Simpan semua prasangka dalam debu lambik trimata
Saat ku sapa namamu kawan, rapalan suci tanpa maknaMenjejak segurat tanah, ku lihat yang buta menengadah
berpaling pada kilau kedangkalan
Tubuh-tubuh kayu menutup jalan ingatan
Tangan terkepal, jiwa terkatup, wahai diri sahutan malamDuri bencimu kudekap erat
Sambil bisikan ayat purwa
"Bacalah," aku merengut
Tawarkan pemantik 'tuk menerangi belantar
Membakar hangus rimba yang lama terlantar"Bacalah," lirih hati dalam bisu, berharap ada yang mengingat pijak 'tuk mengukir jejak
Pada langit yang tak pernah menyentuh bintang
Rangkulan bebatuan asterisk, bayangan yang pernah menjadi terangSahutan malam dan tawa sinismu
Kupersembahkan untuk raga berkelambu
Jirit tangis penyampai gala semu
"Bacalah," akan ku rapal selalu

KAMU SEDANG MEMBACA
Seruan Pertama; Refleksi Tasawuf di Era Postmodern
SpiritualTulisan ini adalah surat cinta teruntuk diri dan saudara-saudari seiman saya.