****
Ansara mengulas senyum, saat melihat wajah datar Daren. Kekasihnya itu begitu cemburu karena kedatangan Baraga kemarin siang.
"Kakak," panggil Ansara.
Daren yang sedang fokus dengan Tab di pangkuannya, menoleh untuk melihat gadis kecilnya.
"Ada apa sayang?" Daren menaruh Tab miliknya diatas nakas, lalu berdiri menghampiri Ansara. Sore ini, gadis kecil itu sudah bisa keluar dari Rumah sakit, setelah menghabiskan waktu satu Minggu dengan perawatan yang insentif.
"Peluk," rengek Ansara manja. Gadis dengan bandana merah muda itu, memang paling tahu kelemahan dari pewaris Aldrich ini.
Daren dengan cepat mendekap Ansara dengan erat. Menaruh wajah di ceruk leher putih Ansara, menghirup dalam aroma Vanilla sang kekasih.
"Tidak perlu cemburu, kakak yang paling tahu, bagaimana, An, menyayangi kakak." Kata Ansara. Ia mengelus pelan punggung tegap Daren, agar laki-laki yang merupakan kekasihnya itu bisa lebih tenang.
"Hm, maaf sayang." Jawab Daren.
"Kakak tidak suka, jika ada laki-laki lain yang mencoba mendekatimu!" Tambah Daren lagi.
Ansara tersenyum, ia masih kini menepuk pelan punggung Daren. "Kalau begitu. An, akan melakukan hal yang sama, jika ada wanita yang mencoba mendekati kakak. Apalagi, sampai ingin mengambil kakak dari An." Ujar Ansara.
"Tentu, boleh. Kakak hanya milikmu," jawab Daren.
Ansara tertawa kecil, "kekasih-ku, beribu kali lebih tampan saat sedang cemburu." Ledek Ansara.
Suara pintu terbuka, membuat dekapan Ansara dan Daren terurai. Ares yang baru datang hanya memutar bola matanya malas. Lihatlah adik kecilnya, Daren begitu semena-mena memeluk adik kecilnya.
"Adik, bagaimana sudah siap untuk kembali ke Mansion?" Tanya Ares. Ia mengelus pelan surai Ansara.
"Iya. An, besok ingin kembali sekolah Abang." Pinta Ansara.
Daren menunjuk pipi sebelah kanannya, Ansara yang paham, langsung mendaratkan satu kecupan di pipi sang kakak. Ares langsung menoleh pada Daren tak lupa dengan tatapan menyebalkannya.
"Selalu beri, satu ciuman sayangmu pada Abang, Adikku." Ucap Ares kembali. Meledek Daren yang sudah menatapnya tajam.
Ansara hanya mengeleng pelan, melihat ekspresi Daren akibat kejahilan yang dilakukan oleh Ares.
***
Empat pilar membuat heboh Kafetaria siang ini, karena mereka meluangkan waktu untuk menghabisi waktu istirahat dengan makan siang di Kafetaria bukan di tempat khusus mereka. Semua ini terjadi karena permintaan gadis dengan bandana merah muda tentunya.
"Ansara, kau sudah membaik?" Tanya Louise. Laki-laki penyuka minyak telon dan permen karet itu, mengambil posisi duduk dihadapan Ansara.
"Tentu bang, An, sudah sangat membaik saat ini." Jawab Ansara. Gadis itu sedang makan buah yang baru saja di bawakan oleh Daren.
"Syukurlah, Abang sangat takut, saat mendengar adik kecilku sakit." Ujar Louise kembali.
Mereka akhirnya sibuk menghabisi makan siang masing-masing, Ansara sedang disuapi nasi oleh Daren. Gadis kecil itu bahkan sudah sibuk dengan berbagai macam pensil warna di tangannya.
Murid AHS yang melihat hal tersebut, memandang dengan berbagai macam tatapan dari suka sampai iri.
Sampai kehadiran gadis dengan rambut diikat kuncir kuda, mengalihkan atensi mereka yang ada di meja itu. Bahkan, Ansara yang sedang mengunyah makanannya pun menatap gadis yang berdiri di samping Daren itu dengan tatapan tak suka. Ansara tidak pernah melakukan hal ini pada siapapun, kecuali pada gadis dari keluarga Rome satu ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villain
RomanceHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
