Di kediaman Oma Zeya, kini tepat di ruang makan, meja makan berbentuk persegi itu di penuhi piring-piring yang telah habis isinya, artinya mereka telah selesai makan malam.
“Dari mana tadi Zey?” Tanya oma pada sang cucu, karena biasanya Zeya pulang sore karena mengerjakan tugas kelompok.
“Dari rumah temen, ada yang lagi sakit.” Kata Zeya, tidak lupa dia skip bahwa tadi dirinya bolos, kalau oma tahu, bisa di potong uang jajannya.
“Yang penting Zeya nggak keluyuran Ma, biarin aja!” Kata tante Nita mencoba membela Zeya.
“Aku besok harus ke luar kota Ma.” Lirih tante Nita dan oma pun hanya mengangguk.
“Yaudah.” Oma tampak menghela nafas, artinya beliau harus siap menjaga Brandon.
“Brandon gimana?” Tanya tante Nita, dia tahu anaknya yang super nakal itu, pasti aksn merepotkan orang se-rumah.
“Dia di sini sama mama.” Walau Brandon nakal, oma tetap siap menjaganya.
Malam ini Brandon sudah tidur pulas, karena dari pagi sampai Sore tidak berhenti bermain, malamnya jadi kelelahan.
“Mas Fahmi minta aku rujuk Ma.” Kata tante Nita lirih.
“Jangan gila kamu Nita!” Suara kma sekarang naik satu oktav, urat-urat leher beliau sampai menyembul, saking geramnya beliau.
“Ingat apa yang sudah dia lakukan dulu.”
“Mama nggak mau hal yang sama terulang lagi!” Kata oma sambil menggertakkan giginya.
“Tapi Ma aku kasihan sama Brandon.” Tante Nita menyampaikan alasannya.
“Apa yang perlu di kasihan?” Mata oma melotot, saat menatap tante Nita. Zeya bergidig takut sekali bola mata itu meloncat keluar dari rongganya.
“Dia selama ini baik-baik saja!”
“Jangan katakan dia butuh seorang ayah!”
“Kamu tidak lihat Brandon tidak pernah di pedulikan dulu.” Walau nakal, oma tampak iba pada Brandon yang kurang mendapat perhatian sang ayah sejak kecil.
“Ma, tapi Ma.” Tante Nita tidak tahu harus mengatakan apalagi, dadanya sesak, air mata yang telah terbendung sedari tadi akhirnya luruh juga.
Oma sudah beranjak dari sana, beliau benar-benar marah.
“Yang sabar tante.” Hanya itu yang bisa Zeya katakan untuk menenangkan tantenya yang mulai terisak.
“Kamu tahu Zey, sejak dulu oma selalu begitu, otoriter.”
“Kalau saja nggak ada sikap itu sama oma, mungkin kamu masih bisa ketemu sama orang tua kamu.” Tante Nita menyampaikan keluhannya tentang sikap oma yang menurutnya berlebihan.
“Maksud tante?” Zeya bingung dengan apa yang tantenya maksudkan.
“Tante ke kamar dulu ya Zey. Mau beres-beres buat besok.” Tante Nita pun pergi dari sana.
“Tante..” Lirih Zeya, melihat tantenya yang terus berjalan tanpa menengok ke belakang lagi.
Kenapa sesuatu yang berkaitan dengan orang tuanya selalu di tutupi.
Zeya tidak suka begitu, dia butuh penjelasan.
Saat oma sedang marah, Zeya tahu di mana oma berada, dia hafal tindak tanduk omannya karena sedari kecil oma sudah seperti seorang ibu bagi Zeya.
Oma sekarang berada di ruang kerjanya, dan benar saja ketika Zeya mengetuk pintu, oma menyuruhnya masuk.
“Oma, Zeya mau tahu di mana makam mama papa?” Kata Zeya, tanpa berani menatap omanya, dia tertunduk.
“Zeya mau ke sana Oma, Zeya ingin tahu!” Secara perlahan Zeya mengangkat kepalanya, kemudian menetap mata sayu milik omanya, dia ingin membaca apa saja yang ada di sana, mungkin tentang orang tuanya.
“Jangan sekarang Zeya, Oma pusing.” Kata oma sambil memijit kepalanya.
"Kapan oma, saat oma sudah tidak ada?” Kata Zeya, mulai berani.
“Zeya!!” Suara Oma meninggi, mata oma berkilat-kilat, tandanya menyuruh Zeya diam.
“Suatu saat nanti kamu pasti akan bertemu dengan mereka. Sekarang lebih baik kamu tidur, tidak udah memikirkan yang tidak perlu.” Kata oma, kembali melembut.
“Iya oma. Oma juga harus tidur katanya tadi pusing.” Zeya memutar pembicaraan sebelum akhirnya keluar dari ruang kerja oma.
Bagaimana mungkin dia tidak berpikir? Apakah menurut oma orang tuanya tidak penting.
Keinginan terbesar Zeya saat ini hanya ingin bertemu mama dan papanya, walaupun tidak bisa melihat wajah mereka setidaknya dia tahu di mana makam mereka.
Ya, keinginan Zeya se-sederhana itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZEYA [TERBIT]
Teen FictionApa yang kamu tahu tentang seorang Zeya? Jelas saja tidak tahu apa-apa. Bukan hanya orang asing di luar sana yang tidak mengenal Zeya. Bahkan Zeya sendiri tidak kenal dirinya sendiri. Zeya bahkan tidak tahu orang tuanya siapa. Zeya seperti asing bag...
![ZEYA [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/373573814-64-k614384.jpg)