Ancaman Daren untuk Rome

22 1 0
                                        

****

Gadis dengan aksesoris penuh gelang di tangan itu, berjalan dengan riang untuk kembali menuju lab komputer. Buku catatan untuk mata pelajaran selanjutnya tertinggal saat ia terburu-buru ke Kafetaria bersama Ramitha.

Tasya menyerit heran, pintunya terbuka sedikit. Ia melongok untuk mengintip. Tasya dibuat merinding, gadis penyuka drama Korea itu, hanya takut jika ada pembunuh berencana di AHS.

Namun, tangannya yang bertumpu pada gagang pintu bergetar dengan sendirinya, saat melihat Louise sedang berciuman dengan Bianca. Tasya mundur, tidak jadi mengambil catatannya. Gadis itu terisak dalam diam. Ternyata, rasanya sesakit ini. Itulah ucap Tasya dalam hati.

Kalian tahu? Bagaimana rasanya mengagumi seseorang sejak kecil, lalu takdir menyatukan kalian. Namun, jika salah satu menolak apakah takdir bersama itu akan terus berlanjut?

Ukuran sapu tangan berwarna hitam, mengalihkan atensi Tasya, gadis yang sudah berlinang airmata itu, menatap sebentar kain itu, lalu mengambilnya. Menghapus jejak bulir bening di wajahnya dengan kasar.

"Tidak perlu menangis," kata Kevin.

Tasya kembali terisak, "lo tahu, gue suka sama dia dari kecil. Walaupun gue tahu, Vin. Cinta dan rasa sayang gue gak akan berbalas sampai kapanpun." Ujar Tasya, gadis itu mengeluarkan segala unek unek didalam hatinya selama ini.

Kevin memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Memandang Tasya dengan tatapan yang sulit terbaca.

"Kau ingin menyerah?" Tanya Kevin datar.

Tasya menggeleng, " belum! Tapi, nanti kalau gue udah cape! Gue akan pergi, menjauh sampai dia gak akan bisa nemukan gue lagi."

"Walaupun gue tahu. Louise gak mungkin merepotkan diri, untuk mencari keberadaan gue. Kepergian gue, adalah hal yang dinantikan. Supaya dia bisa bersatu dengan wanita murahan itu!" Tambah Tasya lagi. Ia mengambil tangan Kevin, menaruh sapi tangan hitam milik laki-laki itu. Dan, berlalu meninggalkan Kevin yang hanya diam dan menaikan alisnya acuh.

Kevin menekan tombol dengan kakinya, ia membuang sapu tangan hitam itu kedalam tong sampah.

Louise melepaskan pangutannya pada Bianca, mengusap pelan bibir yang sudah memerah milik kekasih itu.

"Kau cantik, Bi." Kata Louise. Ia tersenyum tipis memandang wajah Bianca.

"Kapan, kamu mengakhiri hubunganmu dengan gadis alay itu?" Tanya Bianca. Ia mengelus pelan rahang Louise.

Louise terdiam, dia tidak bisa memberikan jawaban pasti pada sang kekasih. Louise mencintai Bianca. Itu hal mutlak! Tapi, melepaskan Tasya, Laki-laki itu juga tidak bisa. Katakanlah Louise Darsono adalah laki-laki dengan tingkat keegoisan yang tinggi. Menginginkan dua perempuan sekaligus dalam hidupnya.

Louise mengacak pelan Surai berwarna cokelat milik Bianca. Ia merogoh saku celananya mengeluarkan dompet, membukanya untuk mengambil black card lalu memberikan benda itu pada Bianca.

"Berbelanjalah, sayang. Aku dengar brand kesukaanmu mengeluarkan tas model terbaru, hanya ada dua. Dan, salah satunya sudah di klaim oleh keluarga Aldrich." Papar Louise. Agar Bianca tidak menanyakan perihal hubungannya dengan Tasya.

Bianca mengedipkan mata, "kamu memang paling tahu, apa yang aku suka," Bianca mengecup bibir Louise sekilas, lalu mengambil kartu berwarna hitam itu dari tangan Louise. Ia harus segera pergi, karena hanya tersisa satu. Dan, dia harus mendapatkan tas tersebut.

***

Mahawira Rome, saat ini sedang berada didalam ruangan yang ada di Pemerintahan Daerah. Ia membuka amplop yang diberikan oleh bagian pengamanan saat akan memasuki kantor pagi tadi.

The VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang