Senja kini menghiasi langit Korea Selatan, seminggu sudah berlalu begitu saja. Keluarga Seulrene sudah kembali ke rumah mereka. Tepat hari ini Irene dan Seulgi akan bertemu dengan Karina. Semenjak Irene meminta Seulgi untuk menikahi Karina, belum sekalipun Seulgi bisa menemukan keberadaan Karina. Namun saat Irene yang menghubungi, Karina dengan cepat membalas dan bersedia untuk bertemu.
Cafe yang sama terakhir kali mereka bertemu menjadi pilihan Irene dan Seulgi. Kang Hyun mereka titipkan di rumah orangtua Irene. Tidak menunggu lama, Karina datang dengan orangtuanya. Ini keinginan Irene, sebagai seorang wanita, Irene hanya menyayangkan kesucian Karina hilang begitu saja karena kesalahan.
"mianhe Eonni, tadi kami terjebak macet di persimpangan" kata Karina
"it's okay, duduklah..emm Tuan, Nyonya duduklah. ekhem...perkenalkan aku Irene, dan ini Kang Seulgi..suamiku, mungkin untuk Tuan tidak asing dengan suamiku ini. benar begitu?" jelas Irene
"benar, dia Kapten Kang. huh sebenarnya saya tidak mengerti mengapa Karina memaksa untuk kami ikut di pertemuan ini. apa yang terjadi?"
Seulgi memandang Irene, namun Irene tidak pedulikan itu. Dia menatap yakin ke depan melihat lawan bicaranya. "aku menginginkan suamiku untuk menikahi putri kalian, Karina" lantang Irene
Karina melotot kaget, perbincangan terakhir bersama Irene bahkan tidak membahas sama sekali mengenai pernikahan. "Eonni, ani ani aku tidak mau..Eonni aku sudah bilang padamu untuk tidak memperpanjang masalah ini. aku sudah meminta maaf dan tidak akan pernah bertemu dengan suamimu lagi" bantah Karina
"sebentar, sebenarnya ini ada apa?" kata Eomma Karina
Irene menarik nafasnya, setelah tenang, "aku hanya ingin...hem, huh suamiku bertanggung jawab pada anak Tuan dan Nyonya..maaf jika aku terkesan memaksa, tapi menurutku, kesucian seorang wanita itu sangat berharga. suamiku bersalah disini, dan aku ingin dia bertanggung jawab" jelas Irene
"kesucian? Ya Tuhan..Karina jangan katakan jika kau?" tanya Appa Karina dengan kesal. "mianhe" ucap Karina.
"Kang Seulgi sialan!" teriak Appa Karina.
"Appa sudah sudah malu Appa, citra Appa sedang buruk ingat ini..mianhe, jika ingin marah nanti saja dirumah. Karina akan terima amarah Appa" lirih Karina
"apa kau hamil Karina?" tanya Eomma Karina. Karina menggeleng, dia menangis.
"mianhe, saya yang salah..sebenarnya saya juga tidak mau menikah dengan Karina...ini permintaan....."
"ssstttttt Seulgiyaa" instruksi Irene
Irene menatap orangtua Karina kembali, "suamiku mabuk saat itu, dia melihat Karina sebagai aku. aku meminta mereka menikah karena aku menghargai kesucian Karina yang direnggut suamiku. seorang wanita sangat berharga Tuan, Nyonya. aku hanya ingin suamiku bertanggung jawab atas perbuatannya. hanya itu" ungkap Irene
"kau akan di madu nak, tidak ada istri yang rela berbagi kasih sayang suami" ucap Eomma Karina. "aku sudah memikirkan baik dan buruknya selama satu bulan ini. ini keputusanku, hasilnya aku kembalikan pada Karina, Tuan, dan Nyonya" balas Irene
Semua menatap Karina, menunggu apa yang akan dia ucapkan.
Jika di Cafe sedang berbincang mengenai rumah tangga Seulrene. Maka di kediaman Jenlisa, mereka sedang menikmati masakan yang dibuat Jennie. Anak-anak makan dengan tertib, Lisa membantu menyuapi Hana sedangkan Lian di suapi oleh Jennie.
"karena Daddy sudah bisa berjalan, besok Hana dan Lian akan Daddy ajak bermain di taman. biarkan Mommy bekerja" bisik Lisa diakhir kalimat.
Benar, Lisa sudah kembali bisa berjalan. Tanpa kruk, namun beberapa saat suka merasa nyeri, tapi itu normal dan tidak berlangsung lama. Jennie terus memberi semangat selama ini, dia gigih membuat Lisa juga malu jika dia harus malas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Wedding Story
RomanceIn marriage, it's not about finding someone you can live with. It's about finding someone you can't live without. Lika-Liku perjalanan pernikahan Lalisa Manoban seorang Kapten Pilot Korean Air dan Jennie Kim seorang Dokter Anak di Asan Medical Cente...
