****
Media hari ini dihebohkan, dengan kecelakaan yang menewaskan putri bungsu dari pejabat daerah Mahawira Rome. Polisi dan wartawan sudah ramai berada di lokasi, melakukan investigasi penyebab dari kecelakaan tersebut hingga merenggut nyawa Megumi Rome.
Daren menurunkan kacamata hitam miliknya, ia puas atas kinerja yang dilakukan oleh Mark kali ini. Perempuan sialan itu, kini sudah lenyap dari bumi. Tidak ada, yang akan menganggu Ansara-nya lagi sekarang.
"James, satu minggu lagi, kirim pada seluruh penjuru rekaman CCTV keluarga Rome." Titah Daren.
"Baik, Tuan muda. Tuan Lousie sudah mengirimnya pada saya." Jawab James.
"Hm. Kerjakan sebaik mungkin, aku benci kegagalan!" Seru Daren. Ia kembali memakai kacamata hitamnya, dan menyuruh James untuk melajukan mobilnya meninggalkan lokasi tempat kecelakaan Megumi.
Megumi tidak meninggal karena kecelakaan, gadis itu kehilangan nyawanya, karena ulah Daren yang menyiksa semalaman. Lalu, menyuruh Mark untuk membuat cerita palsu tentang kematian Megumi, dengan membuat gadis seperti kecelakaan lalu lintas tunggal, akibat mengkonsumsi minuman keras dan obat terlarang.
Kediaman Mahawira Rome, sudah ramai dengan pelayat, pihak kepolisian serta wartawan. Mereka berbondong-bondong menunggu kehadiran sang tuan rumah, untuk melakukan klarifikasi tentang kematian Megumi Rome.
"Pi, Gumi, meninggal dengan gak wajar. Papi lihat, banyak memar disekujur tubuhnya!" Amuk Mesima. Ia tidak terima dengan klaim polisi yang mengatakan Megumi meninggalkan karena kecelakaan tunggal akibat mabok dan obatan terlarang.
Rome mengangkat tangan, ia menatap putri sulungnya dengan tajam.
"Jaga ucapanmu, Sima. Kau dan adikmu adalah anak tidak berguna! Sekarang bagaimana caranya agar nama baikku kembali seperti sedia kala. Sedangkan, anak sialan itu malah mati!" Oceh Rome dengan kesal.
Penantian panjang yang sebentar lagi akan terwujud, kini hancur karena ulah Megumi.
"Mas, Gumi itu anak kita." Ucap istri pertama Rome, ia begitu sedih dengan kematian tiba-tiba putri keduanya. Sedangkan, sang suami masih memikirkan Jabatan dan hartanya saja. Tanpa merasa kehilangan anak mereka.
"Biarkan saja dia mati! Dia tidak bisa diandalkan!" Amuk Rome. Ia mendorong guci disampingnya menimbulkan suara yang keras. Bahkan, beberapa pelayat di kediaman Rome berjinjit kaget.
"Semua gagal! Aku seharusnya sudah bisa menikmati kuasa dari keluarga Aldrich, jika anak bodoh itu tidak mati!" Teriak Rome lagi.
Beberapa Wartawan dengan cepat, merekam segala ucapan yang keluar dari mulut Rome. Karena berita yang membawa nama keluarga Aldrich adalah hal yang paling ditunggu oleh khalayak banyak.
"Pi, stop! Banyak wartawan. Papi, mau mereka merekam tingkah bodoh, Papi?" Ucap Khazama santai. Laki-laki itu tidak sedih akan kematian saudara-nya. Ia justru senang, gadis dengan mulut sialan itu akhirnya mati. Bahkan lebih cepat dari dugaan Khazama.
Rome menyuruh beberapa pengawalnya, untuk mengusir semua orang yang ada dikediaman saat ini. Ia harus memikirkan cara untuk mendapatkan perlindungan dari keluarga Aldrich, apalagi saat ini, sudah ada seseorang yang mencoba menerornya dengan bukti penggelapan dana dari pemerintah, untuk daerah yang ia pimpin.
"Anak sialan!" Umpat Rome. Ia menaiki anak tangga, Rome tidak perduli pada kematian Megumi penyebabnya apa, yang ia perdulikan adalah kekuasaan dan hartanya.
***
Louise menekan tombol Off pada remote ditangannya. Ia duduk bersandar sambil memangku semangkuk pop corn. Mengambil jagung berbentuk kribo itu, lalu dimasukkan kedalam mulutnya. Ia menyatukan kedua alisnya, saat melihat ekspresi datar dari Kevin, Ares dan Ramitha saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villain
RomanceHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
