30- EPILOG

9 1 0
                                        

BINTANG begitu ramai memenuhi langit malam ini. Semiliar angin membuat hawa sejuk malam kian terasa. Mei merapatkan jaket yang tampak kebesaran hingga menenggelam tubuhnya. Ia mendongak, menatap langit malam yang cerah.

"Dingin?"

Mei menoleh ke sumber suara. Semua yang terjadi belakangan ini masih sulit dipercaya. Operasinya berhasil, entah bagaimana caranya teman-temannya tahu perihal ini, lalu sosok itu kini tengah duduk di sampingnya menatapnya hangat.

Mei menggeleng sebagai jawaban. Kalau ada yang kedinginan, seharusnya sosok di depannya saat inilah orangnya. Sosok jangkung itu hanya memakai kaus putih berlengan pendek, karena jaket yang ia kenakan sebelumnya sudah berpindah ke tubuh Mei.

Mei kembali mendongakkan kepalanya. "Bulan kenapa nggak kelihatan, ya? Padahal langit lagi cerah, bintang juga bertebaran." Ia bergumam pelan.

Bukannya ikut menatap langit, sosok jangkung itu malah memandang wajah Mei yang tetap terlihat manis meski sedikit pucat. "Karena mataharinya sedang sakit."

Seketika Mei kembali memandang sosok di sampingnya itu. "Kak Epan...masih ingat?"

Ya, Revano Argantara. Laki-laki yang Mei cintai sampai detik ini. Sosok yang dulunya ia kejar semakin terasa jauh tapi sekarang dengan nyata duduk berdampingan dengannya.

Revan tersenyum, mengusap kepala Mei pelan. "Gimana kakak bisa lupa, hm?" Ia menoel hidung Mei menggunakan telunjuknya pelan, membuat gadis itu mengulum senyum malu-malu.

"Senang malam ini dibolehin keluar kamar?"

Mei tentu saja mengangguk dengan semangat, tak lupa binar di pasang mata bulat itu.

"Sini tangannya."

Meskipun bingung, Mei tetap mengacungkan tangannya ke arah Revan yang seketika di sambut laki-laki itu dengan kedua tangan besarnya. Ia menangkup tangan Mei hingga tak terlihat, menggosoknya pelan, menyalurkan kehangatan.

Mei lagi-lagi tersenyum dibuatnya. "Makasih." Ia berucap pelan.

"Sama-sama."

"Kak Epan, kakak tahu nggak perbedaan kakak dengan pohon?"

"Kalau pohon punya buah, sedangkan kakak punya Mei?"

"Ih bukan!" Meskipun cemberut tak ayal pipi Mei terasa panas mendengar jawaban Revan itu.

"Kalau pohon punya daun, kakak punya Mei?"

"Enggak. Kak Epan bukannya jawab malah gombal terus." Mei menarik tangannya dari genggaman Revan. Ia memalingkan wajahnya, ke mana pun asal tidak melihat raut wajah menyebalkan Revan yang sialnya tampan itu.

"Terus apa, hm?" Revan memegang dagu Mei lembut, menariknya untuk bertatapan langsung dengannya. Tangannya naik mengelus pipi Mei pelan.

"Ih sana. Jangan dekat-dekat." Mei mendorong dada Revan, meski sebenarnya tak membuat tubuh itu mundur barang seinci pun. Tidakkah Revan tahu kalau jantung Mei masing sangat lemah setelah operasi? Dekat-dekat dengan Revan membuat jantung Mei tak aman!

Revan menarik tubuhnya setelah puas melihat wajah Mei yang memerah. "Jadi apa perbedaannya?"

"Nggak jadi! Mei udah nggak mood!" Mei bersedekap dada. Mulutnya manyun tiga sentimeter, membuat Revan semakin gemas saja.

"Mei." Revan berucap pelan, ia kembali meraih kedua tangan Mei, lalu menggenggamnya, dan meletakkan di pangkuannya.

"Terima kasih."

"Untuk?"

"Semua hal indah."

Revan menarik tubuh kecil Mei ke dalam dekapannya. Ia mencium kepala Mei lama, menyalurkan rasa yang tak bisa ia ungkapkan melalui kata-kata. Malam ini, menjadi malam terpanjang yang membahagiakan bagi keduanya.

TAMAT

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Melodi Pagi (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang