"Bertemu kembali di kehidupan selanjutnya sebagai dua orang yang ditakdirkan bersama, itu adalah impianku"
Satu persatu krisan putih saling berdatangan. Menghiasi setiap sudut bingkai foto sang Putri Tidur yang nampak cantik dengan senyum merekah menambah kesan teduhnya. Ucapan dari mulut ke mulut terus bersahutan. Ruangan itu nampak sunyi namun disaat bersamaan ramai oleh kalimat bela sungkawa. Isak tangis tak lagi terdengar setelah satu per satu tamu undangan pergi dari hadapan keluarga yang ditinggalkan.
Hilang. Seokjin rasa ini hanyalah bunga mimpi belaka setelah tersadar saat guci abu berada didekapannya untuk disimpan di pemakaman, berjejer rapih bersama guci lain. Kim Jisoo, nama itu terukir halus pada badan guci tersebut. Tempat terakhir yang nyaman dan tanpa sesaknya dunia luar.
"Datanglah kerumah kami, adeul. Rumah kami akan selalu terbuka untukmu"tutur EunRa, Ibu dari Jisoo, melihat Seokjin yang terus memandang guci istrinya dengan tatapan kosong
"Kamsahamnida, Eommonim. Aku hanya ingin.. pulang kerumah 'kami'."
Hening. Rumah hangat itu berubah menjadi rumah tanpa adanya tanda-tanda kehidupan. Atmosfer yang tak seperti pada biasanya kini Seokjin harus bergelut dengan suasana ini. Kesepian akan menjadi teman bagi dirinya kedepan. Dilihatnya setiap sudut, berharap sosok yang ia cari ada di sana.
Sesudah peristiwa hari itu, dimana mobil yang dikendarai Jisoo terbakar hebat hingga dinyatakan oleh pihak berwenang bahwa 2 orang menjadi korban kecelakan tersebut, termasuk mendiang yeoja itu. Diduga salah satu korban ialah seorang ibu hamil yang sedang menunggu bus di halte yang Jisoo tabrak tempo itu.
Dan Solbin? Entahlah. Ia hilang bagaikan hantu bersama belati yang menjadi saksi perbuatan kotornya. Autopsi selesai dan keesokan harinya pemakaman diadakan. Rasa pilu tak terpampang di wajah tampan Seokjin melainkan rasa bersalahlah terus menghantuinya
"Dia sangat menyukai bunga ini"lirih Seokjin memandangi peony yang telah layu masih terpajang rapih di meja ruang tamu. Memori dimana Jisoo pertama kali mendapatkan sebuket bunga dari dirinya kembali berputar. Begitu indah dan hangat.
Disentuhnya bunga cantik yang telah layu. Ia harus membuangnya, namun hatinya berkata tidak. Sangat disayangkan jika dibuangnya, pikir lelaki itu. Layaknya peninggalan terakhir yang istrinya itu tinggalkan di rumah yang senyap ini.
"Akh.. kenapa datang disaat yang salah"pekik lelaki itu memijat pelan pelipisnya
Tiba-tiba pening menjalar kepala Seokjin. Ia hanya minum seteguk soju tadi, tapi mengapa efeknya seberat ini. Lelaki itu memutuskan untuk pergi ke kamarnya- tidak, kamar mereka. Dengan langkah gontai Seokjin menyusuri anak tangga. Hening. Hatinya merasa terisis ketika memasuki kamar tersebut
Saat tangan lelaki itu membuka kenop pintu kamar mandi, kotak kecil biru menarik atensinya. Ia masih ingat tentang 'sesuatu' yang akan istrinya berikan pada hari kemarin, lebih tepatnya hari dimana kecelakaan itu terjadi. Dan dirinya tidak berfikir untuk memeriksa kamar mandi ketika dirinya mencari-cari? Itu tidak ada dalam benaknya pada saat itu.
Langkahnya yang masih gontai meraih kotak biru yang berada di atas wastafel. Sebuah alat bergaris dua semakin membuat lelaki itu kebingungan, hingga secarik kertas mampu mengoyak hati Seokjin
'Annyeong, Appa!'
Hanya dua kata itu yang dapat membuat Seokjin merasa mendapatkan duka yang tiada ujungnya. Ia fikir jika ini semua adalah pembalasan Tuhan yang diberikan untuk dirinya. Sebuah ganjaran yang harus ia terima. Mulut lelaki itu mulai meracau tidak jelas sembari memukul kepalanya.
Tawa lepas, ungkapan cinta, dan rasa hangat Jisoo entah mengapa datang memasuki pikirannya bagaikan kaset tua rusak yang diputar kembali. Rasanya seperti hari kemarin mereka saling mengungkapkan rasa cinta satu sama lain. Itu hanya akan menjadi memory bagi dirinya seorang, sepanjang hidup.
"Kau bodoh Kim Seokjin, kau bodoh. Kau biarkan Jisoo pergi begitu saja.."
Tangisnya membuncah ketika mengetahui fakta jika istrinya telah pergi selama-lamanya dengan keadaan hamil mengandung anak mereka.
•••
Suara yang dihasilkan oleh Elektrokardiograf menggema di satu ruangan berbalut cat putih. Hanya suara dari mesin itu yang menemani namja yang tengah terduduk di depan seorang yeoja yang terbaring lemah. Berbagai alat medis menopang hidup dan mati yeoja tersebut.
Disentuhnya tangan pucat nan dingin itu. Sebuah cincin melingkar indah di jari manisnya yang putih. Setiap detik, menit, dan jam, namja itu selalu berdoa agar yeoja dihadapannya segera membuka mata cantiknya segera.
"Ini sudah hari ketiga. Apa kau tidak ingin melihat musim semi lagi?" lirihnya, mentap sayu pada wajah pucat yeoja itu.
Tiba-tiba suara pintu terbuka, pikiran namja itu buyar seketika setelah seorang nurse mengunjungi kamar tersebut.
"Permisi Tuan, saya akan melakukan pemeriksaan rutin"ucap nurse yang dijawab anggukan lirih dari namja itu
Seperti yang dikatakan sebelumnya, nurse tersebut mulai melakukan pemeriksaan rutin untuk mengecek keadaan vital pasien. Setelah semua yang dilakukan prosedur terpenuhi, nurse tersebut telah bersiap untuk pergi dari hadapan namja yang menatapnya sendu. Namun langkah kakinya terhenti ketika namja tersebut membuka suara.
"Berapa lama lagi pasien ini akan sadarkan diri?"tanya namja itu penuh harap
"Kami tidak dapat memastikan hal itu, Tuan. Hanya pertolongan Tuhan yang dapat membantunya. Saya permisi"lalu nurse tersebut melenggang pergi, meninggalkan namja yang kembali terduduk lemas
Apa yang dikatan nurse itu benar adanya. Ia selalu berdoa untuk kesembuhan yeoja dihadapannya, tapi hingga saat ini dimana dirinya terduduk lemas, yeoja itu tak kunjung membuka mata cantiknya bak Putri Tidur. Menunggu. Kembali ia harus menunggu.
Saat netra namja itu menatap nanar tubuh yang terbaring lemah, jari lentik pucat itu menunjukkan tanda kehidupan. Perlahan mata cantik itu pun terbuka perlahan. Netranya berusaha fokus pada cahaya yang masuk untuk pertama kalinya setelah koma selama 2 hari. Namja itu terbelalak kaget melihat apa yang sedang terjadi sekarang.
"Jisoo-ssi, apa kau bisa mendengarku?"
Namja itu meraih tangan pucat itu dengan perlahan. Sebuah senyuman terukir diwajahnya yang penuh harap. Namun, yeoja itu mengeryit. Pening menjalar kepalanya setelah sadarkan diri dan ketika melihat seorang namja dihadapannya yang.. terlihat asing baginya.
"Siapa.. kau?"
Sebuah senyuman yang semula terukir, kini perlahan luntur setelah sebuah pertanyaan dilontarkan kepadanya. Sejenak, satu hal terlintas di pikirannya.
"Aku.. Choi JunWoo, suamimu"
-The End-
Annyeong! Yeorobun
Makasih banyak yang udah nungguin cerita ini sampe end. Kalian setia banget nungguin sampe lumutan. Karena kemalasan authornya, kalian harus nunggu sampe 8 tahun. Mianhae mianhae. Aku juga gak expect bakal serame enih yang baca huhuhu
Buat kalian yang mau keluarin uneg-unegnya sama para cast atau tanya-tanya authornya juga boleh bgttt. Kritik dan saran kalian ngebantu aku buat terus bikin cerita selanjutnya hihi.
Big huge and C U
from author.
KAMU SEDANG MEMBACA
The M | END
Fanfiction'i say happy, dream, and.. love" -Kim Jisoo' Perjodohan yang direncanakan kedua orang tua membuat mereka bertemu. Namun keputusan ditangan mereka. Akankah mereka dapat menerimanya? Seokjin dengan hati bekunya akan luluh oleh perilaku seorang Jisoo...
