"Mereka bahkan lebih menakutkan dari api. Mereka benci api, tapi mereka tidak takut dengan sang anala. Disaat orang-orang menjauh, mereka berlari mendekat. Mereka dekat dengan api, tapi mereka tidak bersahabat."
Petugas pemadam kebakaran mugkin seri...
Di saat Rangga dan Arjuna sedang bermain game di pantri. Di dalam kamar, seorang pria tengah berdiri di depan cermin seraya memakai parfum. Bibirnya tipisnya mengulas senyuman, tangan panjangnya meraih hoddie hitam lalu segera memakainya.
Kaki jenjangnya yang terbalut celana cargo pendek hitam melangkah keluar kamar menuju lantai dasar lalu keluar dari gedung. Guntur berjalan mendekati motor CBR 250rr, tangannya meraih helm untuk segera memakainya.
"Mas Guntur mau pulang?"
Suara perempuan membuat Guntur urung menggunakan helm lalu menoleh. "Eh, Zahra. Nggak kok, mau keluar aja sebentar," jawabnya lalu tersenyum.
"Kemana?" tanya perempuan berambut panjang yang diikat tinggi.
"Biasa, cari angin," jawab Guntur.
"Boleh ikut nggak? Aku mau cari buku." Zahra tersenyum, berharap Guntur mau mengajaknya.
"Waduh, maaf, Ra. Aku ada janji, lain kali aja kalau mau." Guntur menggaruk tengkuknya seraya menatap Zahra dengan perasaan yang tidak enak.
Senyuman Zahra luntur. "Oh, ya udah. Nggak apa-apa mas, lain kali aja," ucapnya terdengar kecewa.
Guntur mengangguk lalu segera memakai helm full face berwarna putihnya. "Kalau begitu, aku duluan, ya." Pria yang memiliki tinggi 176 cm itu segera naik ke atas motornya lalu segera menyalakan motor. Pemuda itu membunyikan klakson lalu segera melajukan motornya meninggalkan Zahra dengan wajah yang terlihat kecewa.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, Guntur memarkirkan motornya di halaman rumah sakit. Dia melepas helmnya lalu segera turun dari motor. Langkah kaki panjangnya masuk menuju lorong rumah sakit, kemudian terhenti di dekat ruang rawat.
"Cahaya," panggilnya lalu perempuan cantik berhijab yang sore tadi dia selamatkan tersenyum padanya.
(Guys, yang garis miring aku gunain buat bahasa isyarat, ya).
Cahaya memudarkan senyumnya lalu menggerakkan tangannya. "Kamu ngapain ke sini?"
"Mau jemput kamu," jawab Guntur dengan bersuara dan menggerakkan tangannya.
"Aku mau dijemput bapak aja." Wanita berhijab itu terlihat sedikit mengerucutkan bibirnya.
Guntur tersenyum melihat ekspresi wanita di depannya. "Bapak kamu sudah berumur. kasihan kalau keluar malam, nanti kena angin malam. Lagian juga sudah terlambat, aku juga sudah di sini sekarang."
"Iya juga, ya." Cahaya menggerakkan tangannya lalu tertawa tanpa suara.
Guntur yang melihat Cahaya tertawa pun ikut tertawa. Meski tanpa suara, Guntur terlihat sangat nyaman bersama dengan Cahaya. Mungkin di mata orang lain, Cahaya adalah wanita yang memiliki banyak kekurangan, tapi di mata Guntur, Cahaya adalah wanita yang memiliki banyak keistimewaan.
Cahaya sendiri adalah wanita yang pernah Guntur selamatkan dari kecelakaan beruntun dua tahun silam. Mereka tidak punya hubungan spesial, tapi mereka tampak terikat satu sama lain. Keduanya juga terlihat sangat nyaman jika sedang bersama.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.