Jennie dan Lisa kini sedang perjalanan pulang dari kediaman Kim. Mereka berbincang dengan Jisoo dan Rose tadi, banyak yang mereka bahas. Bahkan mereka makan malam berempat, karena Appa dan Eomma Kim benar-benar tidak keluar dari kamarnya.
Jennie PoV
Aku tidak melarang Jisoo Eonni bersama Rose, ya mungkin Rose kebahagiaan kakakku, tapi orangtua kami belum bisa menerima semuanya. Namanya orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, aku paham bagaimana perasaan mereka, tapi aku juga tidak menjatuhkan harapan Jisoo Eonni.
Saat dulu pun seorang Lalisa Manoban sulit menembus ke dalam keluargaku. Dia berjuang dengan sepenuh hatinya untuk mendapatkan restu, apalagi Rose yang notabennya wanita tulen. Hubungan seperti ini memang sudah banyak, dan mereka berakhir bahagia. Tapi orangtua berharap anaknya bisa hidup sejalur dengan ketetapan Tuhan.
"Mom, kau memikirkan apa?" tanya suami tampanku. "aku hanya memikirkan nasib Rose, Dad. akan sulit untuknya berjuang mendapatkan restu. ya walaupun hubungan mereka juga baru menjadi sepasang kekasih. tapi jika di restui dari awal bukankah akan memudahkan jalan menuju tujuan akhir?" jelasku
Suamiku mengangguk, "dulu juga aku ditolak dua kali sebelum Appa Kim memberi kesempatan untuk memperlihatkan keseriusanku..aku juga tidak menyangka jika akhirnya mereka bersama, awalnya kan Nunna menuduh Rose sebagai pelakor untuk hubungan kita, eh jadinya Nunna yang bersama Rose"
"memang seharusnya Rose bersama siapa jika tidak dengan Jisoo Eonni? denganmu begitu? aku tarik penismu Lisa jika itu yang kau pikirkan" sewotku
"ani ani apa maksudmu Mom, Ya Tuhan..aku memiliki mu saja sudah jauh lebih dari cukup. mendapatkanmu dulu penuh perjuangan, lalu setelah bersama aku bermain dengan wanita lain? hah kau bisa menyebutku gila jika seperti itu. saat diluar sana banyak yang menginginkanmu, lalu aku yang bersamamu menyia-nyiakan mu oh tidak aku tidak sebodoh itu" jelasnya sambil tangannya bergerak kesana kemari, kebiasaan Lisa memang seperti itu jika sedang bicara, tangannya tidak mau diam.
"kenapa diam? ih senyum-senyum seperti itu hahaha Mom jangan terlalu cantik, aku setiap harinya ketakutan jika semakin banyak yang menyukaimu" ucapnya lagi setelah melihat aku yang tidak membalas penjelasannya. Aku memeluk lengannya erat, setelah mengecup pipinya sekilas, hanya sekilas karena jika terlalu lama kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya, bahaya.
"kau harusnya senang jika aku semakin cantik Dad, kenapa tidak boleh cantik dasar aneh" gumam ku. "aku hanya takut ada yang lebih brutal memperjuangkanmu lalu mengambil mu dariku"
Sambil perjalanan ke rumah aku akan menceritakan masa lalu kami. Bagaimana perjuangan Lisa dari mulai mendapatkan namaku hingga mendapatkan restu dari orangtuaku.
Flashback On:
Setelah pertandingan persahabatan basket dengan Korea Aerospace University, ada salah satu pemain dari sana yang membuatku penasaran akannya. Dia berlari mengejarku, dan mengajakku berkenalan. Karena aku yakin dia tertarik padaku, awalnya hanya becanda dengan memberi tantangan jika bertemu lagi aku akan berikan namaku.
Keesokan harinya dia menerima tantangan itu, saat ini aku selesai dengan kegiatan kuliahku hari ini. Dan lihatlah dia sudah berada di parkiran kampus. Aku berjalan mendekatinya, dia berdiri di samping mobilku, entah kebetulan atau dia mencari tahu sebelumnya, perlu ditanyakan nanti. "anyeong, kita bertemu lagi..sesuai yang kau bilang kemarin..jika kita bertemu lagi maka kau akan memberitahu namamu" katanya. Senyumannya sangat manis, rahangnya tegas dengan mata bulat tajam.
"aku tidak bisa mengelak lagi jika seperti ini, namaku Jennie Kim" balasku. "dan by the way, mobil yang kau sandari itu mobilku" lanjutku.
Dia terkekeh, "benar ini mobilmu, sebenarnya aku sudah tahu namamu, bahkan mobilmu pun aku tahu..hah begitu terkenalnya seorang Jennie Kim membuat aku mudah mencari tahu tentangmu"
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Wedding Story
RomanceIn marriage, it's not about finding someone you can live with. It's about finding someone you can't live without. Lika-Liku perjalanan pernikahan Lalisa Manoban seorang Kapten Pilot Korean Air dan Jennie Kim seorang Dokter Anak di Asan Medical Cente...
