Setelah kejadian waktu itu, oma lebih banyak diam, bahkan beberapa hari ini oma ke luar kota.
Laki-laki yang menyebut dirinya papa itu tidak pernah datang lagi.
Hingga sabtu siang setelah Zeya pulang sekolah, Mercedes itu terparkir di depan rumah.
Papa, begitu pikir Zeya.
Kali ini tidak ada pertengkaran, oma masih dengan kediamannya
Papa sibuk menatap layar hp.
"Papa datang untuk menjemput kamu, boleh kan ma, Zafran bawa Zeya." Kata papa setelah Zeya menyalaminya.
"Terserah Zeya, keputusan ada di tangan Zeya." Kata oma ikhlas.
"Ke mana?" Tanya Zeya, singkat. Setelah mendengar cerita tentang papa, Zeya sedikit antisipasi, walau dia tahu papa tidak mungkin begitu.
"Ke rumah kita." Kata papa kemudian tersenyum.
"Tapi aku, ta..kut." Cicit Zeya, sedikit segan saat menyebutnya.
"Nggak akan ada apa-apa." Kata papa mencoba menenangkan, sedangkan oma hanya menatapnya datar.
"Apa kita akan menemukan mama di sana?" Tanya Zeya.
"Tentu saja." Kata papa mengiyakan.
"Baik-baik ya." Kata oma memeluk Zeya ketika hendak masuk ke mobil.
"Jaga Zeya!" Kata oma, kemudian menatap papa tanpa tersenyum sedikit pun.
"Iya ma." Kata papa, yang sebenarnya tahu mengapa oma begitu tidak suka padanya.
"Nanti Zeya pulang kok." Kata Zeya mencoba memangkas kekhawatiran yang menghinggapi oma.
Mercedes yang di kendarai papa itu tidak memakai sopir, jadi Zeya duduk di samping pengemudi.
"Papa tinggal di mana?" Zeya mencoba bertanya untuk menghentikan rasa canggung antara dirinya dan papa.
Zeya belum terbiasa dengan panggilan itu, lidahnya sedikit kelu, saat mengatakan kata 'papa'.
"Sedikit jauh dari sini." Kata papa sambil menatap ke arahnya.
Kalau di perhatikan secara teliti, banyak kemiripan yang Zeya miliki dengan sang papa.
Mulai dari mata, hidung bahkan bibir. Bisa di katakan Zeya itu papa dalam versi perempuan. Hanya saja perawakan Zeya yang kecil dan mungil, itu yang membedakan dirinya dan papa.
Mungkin dia ikut mamanya yang berpostur demikian.
"Terima kasih ya, sudah mau ikut papa." Kata papa tulus sekali, dapat Zeya lihat ada binar di mata itu. Zeya pun hanya mampu mengangguk, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Udah kelas berapa sekarang? Maaf papa tidak tahu." Kata papa penuh rasa ingin tahu.
"Kelas dua belas." Kata Zeya lirih.
"Sudah selama itu ya, 14 tahun berlalu, papa tidak pernah ada untuk kamu, maafkan papa nak." Kata papa penuh kelembutan, seolah Zeya tidak bisa menemukan sifat papa sebagai seorang mafia di sana.
"Andai kita bisa bertemu lebih awal ya, ini salah papa yang tidak gigih mencari kamu." Papa berkata dalam sekali. Zeya sedikit tersentuh dengan perkataan itu, hingga dia menyadari, jalan yang papa tempuh tidak biasanya, ini seperti perkebunan, kiri kanan hanya tampak hijau oleh pepohonan.
"Kok kita masuk hutan pa?" Tanya Zeya memberanikan diri.
"Ini mau sampai kok. Kamu tidak usah khawatir, kita akan pulang ke rumah." Kata papa dengan suara normal, tidak rendah seperti tadi.
"Rumah kita di hutan?" Tanya Zeya lagi.
"Sedikit masuk hutan, tapi kamu tidak usah khawatir akses transportasi mudah, karna jalannya bagus." Tambah papa lagi, itu bukan membuat Zeya tenang melainkan takut.
"Apa benar kalau papa mafia?" Tanya Zeya dengan suara yang hampir menyerupai gumaman.
"Ckkkkittt." Mobil itu mendadak berhenti karena di rem tiba-tiba oleh papa.
Untung saja Zeya memakai selt belt sehingga dia tidak terantuk.
"Siapa yang bilang begitu ke kamu?" Tanya papa dengan raut datar, tak ada lagi senyuman yang terpatri di sana. Mobil itu kemudian melaju kembali.
"Tidak ada orang normal yang tinggal di tengah hutan, kecuali dia punya kepentingan." Kata Zeya berani, padahal hatinya sudah cenat cenut karena takut. Ah dia jadi kangen oma. Biasanya kalau takut begini Zeya akan mencari perlindungan dalam pelukan oma tercinta.
"Papa hargai pemikiran kritis kamu, dan papa suka itu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, bahwa berkata seperti itu kepada orang tua tidak sopan, Zeya Amira." Kata papa tanpa menatap Zeya, pandangan papa lurus ke depan.
"Bukannya papa memang mafia, jadi apa yang tidak sopan." Kata Zeya lagi, dia seperti ingin memancing masalah dengan papanya
KAMU SEDANG MEMBACA
ZEYA [TERBIT]
Teen FictionApa yang kamu tahu tentang seorang Zeya? Jelas saja tidak tahu apa-apa. Bukan hanya orang asing di luar sana yang tidak mengenal Zeya. Bahkan Zeya sendiri tidak kenal dirinya sendiri. Zeya bahkan tidak tahu orang tuanya siapa. Zeya seperti asing bag...
![ZEYA [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/373573814-64-k614384.jpg)