****
Seluruh keluarga Rome sedang berkumpul, menyambut kepulangan dari Megumi Rome. Termasuk Mahawira Khazama.
"Istirahat yang cukup, setelah ini, esok lusa kau sudah harus kembali ke AHS, Gumi." Perintah Rome pada sang putri.
Dua istri Rome, yang saling tak akur hanya memandang sengit satu sama lain.
"Pi, aku baru sembuh. Kasih aku waktu istirahat lebih lah, Pi." Mohon Megumi.
Rome menendang meja kecil, yang ada disampingnya.
"MEMBANTAHKUUUU!!!!" Amuknya.
Megumi menunduk takut, sedangkan wanita yang merupakan ibu kandung dari Khazama, segera bangkit untuk menenangkan sang suami.
"Mas, lebih baik kita kembali kamar. Setelah pikiranmu tenang, kita bisa bicarakan hal ini lagi pada, Gumi." Ajak wanita itu pada sang suami.
Rome menghela napas, lalu ia tersenyum tipis. "Baiklah, sayang." Kedua pasangan paruh baya itu, melangkah menaiki anak tangga meninggalkan sang istri pertama yang hanya mampu diam melihat hal yang terjadi dihadapannya.
Megumi menatap Khazama tajam, ia benci laki-laki berambut abu dihadapannya saat ini. Ibu dari laki-laki ini adalah wanita yang menghancurkan keharmonisan keluarga Rome. Hanya karena, wanita pelakor itu bisa mengandung anak laki-laki membuat sang ayah begitu mencintai wanita itu, walaupun status Khazama yang tidak diketahui oleh media, karena Rome adalah salah satu Pemerintah Daerah, yang mana jika hal buruk terendus, maka akan menghancurkan nama baik keluarga besar Rome.
"Anak haram!" Ejek Megumi. Gadis itu berlalu dengan keadaan yang masih lemas, untuk menuju kamar pribadinya.
Wanita yang merupakan istri pertama Rome, menghela napas sejenak. Ia berdiri duduk nya. Menghampiri Khazama.
"Tidak perlu mendengarkan, segala ucapan Megumi. Kau bukan anak haram, setiap anak yang lahir di dunia ini, adalah anak yang suci dan tanpa dosa tentunya." Ucapnya lembut. Ia mengelus pelan rambut abu milik Khazama, wanita itu memang tidak menyukai ibu kandung Khazama, tapi tidak pada Khazama, ia menyayangi Khazama sama seperti rasa sayangnya untuk Mesima dan Megumi.
Khazama memeluk wanita itu erat, "makasih, Mi. Zama sayang mami. Maafin Zama ya mi, kalau nanti Zama membuat mami terluka atau bersedih." Ucap Khazama pelan.
Wanita itu mengangguk dalam dekapan anak tirinya, "tentu saja, bagaimana pun kau adalah putraku juga." Jawabnya.
Khazama hanya diam, ia tak menjawab lagi ucapan dari ibu tirinya itu.
Khazama memasuki kamar pribadinya, yang berada di lantai dua kediaman Rome. Laki-laki itu membanting Asala ransel hitam miliknya. Ia merebahkan diri pada kasur, menutup mata sejenak, menenangkan diri dari segala masalah yang ia hadapi.
Apalgi perihal kamera miliknya, yang entah ada dimana. Gadis dari keluarga Mahatma itu kabarnya sedang dirawat secara intensif di rumah sakit, setelah kejadian ia tak sadarkan diri kemarin.
"Sialan!" Umpat Khazama.
Suara pintu terbuka, lalu tertutup dengan cepat membuat Khazama, membuka matanya. Ia menatap malas kehadiran Mesima yang memasuki kamarnya secara sembarangan.
Mesima berjalan kearah Khazama yang sedang telentang diatas kasur. Ia tersenyum nakal, pada adik tirinya itu.
Mesima menjatuhkan diri diatas tubuh Khazama, gadis berusia dua puluh tahun itu, bahkan mengecup bibir Khazama berkali-kali.
"Aku merindukanmu, sayang." Ucap Mesima manja. Gadis itu mulai menggoda Khazama, dengan membuat pola abstrak pada dada bidang Khazama.
Ya, hubungan gila yang hampir dua tahun dijalani oleh dua anak Rome ini memang terdengar gila, jangankan jika media yang mengetahui hal ini, jika Keluarga Rome mengetahui nya pasti akan mengecam perbuatan kedua anak mereka saat ini. Perbuatan yang seharusnya tak pantas dilakukan antar saudara, sekalipun mereka saudara dari ibu yang berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villain
RomanceHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
