****
Setelah pulang dari kegiatan sekolah, Ansara meminta pada Daren untuk tidak segera kembali ke Mansion. Setelah absen selama hampir dua minggu, membuat gadis kecil itu merasa bosan jika kembali ke Mansion lebih cepat. Ditambah hari ini merupakan periode pertama Ansara, dimana gadis itu akan semakin manja dari biasanya.
Jadi mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu di sebuah cafe di samping AHS, masih bagian dari properti Aldrich. Cafe yang di bangun oleh Daren, sesuai keinginan Ansara.
"Kakak lihat, gadis itu menatap An tak suka." Daren mengalihkan atensinya sesuai yang di tunjuk oleh Ansara. Sebenarnya tidak ada yang salah, gadis itu memang duduk di posisi dia seperti melihat kearah Ansara. Ya, walaupun perempuan itu memang melihat Daren penuh kagum.
Daren menatap tajam kearah perempuan yang tidak disukai oleh Ansara, membuat ia merasa takut saat di tatapan dengan penuh permusuhan oleh Daren.
Kevin hanya mendesah melihat, kelakukan dari dua sejoli di hadapannya ini. Dia kembali mengalihkan atensinya, pada Tab di tangannya. Melihat kenaikan saham yang di investasikan mungkin akan lebih menarik, daripada melihat keromantisan sahabat dan tunangannya pikir Kevin dalam hati.
"Bangsat sih Ren," umpat Louise kesal.
"Tasya gak ada, gue gak bisa manja-manja kayak lo." Keluh Louise kembali.
"Jaga bicaramu, Lou." Ingat Daren menatap tajam sahabatnya itu.
"Sorry,, gue kelepasan." Sesalnya, ia kembali menikmati semangkuk ice cream cokelat. Ia mengedarkan atensinya untuk melihat sekeliling Cafe ini. Louise berdiri setelah melihat Tasya ada di depan pintu masuk.
"Gue kesana dulu, Tasya udah sampai." Louise berjalan meninggalkan meja itu. Dan, mereka yang berada disana hanya diam tanpa menjawab ucapan Louise.
"An, bagaimana jika kakak menelpon Dokter Farla?" Usul Daren pada sang kekasih.
Ansara mengeleng keras, "tidak mau, elus dibagian ini." Titah nya pada Daren. Lihatlah, hanya gadis kecil dengan bandana merah muda yang mampu bertindak sesuka nya pada pewaris tunggal Aldrich.
Daren mengelus pelan perut rata milik Ansara, membuat gadis itu perlahan memejam mata. Karena sentuhan yang diberikan Daren seperti sebuah mantra yang mampu meredakan nyeri pada bagian perut Ansara.
"Lekaslah, menghilang rasa sakit yang mendera Ansara." Ucap Daren lembut, kalimat itu ia ucapkan berkali-kali. Sampai membuat Kevin tersenyum tipis, pewaris Aldrich itu sangat terlihat menggemaskan saat bersikap manis seperti saat ini.
"Bagaimana An, masih sakit." Ucap Ares cepat, ia memang baru bergabung karena harus mengantar Capella ke tempat kerja nya.
Daren menaruh jari telunjuk di atas bibirnya, menyuruh Ares untuk menelan suara cowok itu. Daren masih terus mengelus lembut dahi Ansara. Gadis kecil pasti kelelahan.
Ares menjatuhkan diri di samping Kevin, ia menyandarkan kepala dan memejamkan matanya sejenak.
"Ada apa?" Tanya Daren, ia dapat melihat jika Ares saat ini sedang risau. Pupil mata sahabatnya itu dapat menjelaskan segalanya dengan hanya sekali lihat.
Kevin menoleh, saat mendengar pertanyaan yang di lontarkan Daren.
"Lo ada masalah?" Tanya Kevin juga. Ares masih diam menikmati posisiny saat ini. Dia belum berminat menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya.
Ares menegakan tubuh, melihat keduanya secara bergantian. "Tidak ada, hanya sedikit masalah percintaan." Ujar Ares, cowok itu tersenyum jahil.
Ponsel milik Kevin bergetar, mereka melihat pada layar ponsel itu. Hanya ada inisial "N". Kevin mengambil cepat ponsel itu, menolak panggilan itu, dan memasukan ponsel miliknya kedalam saku jas sekolah.
"Sepertinya dia merindukanmu, Vin." Ledek Ares. Ia menyenggol bahu Kevin.
"Kalian tahu, sejujurnya, bukan permasalahan percintaan yang membuat gue berpikir. Gue dan Capella tidak ada masalah," papar Ares kepada keduanya.
"Tadi, saat menemani Capella menebus obat untuk ayahnya. Aku melihat Qianna," tambahnya lagi.
Kevin yang hendak menyeruput kopi hitamnya, menghentikan pergerakan tangannya. Meletakan gelas itu diatas meja.
"Dimana?" Ucap Kevin samar.
"Rumah sakit," jawab Ares.
"Gue gak yakin itu dia, tapi, gue melihat dengan jelas bibi Ratna Manggala bersamanya. Mendorong kursi roda yang di duduki gadis menggunakan kupluk putih di kepalanya." Beritahu Ares secara detail.
"Vin, apa selama ini Qianna sakit?" Ucap Ares lirih.
Daren berdeham, ia masih mengelus pelan surai hitam Ansara. Gadis itu bergerak dan kembali memeluk pinggang Daren dengan erat.
"Kau sudah bangun sayang?" Ucap Daren. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan mereka sebelumnya, Daren tahu jika Kevin tidak nyaman dengan pertanyaan yang dilontarkan Ares.
Perpisahan secara tiba-tiba yang di alami Kevin, memang meninggalkan luka yang cukup dalam. Cowok yang memiliki sikap acuh itu, begitu mencintai gadis yang merupakan sahabat Ansara sejak kecil. Bahkan, Ansara menangis selama beberapa hari setelah mendapati kabar hilang nya kabar tentang Qianna.
"Kak, An, ingin makan." Pinta Ansara.
Daren menekan telinga bagian kanan, mengucapkan keinginan Ansara untuk segera di pesan oleh James. Tentang Mark, pria bertubuh besar yang merupakan pengawal pribadi Ansara, dia masih menjalani hukuman yang diberikan oleh Daren untuk menjaga dan merawat Merlin sampai batas waktu yang Daren sendiri belum tentukan. Kemarahannya masih membekas hingga saat ini, jika bukan karena Ansara yang pasti suatu saat akan menanyakan keberadaan Mark, mungkin saat ini pria itu tidak akan melihat lagi bagaimana bentuk dari matahari terbit.
"Abang, teh hijaunya, tidak mau pahit." Keluh Ansara, saat meminum sedikit teh hijau yang dibawa Ares.
"Tolong, tambahkan satu sendok gula, Res." Ujar Daren.
Ares langsung membuka tas milik Ansara, untuk mengeluarkan gula yang memang khusus digunakan oleh Ansara. Gadis itu tidak boleh mengkonsumsi hal manis berlebihan, maka dari itu, Hellena Aldrich menyiapkan seorang ahli gizi untuk menentukan berapa banyak makanan yang menjadi asupan Ansara setiap harinya.
"Bagaimana sudah manis?" Tanya Ares.
Ansara mengangguk, "terimakasih Abang, ini sangat nikmat." Puji Ansara, sebenarnya Ansara tidak ingin manja apalagi di usia yang sudah akan menginjak dewasa. Namun, rasa sakit di bagian perutnya membuat dia menjadi lebih sensitif dalam segi apapun saat ini.
****
Kevin memasuki kamar dengan nuansa hitam, ia menatap datar sebuah foto besar di ruangan pribadi nya itu.
"Kau kembali, Ki?" Gumamnya sendiri.
"Kau sudah tahu bukan konsekuensi apa yang akan kau dapat, jika kembali berada di radius sekitarku?" Ucap Kevin monolog.
Kevin menerawang jauh, ia tersenyum miris. Kenangan manis bersama Qianna membuat mata cowok itu berkaca-kaca jika mengingatnya kembali.
Bagaimana bisa Qianna meninggalkan Kevin begitu saja, jika hal buruk menimpa gadis itu, seharusnya dia bisa beritahu Kevin karena tidak mungkin, Kevin membiarkan gadis itu menderita.
Patah hati yang dialami Kevin, membuat Carolina yang memberikan perhatian lebih mampu membuat Kevin bisa melupakan sedikit kesedihannya atas kepergian Qianna yang menghilang tanpa kabar secara tiba-tiba.
Wanita yang terpaut usia 8 tahun dengan Kevin itu, mampu membuat Kevin merasa tenang dan nyaman. Bahkan sedikit lagi mungkin Kevin bisa melupakan Qianna secara perlahan. Jika bicara soal perasaan, hingga saat ini, Kevin hanya menganggap Carolina teman ranjang nya tidak lebih. Kevin memiliki uang dan Carolina membutuhkan uang, jadi bukankah mereka adalah pasangan mutualisme.
Cinta nya masih untuk Qianna Manggala, gadis yang mampu meruntuhkan sikap acuh nya. Gadis yang mampu memutar balikan dunianya. Anggap saja Kevin tidak memiliki hati. Membawa Carolina masuk kedalam hidupnya sebagai alat untuk melupakan Qianna.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villain
Roman d'amourHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
