udah berpihak pada kita."
"Iya hen aku percaya sama kamu. Tapi rasanya sedih banget kalo keinget mimpi aku."
"Udah ya jangan di inget inget."
"Oh iya kamu tau nggak, di mimpi aku tu Ciko udah sadar. Terus aku di rs sama temen temen kamu, tapi kamu. Malah sama Felisa, sedih banget gusti.." ujar Keisha mulai drama di depan semuanya.
"Eleh eleh, maafin aku di mimpi kamu ya sayang. Tapi Mahen yang ini ga akan begitu kok."
"Iya iyaa, tapi Ciko belum sadar ya? Apa udah sadar beneran nih? sumpah ya Mahen, mimpi aku tuh kayak nyata. Apa jangan jangan kita ini yang sekarang malah mimpi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MAHENDRA (END)
Teen FictionSemua tidak akan berantakan jika malam itu Mahen tidak mabuk berat. ❗Mengandung bahasa kekerasan dan tingkah kehewanan para tokoh❗ ❗Adegan dan alur cerita tidak untuk di contoh❗ Highest rank #rank 1 mba (17/8/2022) #rank 3 Mahen (17/8/2022) #rank 5...
