"Key, sayang ayo buka pintunya"
Mereka sudah beberapa kali membujuk Key untuk membuka pintu.
"Gimana, sekarang kalau udah kaya gini mau bagaimana?!" Ayah.
"Yah, tenang dong" Bunda.
"Key, buka pintunya nak" Bunda membujuk sang putri lagi.
"Key, ayo buka pintunya. Aku akan menjelaskan. Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan" ucap El.
Pintu akhirnya terbuka.
Mereka termasuk Aksa juga ada di sana.
"Yah! Seharusnya Ayah membatalkan saja" Key sedikit kesal.
"Lagipula pernikahan El dan Aksa hanya sementara sampai kamu pulih. Nanti mereka akan bercerai dan Aksa akan menikah denganmu" ucap Ayah.
"Ayah gak bisa memutuskan tanpa persetujuan Aksa dan El" Bunda.
"Bunda" Key menatap nanar bundanya.
"Key, pernikahan Aksa dan El sah secara hukum dan Agama. Ini bukan sebuah permainan Nak" Bunda.
"Tapi Aksa milik Key Bunda, El juga punya Vino, yakan El" Key menatap saudara kembarnya.
"Aksa kamu akan bercerai dengan El kan? Kamu akan menikah dengan ku kan?" Tanya Key yang sudah menangis.
"Kenapa kalian jahat padaku, apa kalian berfikir Aku tidak akan selamat dan Aku akan mati" Key.
"Key!" El tidak suka mendengar ucapan saudaranya itu.
"Ngomong apa sih kamu" Aksa juga sama.
"Kalau begitu Kalian harus bercerai" Key.
"Mereka pasti akan bercerai Sayang" Ayah.
Setelah mendengar penjelasan semua orang Key akhirnya merasa lebih baik meskipun Ia harus menangis dahulu.
"Aku percaya padamu El, jangan membuatku kecewa" ucap Key yang sekarang sedang bersandar di bahu El.
.
.
"Kapan kamu menceraikan El?" Tanya Key pada Aksa.
"Nanti, Aku masih sibuk" Aksa.
"Tepatnya kapan?" key ingin jawaban Pasti.
"Kalau ada waktu Key, Aku akan mengurusnya" Jawab Aksa membuat Key mengangguk.
.
.
"Aksa belum mengirimkan surat cerai?" Tanya Key pada El yang sedang mengupayakan buah untuknya.
"Belum Key, Kak Aksa masih sibuk"
"Kalau begitu kamu saja yang mengurusnya"
"Nanti ya Key, akan lebih mudah jika kita berdua mengurusnya bersama-sama"
"Benar juga"
.
.
"Kamu belum berbicara dengan Aksa?"
"Belum, Kak Aksa sepertinya masih sibuk. Kita belum pernah bertemu lagi setelah hari itu"
"Yang bener aja dong El, kamu omongin tentang kehamilan kamu dulu ke Aksa baru bahas perceraian. Kalau perlu bilang ke Key kalau kamu hamil anak Aksa"
"Vin, gak semudah itu. Aku akan membuat Key kecewa kembali"
"Lalu kamu akan bagaimana? Tetap berpisah disaat kamu hamil?"
"Biarkan aku berfikir dahulu Vino, Aku juga tidak tau harus bagaimana"
.
.
"Apa keputusanmu Sa, ingin kembali dengan Key atau mempertahankan seratus pernikahanmu dengan El"
"Ken, menurutmu bagaimana?"
"Jangan bertanya padaku, yang menjalani bukan Aku"
"Aku bingung"
"Seharusnya kamu gak perlu bingung, udah pasti Key. kecuali kamu memang sudah menaruh hati pada El"
"Pikiran baik-baik sebelum kamu memutuskan pilihanmu"
.
.
"Maaf Pak, Ibu El tidak sadarkan diri di tangannya. Pak Vino sudah membawanya ke rumah sakit xxx"
Setelah mendapat panggilan dari karyawan El, Ayah menghubungi bunda untuk menyusul pergi ke rumah sakit.
"Bunda mau kemana?" Tanya Key melihat bundanya yang terburu-buru.
"El pingsan, Bunda mau ke rumah sakit"
"Hah? Pingsan gimana?" Aksa.
"Gak tau"
"Yaudah Aksa anter Bund"
"Key ikut"
Mereka bertiga akhirnya pergi ke rumah sakit.
Vino yang menemukan El pingsan saat Ia ingin mengajaknya untuk makan siang bersama.
"Dok bagaimana kondisi El dan kandungannya?" Tanya Vino.
"Ibu El hanya kelelahan dan tolong lebih di jaga ya Pak, jangan sampai banyak pikiran Ibu El, takut berakibat pada kehamilannya"
"Apa?" Key.
"Terimakasih dok" jawab Vino sebelum Ia beralih pada keempat orang di hadapannya.
"Gimana maksud kamu?" Tanya Aksa.
Mereka akhirnya masuk ke ruangan El, Vino tidak ingin terlalu ikut campur jadi Ia meminta untuk El yang menjelaskannya.
Tapi ternyata semuanya tidak berjalan seperti yang Vino pikiran.
Plakk
Sebuah tamparan mendarat pada pipi El.
"Ayah!" bunda.
"Bagaimana bisa kamu berbuat seperti itu dengan Vino, El!" Ayah.
"Tunggu-" Vino ingin menjelaskan tapi El menahannya.
"El, Kakak gak habis fikir sama kamu. Bagaimana bisa?" Aksa seakan tidak percaya.
"Kita masih terjalin dalam pernikahan dan bagaimana bisa, kamu dan Vino-"
"Stop Sa!" Vino.
"Vin Lo belain El, berati bener El hamil anak Kamu?" Key.
"key Stop, ayo El bicara doang!" Vino.
"El, Ayo bicara sayang" Bunda yang melihat putrinya itu masih diam sambil menunduk dengan pipi yang memerah karena tamparan Ayah.
"Pantas saja, Aku sering melihat Kamu dan Vino bersama ternyata. Aku gak nyangka banget sama kamu El" ucap Key seakan kecewa dengan saudaranya itu.
"Kak Aksa bahkan masih belum memutuskan untuk menceraikan mu atau tidak tapi kamu" lanjut Key.
"Aku mencoba mempertahankan pernikahan kita El tapi Kamu malah membuatku kecewa" Aksa.
"Itu anak Lo Aksa!" Kesal Vino mencengkram kemeja Aksa.
"Bagaimana bisa, Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya!!" Aksa mendorong tubuh Vino.
"Maaf Kak" ucap El.
"El!" Vino.
"Aksa kapan kamu akan menceraikan El?" Tanya Ayah.
"Aku akan mulai mengurusnya" Jawab Aksa lalu Ia pergi diikuti Key.
"Ayah benar-benar malu El, Bunda lihat anak yang selalu bunda bela ini, Sebaiknya kamu keluar dari rumah El" ucap Ayah mengusir El lalu Ia pergi.
"Ayah, yang bener aja dong!" Bunda.
"El, bunda ke Ayah dulu ya. Vino titip El ya" ucap Bunda sebelum menyusul kepergian suaminya.
Sepergian Ayah dan Bunda, El pun langsung menangis membuat Vino langsung memeluk El.

KAMU SEDANG MEMBACA
Regret In Mistakes
FanfictionCerita seorang kembaran yang terpaksa menggantikan kembarannya di hari pernikahan karena mengalami kecelakaan dan Koma. Apakah yang suami bisa mencintainya atau bahkan membencinya. Seokjin Jisoo Taehyung