Bab 3 || Merasuk

4 3 1
                                    

‘You and Me and Inner’ tampak mencolok di antara judul buku lainnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

‘You and Me and Inner’ tampak mencolok di antara judul buku lainnya. Mumpung tak ada kelas setelah ini, Aileen memutuskan untuk membacanya daripada bergelut dengan komputer di kantornya. Tangan panjangnya menggapai buku tersebut kemudian berjalan menuju sudut ruangan.

Tasnya ia letakkan di atas meja persegi. Duduk santai pada kursi nyaman itu lalu ia buka lembar pertama buku tersebut. Membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat, lembar demi lembar, hingga ia tenggelam dalam pembahasan ‘You and Me and Inner’.

Tentang batin yang terselimuti keasingan dan kejahatan. Lantas, ia teringat dengan Aiden. Apa yang terjadi pada diri lelaki itu bukan semata karena ada sesuatu yang merasuki. Namun, kekuatan yang terlalu kuatlah yang menguasai tubuhnya. Hingga muncul versi diri yang lain dan mungkin berlawanan.

Kekuatan itu dapat memusnahkan versi asli dan pada akhirnya tubuh itu dapat dikendalikan olehnya. Bagaikan burung yang dapat terbang bebas di angkasa. Kekuatan yang ada di dalam tubuhnya juga ingin membebaskan diri.

Gerhana yang terjadi ini juga berkaitan dengan kekuatan yang mengendalikan matahari dan bulan. Jika fungsi kedua sumber cahaya itu tidak teratur, kekuatan itu terlalu kuat dan mengalahkan batin yang lemah.

  “Yang jadi pertanyaan sekarang, gimana gue lepasin kekuatan itu dari Aiden…” gumamnya. Aileen menutup bukunya kemudian meletakkan lipatan tangannya sebagai bantal kepalanya di atas meja.

Perlahan matanya terpejam sembari menikmati alunan sunyi perpustakaan. Hembusan angin meninabobokan Aileen bersamaan dengan hangatnya sinar matahari yang masuk.

Tanpa ia sadari, seorang lelaki datang dan berdiri di sampingnya. Ia membungkukkan badannya untuk melihat wajah putri tidur itu. Kemudian ia duduk di sampingnya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari Aileen.

  “Capek ya?” tanyanya. Pandangannya beralih pada buku yang ia pegang. Suara yang ia keluarkan membuat Aileen bangun dari tidurnya.

  “Lo kenapa di sini?” Aileen mengangkat kepalanya, merapikan barang-barangnya lalu memasukkannya ke dalam tas.

  “Nggak tahu. Pikiran gue udah kemana-mana…”

  “Jangan terlalu kepikiran.” Aileen menatap mata Aiden. Tampak sesuatu yang berbeda dari diri lelaki itu.

Iris berwarna cokelat sekilas berubah menjadi kuning emas. Ia tak tahu pasti apa yang terjadi. Wajah Aiden pun tampak putus asa. Lama sekali perempuan itu menatap mata Aiden.

  “Ketua,” ucap Aiden memecah lamunan Aileen, “kayaknya lo jangan terlalu kepikiran juga.”

  “Gue nggak bisa inget apa-apa tentang kejadian itu. Kenapa gue belum bisa selesain ini semua?” tiba-tiba kalimat itu seakan menyerang Aiden. Aileen tak bermaksud kasar. Tapi entah mengapa lelaki itu seperti merasa sesak.

  “Nggak ada terjadi apa-apa. Lo terlalu banyak pikiran. Ayo, kita pulang.” Aiden berdiri kemudian memberikan tangannya, bermaksud menggandeng perempuan itu untuk kembali ke asrama.

Gerhana dan KristalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang