Season 1 dari 404! Not found
Jarvis : "Dek dipanggil Bunda, tuh di suruh bangunin yang lain."
Harvis : "Bunda nyuruh gue atau lo-nya aja yang males?"
Naresh : " Anjir Reyhan tidur ilernya berlimpah!!"
Reyhan : "Ini tuh mahakarya!"
Mahen : "Maharkary...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
📌vote and coment, okey
📌ada yang nungguin? Sesuai jadwal updatenya, jadi jangan nanya lagi kapan update
📌think about theory!
•
•
•
“Naresh…gue punya sesuatu yang bisa nunjukin kalo polisi terlibat sama kasus yang di taman bermain itu.” Naresh, Mahen dan Reyhan langsung menoleh ke arah pintu saat pintu dibuka oleh sosok Eza. Wajah anak itu di banjiri oleh peluh keringat.
“Lo kebiasaan banget, Za. Kalo mau masuk itu ketuk pintu dulu atau minimal Assalamu’alaikum gitu, kek,” kata Naresh sedikit kesal, dia yakin sekali jika engsel pintunya sedikit tergeser sekarang.
“Ya maaf, gue buru-buru. Ini aja gue dapet buktinya karena ngibulin Om Mino.” Eza meringis melihat tatapan kesal yang ditunjukkan oleh Naresh. Remaja itu mengambil duduk tepat di sebelah Mahen.
“Ini flashdisk-nya. Lo bisa liat sendiri. Soalnya gue gak ngerti pake computer.” Eza mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku celananya dan memberikan benda itu pada Naresh. Naresh sendiri langsung memasang flashdisk itu pada komputernya.
“Gimana, Na? apa isinya?” Mahen bertanya lantaran temannya itu menunjukkan raut kebingungan yang jelas sekali.
“Tau, kan lo semua kalo polisi itu sama aja biadabnya?” Naresh menoleh Ketika Reyhan bertanya. Kemudian, dia Kembali melihat layar computer yang menampilkan sebuah video di mana ada seorang pria dan seorang Wanita tengah melakukan perundingan dengan seorang inspektur polisi, bahkan memberikan uang yang jumlahnya tidak sedikit.
“Bentar, deh…kayanya gue kenal sama dua orang itu.” Eza yang ikutan melihat video itu pun menyipitkan mata. Kedua orang itu sangat familiar di matanya. “Lah…ini, kan yang tukang eskrim sama Tante-tante genit yang godain gue kemaren pas gue lagi nyari si Cleo,” ujarnya yang sudah mengingat.
“Lo yakin?” tanya Mahen memastikan.
“Banget.” Eza mengangguk.
“100 persen?” Mahen bertanya Kembali.
“1000 persen pun, Hen. Gue yakin pake banget. Itu orang yang sama yang waktu itu.” Eza beneran yakin. Walau pun kadang begonya gak ketulungan, tapi Eza sangat pintar dalam menghapal.
Hingga suasana hening dan tak lama suara tawa dari Reyhan terdengar. Alis ketiganya mengernyit, mereka menatap Reyhan dengan pandangan ngeri dan aneh. “Ini anak gak kesurupan kaya kemaren itu, kan?” batin ketiganya berteriak.