Airish Montgomery atau sebut aja Iris adalah gadis muda berdarah asli Indonesia dengan paras manis dan tubuh yang cukup berisi. Penyuka K-Pop dan pecinta kucing garis keras, saat ini dia baru menginjak usia 18 tahun dan baru saja akan memulai kehidupan nyatanya sebagai budak korporat.
Iris adalah anak kedua dari tiga bersaudara, bukan dari kalangan orang berada atau konglomerat seperti cerita dinovel-novel yang suka ia baca. Ia hanya gadis yang berasal dari keluarga biasa saja dan bukan pula orang terpandang.
Sore itu berjalan seperti biasanya, langit sedikit mendung menandakan hujan akan segera turun. Iris baru saja resign dari pekerjaannya dan mendapat tawaran untuk langsung bekerja ditempat yang baru bersama dengan salah satu temannya semasa SMP, Ayesha Griffin. Dengan bantuan Tante dari temannya itu mereka pun bisa langsung interview. Kabar dadakan itu tentu saja membuat Iris merasa sedikit terkejut dan belum mempersiapkan diri untuk meninggalkan keluarganya dan pergi merantau.
"Serius malem ini?" Ujar Iris dengan penuh keraguan, sebelumnya Iris tidak pernah meninggalkan keluarganya untuk pergi ke tempat yang jauh. Iris dan keluarganya memang sangat dekat terlebih dengan Ibunya, karena itulah dia merasa berat hati untuk meninggalkan keluarganya.
"Iya, lo siap-siap sekarang. Bawa buku tulis, baju hitam putih, terus peralatan mandi lo. Ya pokoknya bawa yang menurut lo penting aja nanti sisanya dibawa belakangan aja, kostannya juga masih belum dibersihin sama tante gue"
Iris mengangguk setelah mendengar ucapan Ayesha. "Yaudah kalo gitu, gue mandi dulu, nanti gue kabarin kalo gue udah mau on the way kerumah lo"
Ayesha hanya mengangguk dan mematikan panggilan tersebut. Iris mengusap wajahnya dan mencoba meyakinkan hati untuk segera bersiap-siap, tidak lupa juga memberi tahu kedua orang tuanya kalau dia sudah mendapatkan pekerjaan baru dan harus merantau. Meskipun terkejut, Ibunya tetap membantu Iris mempersiapkan barang-barang yang diinstruksikan oleh Ayesha untuk dibawa. Setelah mandi dan berganti baju, Iris berpamitan kepada kedua orangtuanya untuk pergi kerumah Ayesha.
"Hati-hati ya sayang, jaga diri kamu baik-baik karna disana ngga ada Ibu yang bisa memantau kamu. Ibu percaya kamu bisa. Sebelum interview tolong baca doa dulu ya, Nak, Ibu doakan yang terbaik untuk anak gadis Ibu satu-satunya. Insyaallah jalanmu dipermudah jika niatmu mulia.." Nasihat Ibu membuat Iris sedih dan sedikit berkaca-kaca. Dengan cepat Iris memeluk tubuh Ibunya dan berterimakasih untuk seluruh doa yang sudah dipanjatkan Ibu untuknya. Setelah berpamitan dengan seluruh keluarganya, Iris pun melangkahkan kaki dan pergi kerumah Ayesha.
Diperjalanan menuju rumah Ayesha, Iris merenung dan berpikir apakah ini jalan yang harus dia tempuh ketika sudah dewasa? Apakah pilihan ini benar-benar pilihan yang memang dia pilih, tapi, Iris kembali berpikir, dia sudah ada ditengah-tengah dan sudah tidak memungkinkan untuk mundur lagi. Pilihannya hadapi dan lewati. Iris memejamkan matanya sembari menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya..
Lontaran pertanyaan dari Gojek yang ditumpanginya membuatnya tersadar, "Neng, mau ke Bogor kerja atau apa?" Iris membuka matanya dan menjawab dengan ramah. "Iya, kerja, Pak. Kebetulan harus merantau jadi ya gitu deh.."
Obrolan berlanjut dan Driver itu benar-benar membantu Iris merasa tenang dari kekalutan yang sebelumnya memenuhi relung hatinya. Sampai dirumah Ayesha, Iris langsung turun dan tidak lupa untuk berterimakasih kepada Drivernya. Iris mengucapkan salam dan masuk kedalam rumah Ayesha, dengan sambutan seadanya Iris pun duduk di sofa berwarna coklat sembari menunggu Ayesha yang masih bersiap-siap.
"Ris, nanti nyokap mau ngobrol-ngobrol sama lo dulu tuh katanya" Iris hanya menganggukan kepalanya sembari menatap langit-langit rumah Ayesha. Dalam hati ingin berkata tidak, mengingat ucapan Ibunya Ayesha seringkali membuatnya merasa sakit hati, tapi itu orang tua dan Iris takut dianggap tidak sopan.
Hampir 30 menit Iris mengobrol dengan Ayesha hingga akhirnya Ibunya Ayesha mendominasi topik obrolan diantara mereka. Diberikan instruksi mengingat yang membantu Iris bekerja adalah Adiknya Ibu Ayesha, Iris tidak boleh macam-macam karna dia berhutang budi. Iris hanya mengangguk dan mengiyakan segala macam ucapan yang dilontarkan kepadanya. Dalam hati sedikit jengkel tapi lagi-lagi Iris tetap harus berterimakasih karna Iris merasa sudah dibantu, takut kalau dia akan dicap sebagai orang yang tidak tahu diri apabila menjawab ucapannya dengan kata-kata yang sudah mengganjal di tenggorokannya.
"Ya, Iris, Ya. Ibu sih berharap kamu gak akan macam-macam karna siapa juga sih yang akan menerima lulusan SMK kayak kamu." Meskipun sakit hati, Iris menelan ucapan itu dan tersenyum singkat.
Obrolan itu pun berakhir karna Ayesha menjawab dengan tegas ucapan Ibunya. Ayesha tahu betul aku orang yang mudah tersinggung, Iris merasa harus berterimakasih kepada Ayesha karna dia sudah menyelamatkan Iris dalam situasi seperti itu. Benar-benar menguji kesabarannya.
Mereka pun akhirnya pergi, sepanjang perjalanan obrolan mengalir dengan santainya. Seolah mereka tidak memiliki beban dan mendapatkan kebebasan setelah menjadi tahanan dirumah. Ayesha benar-benar penolong untuk Iris, Iris menganggap Ayesha sudah seperti saudaranya sendiri meskipun dia tidak menyukai keluarga besarnya. Iris benar-benar menyayangi Ayesha hanya saja tidak pernah berani untuk mengatakannya.
Sejak mereka berada disekolah menengah, Iris memang hanya dekat dengan Ayesha. Bahkan seringkali mereka dicap sebagai anak kembar karna tidak jarang mereka terlibat masalah berdua, yang sudah tidak asing adalah masalah absensi.
Iris anak yang cukup pintar dan Ayesha pun sama. Mereka selalu bertukar pikiran karena pandai dibidangnya masing-masing, Iris pintar Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sementara Ayesha pandai Matematika dan fisika, Iris kebalikannya.
Mereka berdua saling membutuhkan.
Udara malam itu lumayan sejuk, jalanan lumayan padat dengan banyaknya Pekerja yang baru pulang dan orang-orang yang sedang bermalam-mingguan. Dipertengahan jalan rintik-rintik hujan menemani perjalanan mereka, hujan tidak berselang lama dan kembali berhenti ketika mereka sudah memasuki kota Bogor.
Ayesha melajukan motornya dengan lebih cepat karna takut hujan akan kembali turun. Setelah mengurus berkas lamaran dan sebagainya mereka pun langsung menuju rumah tantenya Ayesha, entah siapa namanya karna Iris memang tidak mengenalnya. Sampai disana mereka disambut oleh keluarga dari tantenya Ayesha. Iris benar-benar sangat bersyukur karna dia diterima dengan baik dikeluarga yang masih sangat asing untuknya.
Mereka dipersilahkan untuk beristirahat setelah shalat isya dan bersih-bersih. Selepas itu, Iris langsung mengabari kekasihnya kalau dia sudah sampai disana, dan karena sudah kelelahan dijalan, Iris pun langsung tertidur malam itu.
Iris hanya berharap, esok adalah hari yang akan membuatnya merasakan kenikmatan hidup. Setidaknya dari sekian banyaknya sakit yang ia terima, ia berharap ada sedikit percikan yang akan membuatnya bahagia.

KAMU SEDANG MEMBACA
At the first sight.
Teen FictionAirish Montgomery, hanya berharap kehidupannya akan berubah ketika dia meninggalkan keluarganya untuk berkerja. Setelah mengalami berbagi macam konflik dan perang batin yang mencekam pada akhirnya ia benar-benar menemukan sumber kebahagiaannya.