→ Kejadian Tak Terduga

124 17 1
                                    

.
.
.

  Sepasang netra (e/c) terbuka dikala cahya dari sang surya masuk ke dalam kamarnya. (M/N) bangun dari tempat tidurnya ketika ia mendapati bahwa Kunigami tak berada di sisi nya. "Loh..? Kuni kemana?"

  Dengan mata yang masih mengantuk, (M/N) berjalan keluar kamarnya hanya untuk mencari si rambut oranye itu. Ia telah pergi ke setiap penjuru ruangan yang ada di rumahnya. Akan tetapi, ia tak menemukan seorang pun di sana. "Ibu..? Ayah..? Kemana mereka semua..?"

  (M/N) mengangkat bahunya malas. Ia memutar balik badannya menuju kamar, tak mau ambil pusing dengan kemana perginya mereka semua. 'paling keluar sebentar' pikirnya.

  Di kamar, (M/N) mencari-cari sesuatu yang mungkin berguna baginya. Ia mencari ke seluruh penjuru tempat, tapi hasilnya nihil. Ia tak menemukan hal lain selain kotak yang penuh dengan debu. Pada awalnya, (M/N) merasa kotak ini mungkin berharga. Sayangnya, kotak itu dikunci dan (M/N) tak tahu di mana kunci untuk kotak ini di simpan, bahkan setelah ia mencarinya di kamar kedua orang tua barunya.

  (M/N) merebahkan dirinya di atas kasur, bersebelahan dengan kotak tersebut. Ia menatap langit-langit kamar yang bernuansa biru itu, merasa frustasi karena tak kunjung menemukan apa yang ia cari. Merasa lelah telah menghampiri, (M/N) pun menutup matanya, tertidur.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

  Saat matanya terbuka, ia menyadari bahwa ruangan di sekelilingnya telah berubah menjadi kamarnya di kehidupan sebelumnya. (M/N) bangun dari tempat tidurnya, berjalan ke arah cermin di seberang. Ia menatap sosok yang ada di cermin itu lekat-lekat, merasa bingung dan heran. Di cermin,ia melihat sosok dirinya di kehidupan awalnya berdiri di hadapannya.

  "Apa yang... Tungu, apa ini mimpi?" (M/N) yang merasa kalau ini hanya mimpi pun mencoba mencubit dirinya sendiri agar segera bangun. "AW! Sakit.. Kalo ini bukan mimpi.. Berarti.." (M/N) terdiam sejenak, memegang dagunya sambil berpikir.

  "Ga mungkin lah, paling bentar lagi aku bakal dibangunin." ujar (M/N) yang diiringi dengan mengangkat kedua bahunya, tidak peduli. Itu yang ia pikirkan, sampai...

  *tok
  *tok
  *tok

  "Den..? Den (M/N) ada di kamar?" Pintu kamarnya diketuk, diiringi dengan suara yang tak asing baginya. (M/N) kenal suara ini, tidak salah lagi.

  (M/N) memantapkan diri sebelum membuka pintu kamarnya. Ia mendapati bahwa orang yang mengetuk dan berbicara dari balik pintu kamarnya adalah bibi asisten rumah tangganya. "Ah.. Bibi? Bibi ngapain di sini?"

  "Itu... Nyonya nyuruh den (M/N) buat ke ruangannya sekarang." ujar Bibi itu. "Ah.. Oke deh kalau gitu. Tolong bilangin ke ibu buat nunggu bentar ya, bi. (M/N) mau... ganti baju dulu!" pintanya.

  "Oh, okedeh kalau gitu. Bibi permisi dulu ya den." balas si bibi. Perlahan-lahan bibi itu mulai tak terlihat lagi dari pandangannya. (M/N) sempat mematung sejenak setelahnya. Ia makin tak percaya dengan apa yang ia alami hari ini.

  (M/N) menutup pintu kamarnya, ia berjalan menuju ranjangnya kemudian duduk di atasnya. Ia menghela nafas panjang, mengusap rambutnya gusar. "Ini.. beneran atau aku aja yang halu?" ucap (M/N) yang diiringi dengan helaan nafas lainnya.

.
.
.
.
.
.
.
.
.

  Di sinilah ia berdiri sekarang. Di depan pintu ruangan yang sangat ia takuti. Ruang kerja ibunya. Jika ia sudah dipanggil untuk ke sini, maka pasti ada sesuatu yang (M/N) takutkan terjadi. Namun, yang terpikirkan oleh (M/N) saat itu juga adalah 'apakah kejadian yang ia alami hari ini sungguhan atau hanya sekedar mimpi?' Tak mau ambil pusing, (M/N) mengesampingkan hal itu terlebih dahulu dan lebih fokus dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

  Ia mengetuk pintu ruangan itu.
*tok
*tok
*tok

  Terdengar suara ibunya yang terdengar tak peduli itu untuk menyuruhnya masuk. (M/N) memutar gagang pintu, membuka pintu ruangan. Matanya terbelak kaget saat ia melihat dua orang pria dengan pakaian yang rapi duduk di salah satu sofa yang tersedia di sana.

  Salah seorang mengenakan jas berwarna putih dan salah seorang lagi mengenakan jas berwarna biru tua. Rambut yang rapi dan bau parfum yang menyerbak, menambah kesan elegan pada mereka.

  Bukan itu yang (M/N) kagetkan. Yang mengagetkannya adalah... Ia mengenal kedua pria tersebut.

  Netra ungu dari salah satu pria yang ada di sana menangkap jelas sosok yang berdiam diri di depan pintu. Ia menyenggol kawannya untuk melihat ke arah (M/N). Pria bersurai putih itu memandang ke arah (M/N) dengan tatapan malas. Sejenak ia memperhatikan (M/N), ia melihatnya seperti pemburu yang tengah memperhatikan mangsanya.

  (M/N) masih berdiam diri di ambang pintu. Merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat. 'Bagaimana mungkin, mereka...?'

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.

Singkat saja, maaf udh nganggurin book ini selama bertahun-tahun, auth selalu kena writer's block tiap mau nulis chap baru. Tysm buat yang udah bersedia buat nungguin. Love y'all 🧡

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 4 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Reincarnated? || Blue lock x (uke) Male Reader |slow update|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang