Seruan pertama

19 0 0
                                    

Simpan semua prasangka dalam debu lambik trimata
Saat ku sapa namamu kawan, rapalan suci tanpa makna

Menjejak segurat tanah, ku lihat yang buta menengadah
berpaling pada kilau kedangkalan
Tubuh-tubuh kayu menutup jalan ingatan
Tangan terkepal, jiwa terkatup, wahai diri sahutan malam

Duri bencimu kudekap erat
Sambil bisikan ayat purwa
"Bacalah," aku merengut
Tawarkan pemantik 'tuk menerangi belantar
Membakar hangus rimba yang lama terlantar

"Bacalah," lirih hati dalam bisu, berharap ada yang mengingat pijak 'tuk mengukir jejak
Pada langit yang tak pernah menyentuh bintang
Rangkulan bebatuan asterisk, bayangan yang pernah menjadi terang

Sahutan malam dan tawa sinismu
Kupersembahkan untuk raga berkelambu
Jirit tangis penyampai gala semu
"Bacalah," akan ku rapal selalu

Seruan Pertama; Refleksi Tasawuf di Era PostmodernTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang