****
Jingga memasukan beberapa angka yang menjadi pin Apartemen milik Kevin. Ia sungguh kesal, saat kedua orang tuanya lebih mempercayai Kevin, dibanding anak mereka sendiri. Terbukti saat ini, Jingga harus tinggal bersama laki-laki mesum itu selama satu bulan ini.
"Kemana saja? Kenapa baru sampai?" Tanya Kevin secara beruntun. Ia berjalan mendekati Jingga, melepas kacamata dengan frame hitam itu, dan membubuhkan satu kecupan pada bibir tipis milik Jingga.
Jingga menghapusnya dengan kasar, "mesum!" Sahutnya. Ia menginjak kaki Kevin. Dan, berlalu meninggalkan laki-laki itu untuk masuk kedalam kamar miliknya.
Kevin menggerakan jemari kakinya, tenaga gadis itu tidak tanggung-tanggung. Kevin bahkan merasakan nyeri saat ini.
"Jingga, kau sungguh menarik." Seringai tipis muncul dari kedua sudut bibir Kevin. Ia melangkah untuk kembali duduk, dan menonton kembali video pemotongan daging, tontonan kesukaannya sedari kecil.
Kevin melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Ia tersenyum saat melihat Jingga keluar dari kamar dengan tangan yang masih menggosokkan handuk pada Surai-nya. Jingga sangat manis saat tidak menggunakan kacamata.
Gadis itu mengambil piring, dan duduk di kursi makan, untuk makan malamnya. Dengan handuk yang masih membungkus kepalanya saat ini.
Kevin menoleh sebentar dan menggelengkan kepala sambil tersenyum sangat tipis, saat melihat perilaku Jingga yang tidak sama sekali manis itu.
"Enak, besok gue mau makan ini lagi." Seru Jingga memberitahu Kevin. Ya, bertindak seolah Kevin adalah pesuruhnya adalah cara Jingga, agar laki-laki itu kesal, bosan lalu memutuskan untuk meninggalkan Jingga. Itulah yang diharapkan gadis berkacamata tersebut.
"Apapun untuk tunanganku." Jawab Kevin.
Kevin berdiri, mengikuti langkah Jingga untuk menuju balkon. Ia melihat gadis itu menyisir rambutnya sambil berjalan, tak lupa dengan dua stoples cemilan di dekapannya saat ini.
Kevin mengambil alih dua stoples itu, membuka pintu balkon dan berdiri menyamping agar Jingga keluar terlebih dahulu.
Jingga dan Kevin duduk bersisihan dengan lengan saling bersentuhan satu sama lain. Langit malam begitu cerah, dengan taburan bintang bintang yang menambah kecantikan malam ini.
Kevin memasang airpods di kedua telinganya, ia memejamkan mata menikmati alunan lagu.
Jingga menoleh, dia menatap datar laki-laki disampingnya saat ini. Jarak keduanya sangat dekat, Jingga tidak menyangka pertemuan pertama saat menemani Ansara, untuk makan di ruangan khusus Empat pilar. Membawa dirinya jadi berurusan dengan laki-laki dengan tatapan datar dan selalu berkata menyakitkan lawan bicaranya.
"Kapan, lo bosen sama gue?" Tanya Jingga. Ia tidak mengalihkan tatapan dari Kevin.
Kevin yang sedang bersandar, menegakan tubuhnya. Ia balas menatap Jingga sama datar dan dinginnya, ia menyeringai tipis, melepas salah satu airpods di telinganya, memasangkan benda itu, pada telinga milik Jingga. Seketika lagu dari salah satu band ternama itu berputar, kalau Jingga tidak salah ingat judulnya adalah Risalah Hati.
"Aku bisa membuatmu, jatuh kepadaku. Meski, kau tak cinta."
Jingga diam saat mendengar sepenggal lirik itu menyapa telinganya, membuat degup jantungnya berdetak tidak beraturan seperti tidak memiliki gravitasi.
"Kau sudah paham? Beri aku waktu, akan aku tunjukkan cinta yang indah itu seperti apa, Jingga." Ujar Kevin. Ia kembali menghadap depan, bersender lalu memejamkan mata menikmati alunan lagu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villain
RomanceHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
