Di dalam mobil, suasana hangat setelah makan siang di restoran. Sam, yang duduk dengan tenang di kursi belakang, terlihat penasaran. Ia menggoyangkan kakinya sedikit, menatap ke luar jendela, lalu bertanya dengan polos, "Mama, siapa tadi Paman Chan itu? Kenapa Mama mengenalnya?"
Felix tersenyum sambil tetap fokus mengemudi. Pertanyaan Sam sudah ia duga akan datang. "Paman Chan adalah teman lama Mama, sayang. Dulu, sebelum kamu lahir, Mama sering bertemu dengan Paman Chan. Dia orang yang baik," jawab Felix dengan nada lembut, sedikit nostalgia menghiasi suaranya.
Sam mengangguk pelan, tampak memikirkan jawaban Felix. "Jadi, kalau Mama mengenalnya, aku juga boleh mengenalnya, kan?"
Felix tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. "Tentu saja, Sam. Kamu sudah bertemu dengannya tadi, kan? Kamu boleh memanggilnya Paman Chan kalau kita bertemu lagi nanti."
Mendengar itu, Sam tersenyum lebar. "Aku suka Paman Chan, dia ramah. Mungkin nanti aku bisa bermain dengannya, kan?"
Felix hanya mengangguk sambil tersenyum, meski dalam hatinya ia merasa sedikit canggung memikirkan kemungkinan pertemuan mereka di masa depan.
Namun, ia tak ingin membuat Sam merasa aneh atau bingung. Baginya, yang terpenting adalah menjaga kebahagiaan Sam dan membiarkan semuanya berjalan alami.
"Ya, mungkin suatu hari," jawab Felix singkat, sambil melanjutkan perjalanan pulang dengan perasaan campur aduk yang tak ia perlihatkan pada putranya.
.
Sore itu, Hyunjin baru saja pulang dari kantor. Wajahnya tampak lelah, tetapi begitu ia membuka pintu, senyum langsung muncul di wajahnya saat melihat Sam berlari ke arahnya dengan antusias. "Papa!" seru Sam sambil memeluk kakinya dengan erat.
Hyunjin mengusap lembut rambut Sam, lalu menunduk dan menggendongnya. “Bagaimana hari ini, sayang? Apa yang Sam lakukan di sekolah?” tanyanya sambil mencium kening anaknya.
Sam tertawa kecil dan bercerita singkat tentang sekolahnya, sebelum Hyunjin meletakkannya kembali ke lantai.
"Papa mandi dulu, ya?" kata Hyunjin, yang hanya disambut anggukan semangat dari Sam.
Setelah mandi dan berganti pakaian yang lebih nyaman, Hyunjin akhirnya duduk di ruang keluarga, mencoba bersantai setelah seharian bekerja. Namun, tak lama kemudian, Sam menghampirinya lagi, dengan senyum lebar di wajahnya.
“Papa, ayo main sama Sam!” serunya, menarik tangan Hyunjin pelan. Hyunjin tertawa dan mengangguk, membiarkan Sam mengajaknya ke karpet tempat mainan sudah tersusun rapi.
Sambil bermain, tiba-tiba Sam berkata, “Papa, tadi aku sama Mama bertemu Paman Chan di restoran.” Hyunjin yang sedang sibuk menyusun balok mainan, langsung menghentikan gerakannya, sedikit terkejut.
“Oh, Paman Chan?” tanyanya, meski sebenarnya sudah tahu siapa yang dimaksud Sam.
Sam mengangguk dengan antusias. “Iya, Paman Chan baik sekali, Papa. Mama bilang dia temannya Mama dulu. Aku boleh panggil dia Paman!” katanya dengan nada bangga, seperti baru saja mendapat teman baru.
Hyunjin berusaha menyembunyikan reaksi canggungnya, lalu tersenyum tipis. "Oh, begitu ya. Jadi, kamu suka sama Paman Chan?" tanyanya, mencoba tetap tenang.
“Iya, dia ramah, Papa! Mungkin aku bisa main sama dia lagi nanti,” ujar Sam sambil melanjutkan bermain.
Hyunjin hanya tersenyum kecil, meski dalam hatinya sedikit merasa terganggu. Pertemuan Felix dan Bangchan tampaknya tidak bisa dihindari, dan meskipun Felix tak mengatakan apa-apa tentang itu sebelumnya, Hyunjin merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Namun, ia tetap berusaha bersikap tenang demi Sam dan Felix.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dibawah Cahaya yang Sama [END] √
WerewolfBangchan, pemuda pengusaha elektronik yang sukses, ia adalah sosok werewolf dan seorang alpha. Felix, seorang fotografer. Ia adalah sosok vampir, raut wajahnya yang dingin, dia tidak peka terhadap perasaannya karena telah lama mati. Mereka sepert...