Tidak ada kecanggungan sama sekali setelah apa yang terjadi dan terucap oleh Melvin semalam. Beruntungnya, Melvin membawa suasana menjadi sangat nyaman sehingga Clairy tidak perlu merasa tidak enak. Clairy mengeluarkan beberapa isi lemari pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper besarnya.
"Kamu benar-benar akan pulang hari ini?" tanya Melvin duduk di tepi ranjang Clairy.
Semalam Clairy juga membicarakan terkait kontrak huniannya bersama Melvin sang pemilik rumah. Hari ini adalah hari terakhir dirinya ditugaskan di kota ini dan besok ia sudah harus kembali ke kantor lamanya.
"Kamu sudah memberi tahu Juan? Pesawatmu pukul berapa?" tanya Melvin lagi.
"Aku mengajaknya makan malam, kemudian aku akan bilang padanya. Pesawatku pukul empat pagi. Lalu paginya aku sudah harus meeting dengan pimpinan dinas di kotaku. Bukankah aku sangat sibuk?"
Melvin terkekeh sembari meneguk jus alpukat yang ia bawa dari dapur.
"Kunjungi aku sesekali. Kamu pasti akan sering berkunjung ke ibu kota, bukan?"
"Untuk masalah pekerjaan mungkin iya, terlebih jika aku berhasil dipromosikan. Kamu juga, datanglah ke kotaku. Nanti aku antar berkeliling kota."
"Hmm menarik. Tapi apa kau tidak sadar bahwa aku juga cukup sibuk di sini?"
"Ayolah, kamu sudah cukup kaya. Tidak perlu bekerja terlalu keras. Berliburlah sesekali,"
"Benar juga, aku sudah kaya. Bahkan kalian menambah kekayaanku. Tapi sebentar lagi rumah ini akan kembali sepi, dan penghasilanku berkurang. Jadi aku harus tetap bekerja keras."
Clairy menyelesaikan tiga koper dengan pakaian dan barang-barangnya baik yang ia bawa dari kota asalnya maupun yang ia beli di sini. Ia menepuk ketiga kopernya menandakan ia telah selesai berkemas, suatu kebiasaan yang selalu ia lakukan tanpa sadar. Ia kemudian berdiri kemudian melihat pantulan dirinya di cermin.
"Aku cukup cantik, kan?" tanyanya memastikan penampilannya.
"Aku tidak akan menyukaimu jika kamu tidak secantik itu. Cepat, aku tunggu di bawah."
Semalam setelah Clairy membiarkan perasaan Melvin tak terbalas, Melvin akan memaafkan Clairy jika perempuan itu membiarkan Melvin untuk mengantarnya bekerja. Clairy dengan senyumnya mengangguk dengan terus penasaran kenapa Melvin sangat tidak memiliki keinginan dalam hidupnya. Ia salah satu pengikut slow living, pikir Clairy.
Biasanya Melvin memilih memakai motornya untuk menghindari kemacetan tapi kali ini ia menggunakan mobilnya.
"Tidak biasanya kamu naik mobil di pagi hari. Aku tidak apa-apa jika harus naik motor."
Melvin menggoyangkan telunjuknya ke arah Clairy kemudian menggunakan jari yang sama untuk menunjuk ke arah kaki Clairy.
"Kamu memakai rok hari ini. Dan aku adalah seorang gentleman yang perasaannya tertolak semalam."
Mendengar jawaban itu, Clairy mengerucutkan bibirnya terharu dengan apa yang ia dengar. Mungkin seisi dunia akan memarahinya jika tahu ia telah menyia-nyiakan pria sebaik Melvin.
Di dalam mobil, Clairy sibuk memainkan ponselnya untuk mengirim pesan pada rekan kantornya dan juga kepada ibunya tentang rencana kepulangannya. Sesekali ia mendapat panggilan yang mengharuskannya untuk membuat Melvin menyetir tanpa adanya obrolan.
"Kamu sangat sibuk, apa tidak pusing hidup seperti itu?" tanya Melvin berkomentar sembari menggelengkan kepalanya.
Clairy mengalihkan pandangannya ke arah Melvin.
"Aku? Jangan tanyakan sesuatu yang kamu sendiri sudah yakin dengan jawabannya,"
°°°
Juan mengatakan pada sebuah pesannya bahwa ia akan menjemput Clairy dan menepati janjinya untuk ajakan makan malam Clairy. Clairy akan mengakhiri harinya di kota ini dengan perasaan bahagia, seperti pesta kecil-kecilan yang dibuat oleh divisinya sebelum kepulangan Clairy ke kantor cabang asalnya. Clairy mendapat berbagai hadiah yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan menerimanya dari orang-orang yang baru ia kenal kurang lebih tiga bulan.
"Terima kasih Kak, kamu sangat banyak membantuku di sini. Aku akan sangat merindukanmu." ucap salah satu rekannya kemudian memberikan pelukan yang disambut baik oleh Clairy.
Haru. Satu kata yang dapat mendeskripsikan betapa Clairy sangat disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Ia terus tersenyum hari ini hingga tak terasa waktunya telah berakhir. Ia memandangi gedung yang jauh berkali lipat lebih besar dari kantornya. Ia akan merindukan tempat ini, pikirnya.
Clairy mengecek ponselnya dan tidak menemukan satupun pesan dari seseorang yang telah memberikan janjinya pada Clairy siang tadi. Kemudian ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sudah lebih dari satu jam ia menunggu.
"Kak, belum pulang? Atau mau kuantar?" tanya seorang yang Clairy kenal.
"Ah, tidak. Aku menunggu seseorang, terima kasih." balas Clairy sopan kemudian ia kembali menunggu sendirian.
Seperti biasa, langit sore akan membiarkan cahaya oranye bersinar ke arah gedung megah itu dan membuat Clairy tidak tahan menahannya. Ia memilih untuk berjalan sedikit dan menunggu Juan di sebuah minimarket.
Perasaannya biasanya tidak pernah salah. Ia tidak bisa menghubungi Juan dan pria itu tidak membalas satupun pesannya sedangkan langit yang ia keluhkan tadi telah berganti menjadi gelap. Membawa hawa dingin yang membuat Clairy menyesali pakaian yang ia kenakan hari ini.
"Apa dia mempermainkanku?" gumam Clairy dengan tidak sabar.
"Jika tepat pukul delapan ia belum datang, aku akan pastikan bagian tubuhnya tidak akan utuh." kesal Clairy menggerutu dengan terus menekan nomor Juan.
Sesuai janjinya sendiri, tepat pukul delapan dan empat jam sudah ia menunggu kedatangan seseorang yang melanggar ucapannya sendiri. Clairy berdiri dan bersiap untuk meninggalkan tempatnya ketika sebuah mobil berhenti di hadapannya.
Ia memiringkan kepalanya, jidatnya menimbulkan kerutan ketika sosok yang muncul dari balik kaca mobil itu memandangnya dengan raut yang tak terbaca dan itu membuat Clairy tidak suka. Ia benci menerka-nerka, terlebih jika sesuatu yang mungkin ia bayangkan adalah kebenaran.
"Aku tidak menunggu selama ini hanya untuk dikecewakan, Melvin." air matanya menggenang di pelupuk, tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Ia benar-benar kecewa.
°°°
Tebak, kira-kira Juan berulah apa lagi?
Clairy kalo ada nominasi best sabar person kayaknya menang deh. Udah dua judul dapet kecewa mulu, mending sama Melvin aja gak sie HAHAHA.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIGA BULAN. (END) | Jeno x Karina
RomanceRencananya untuk bekerja tidak pernah ia sangka akan berujung dipertemukan dengan mantan kekasih yang telah menyakitinya bertahun-tahun lalu. Tidak hanya dipertemukan sehari dua hari, tetapi setiap hari selama tiga bulan dalam satu atap yang sama...
