Terbawa Arus

314 31 2
                                        

Manusia yang sudah terlanjur jatuh cinta terkadang akan sulit untuk membuat hatinya melawan dengan egonya sendiri, kini Jovaniel telah berada di puncak kelelahannya. Pertemuannya dengan Haidar beberapa hari memang menjadi obat yang begitu ampuh untuk mengobati lukanya, namun rasanya Jovaniel kembali kehilangan sosok Kekasihnya.

Sialnya Jovaniel bahkan tak mengeluarkan keluhannya langsung kepada Haidar ketika mereka bertemu beberapa hari lalu, Jovaniel tak mampu untuk meluapkan lukanya kepada sang pencipta dari luka yang Jovaniel dapatkan.

Aktivitasnya di fakultas tak lagi begitu cerah, perlahan semua berubah menjadi abu-abu. Menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama kedua sahabatnya saja Jovaniel tak memiliki tenaga yang cukup untuk melakukannya.

Di tengah langkahnya yang begitu lambat itu, ada seseorang yang berdiri tepat di hadapannya, membuat Jovaniel mendongakkan kepalanya guna melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

"Kok sendirian?" tanya Jayden

"Emang udah biasa, kak." ucap Jovaniel dengan suaranya yang begitu lemas. Melihat Jovaniel yang tampak lesu, Jayden hanya tersenyum tipis hingga menghela napasnya begitu panjang.

Terasa cukup lama bagi Jayden tak mendengar keadaan Jovaniel dengan Haidar, namun ia memilih untuk menahan pertanyaan yang ingin ia lontarkan sebab takut kondisinya tidak memungkinkan.

"Oh, tadi Jarrel nanyain lo. Gue bilang gak tau karena kita gak terlalu deket, kan? Jadi, gue bilang buat ngajak lo ketemuan pas pulang."

"Oh gitu.. ntar gue kabarin deh. Kalo gitu, gue lanjut jalan ya, kak." Jovaniel tersenyum tipis dan pergi begitu saja tanpa perlu mendengar jawaban dari Jayden. Entah mengapa rasanya Jovaniel kehilangan semangatnya, bahkan untuk sekedar mengobrol terasa begitu malas.

Kisah cintanya yang mulai rapuh ternyata begitu menjadi pengaruh besar bagi suasana hatinya, dirinya tak lagi ceria seperti dulu. Bagaimanapun juga Jovaniel tak bisa menyalahkan takdir yang justru tak memihaknya dalam kisah cintanya.

Dirinya yang tak lagi berisik, dirinya yang tak lagi terus tersenyum membuat kedua sahabatnya begitu khawatir. Namun, Jovaniel bersikeras untuk mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

Berbagai cara bahkan semua menjadi sia-sia ketika kedua sahabatnya mencoba untuk membuat Jovaniel terbuka kepada mereka, alhasil mereka memilih untuk membuat Jovaniel mencoba untuk keluar perlahan dari rintangannya sendiri.

Jika waktu yang tepat sudah tiba, baik Sean ataupun Jarrel keduanya akan sangat siap untuk memasang badan ketika Jovaniel sudah tak mampu untuk berdiri sendirian lagi.

10:00AM

Kelas yang begitu ramai sebelumnya kini perlahan sunyi karena para murid sudah berbondong-bondong keluar untuk mengisi perut mereka yang keroncongan.

Jovaniel berjalan dengan sedikit berlari menuju kelas sahabatnya, ia tak ingin membuat mereka menunggu terlalu lama. Dengan kebiasaan yang seperti ini perlahan membuat Jovaniel menjadi terbiasa, ia tak lagi begitu mengharapkan kehadiran Haidar sebagai sosok pertama yang muncul di hadapannya di waktu senggang seperti ini.

Ketika sudah berapa menit Jovaniel melangkah, akhirnya ia melihat kedua sahabatnya yang ternyata sudah menunggu kehadirannya di depan kelas.

"Kak Jovan!" mendengar Sean yang meninggikan suaranya sontak membuat Jovaniel bersemangat ketika kakinya masih melangkah mendekati mereka. Ia tersenyum begitu lebar, memeluk kedua sahabatnya yang sudah lama tak jumpa.

"I miss you guys." ujar Jovaniel

"Kita juga kangen, kak Jovan ke mana aja? Diajak main gak mau, lo juga udah gak pernah cerita lagi sama kita, semua aman, kan?" wajah Jarrel yang begitu penasaran membuat Jovaniel hanya tersenyum tipis, ia tak tahu harus bagaimana. Tak ingin menjawab, Jovaniel hanya berdiam diri dengan kepalanya yang menunduk tak ingin menatap wajah kedua sahabatnya.

You're Mine, Jovaniel | HEEJAKETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang