°Chapter6

4.3K 214 7
                                        

Sore ini Liel akhirnya pulang setelah bersusah payah membujuk mamanya agar pulang lebih cepat. Tadinya ia hampir gagal pulang karena Herry yang melarang, namun pada akhirnya ia berhasil menang walau calon ayahnya itu memaksa untuk ikut bersama mereka pulang ke rumah dengan alasan ingin memastikan mereka sampai di rumah dengan aman, cuih.

Sekarang mereka sedang berkumpul di ruang tamu sedangkan Sera tengah menyiapkan makan malam. Herry sudah menyarankan untuk memesan makanan saja namun Sera menolak karena sedang tidak ingin makanan cepat saji apalagi Liel yang baru saja sakit.

Gama berniat pergi ke kamar untuk membersihkan diri namun baru saja beberapa langkah, Liel sudah memanggilnya.

"Hm?"

"Mau ikut," pintanya.

"Ngapain? Kata dokter belum boleh mandi."

"Ya nggak mandi, cuman ganti baju doang,"

Satu alis Gama terangkat. "Tadi udah ganti baju, Liel." Benar, sebelum meninggalkan ruangannya Liel sudah ganti baju lebih dulu.

Liel yang sudah ketahuan bohongnya masih tetap mengelak. Dia ingin kamarnya!

"Udah keringetan lagi tau!"

"..."

Gama sama sekali tidak melihat keringat di wajah adiknya. Ac rumah mereka juga menyala dengan suhu cukup rendah agar Liel yang baru sembuh tidak terlalu kedinginan. Gama tidak mengerti mengapa adiknya sangat bersikeras.

Sementara itu Herry yang melihat serta mendengar percakapan keduanya tersenyum kecil. Suka dengan sikap calon putra pertamanya yang mengintimidasi calon anak bungsunya. Betapa beruntungnya dia nanti memiliki keduanya walaupun mereka bukan darah dagingnya.

"Gama, pergi saja. Liel akan tetap di sini," ujarnya menghentikan pembicaraan keduanya.

Tanpa mengatakan apapun lagi Gama akhirnya pergi meninggalkan Liel yang mengumpat kecil setelahnya. Liel menatap sinis Herry yang menjadi alasan kakaknya menolaknya. Ia mengubah posisi berbaringnya yang tadi menghadap ke arah Herry menjadi memunggungi nya. Syukurlah bundanya membeli sofa yang sangat empuk dan cukup luas sehingga ia tidak merasa sakit saat berbaring di sini.

"Jangan berbaring seperti itu. Tidak nyaman untuk tubuhmu," tegur Herry.

Walaupun Liel tidak merasa sakit, namun posisinya ini memang tidak nyaman. Kakinya yang sedikit menekuk juga tangannya yang menekuk serta terhimpit tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Namun, karena Liel itu bebal ia tidak peduli teguran Herry.

"Lielo Laurent."

Liel membuka matanya mendengar panggilan itu. Laurent bukan nama belakangnya. Liel bangun dan langsung menatap calon ayahnya yang baru saja salah menyebutkan namanya.

"Leyard." Tegasnya. Leyard adalah turunan dari nama keluarga ayahnya. Sementara Laurent, dia tidak tahu itu nama keluarga siapa.

"Sebentar lagi itu akan berubah menjadi Laurent. Kau harus menyandang itu di belakang namamu setelah papa menikah dengan mamamu."

"Nggak mau!" Tolaknya mentah-mentah.

Herry tersenyum kecil namun malah menyeramkan untuk dilihat.

"Kau tidak berhak menolak, boy."

Setelah mengatakan itu, Herry bangkit dan pergi ke ruang makan karena Sera sudah memanggil. Ia meninggalkan Liel yang tangannya mengepal menahan amarah.



_______________
Tbc>>

Eyyo, update lagi nih! Pa kabar semua??

Belakangan ini wp kalian error nggak sih? Soalnya punyaku tiba-tiba ceritanya suka ilang gitu jadi nggak bisa nulis dan harus di uninstall dulu. Apa hp akunya kali ya?

Untuk yang masih setia nungguin cerita aku, yang masih kasih dukungan buat aku, itu bener-bener berarti dan buat aku makin semangat nulis. Thank you ya semuanya. Jujur aja masih banyak yang harus di revisi dan akan ku revisi nanti terkhusus story Arendra itu bener-bener pr banget buat aku.

See you next part 👋



Life of Liel [Hiatus]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang