KAMAR beraksen putih itu terlihat berantakan.
Tumpukan-tumpukan baju dan celana nampak berceceran di atas kasur, sementara sang empu masih berdiri mematung di depan cermin besar sembari menatap lawan bicara di layar ponsel.
"Pokoknya, gue bakal samperin lo terus jorokin ke empang kalau sampai lo maksa pakai baju itu! Gue harus bilang berapa kali, hah? It's totally old fashioned, Ru!"
Dari layar gawai, Tiara terlihat kesal karena Aru sama sekali tak mengacuhkannya. Setelah bercerita kalau ia akan pergi makan malam bersama Batara, Aru meneleponnya untuk meminta saran.
"Lagian kenapa sih gue harus ribet ngurusin pakaian?" keluh Aruna yang kini terpaksa melepas kemeja flannel kotak-kotak berwarna biru yang tadi ia kenakan. "Batara kan cuma mau ngajakin gue pergi makan malam."
"Justru karena ini makan malam, makanya lo nggak bisa pake baju sembarangan, Aruna!!!" omel Tiara kembali. Sampai-sampai, speaker Aruna mengeluarkan bunyi kresek saking kerasnya Tiara berteriak. "Dinner means a date! Lo pasti nggak mau kan kalau nantinya malah memberikan kesan yang buruk kepada Batara?"
Di atas kedua kakinya, Aruna tak bisa memberikan respons lain selain mengembuskan napasnya dengan berat.
Jika ditelisik, memang aneh rasanya jika Batara mengajaknya makan malam hanya sebatas untuk merayakan kakinya yang sudah sembuh. Laki-laki itu bisa saja mengajak Mario, rekan kerjanya atau siapapun untuk itu. Bukan malah mengajaknya yang notabene hanya tokoh figuran dalam hidupnya, yang kebetulan dikirimkan Tuhan untuk membantunya mengurus sang putera. Tapi membayangkan bahwa Batara mengajaknya makan malam sebagai kencan, bukankah itu justru terdengar lebih tak masuk akal?
"Pokoknya lo harus dengerin apa kata gue kali ini, Ru!" lanjut Tiara dari balik layar gawai karena Aru tidak memberikan respons.
"Iya! Iya! Bawel, deh!"
Maka setengah menggeretutu, Aruna menarik sebuah kemeja berwarna baby blue yang sejak tadi tergantung di rak pakaiannya. Memadukannya dengan celana panjang gelap serta cardigan berwarna senada, Aruna kembali mematut dirinya di depan cermin besar di kamarnya.
"Begini?" Aruna mendekatkan layar ponselnya untuk memperlihatkan penampilannya pada sang sahabat.
"Nah, setidaknya lo nggak kelihatan kayak gembel yang dipungut sama Batara!" kikik Tiara yang diamini decihan dari bibir Aruna. "Lo itu udah ganteng dan cute dari sananya, Ru, tinggal pilih outif yang tepat aja."
Maka setelah memutuskan apa yang akan dikenakannya untuk makan malam dengan Batara, Aruna kemudian memutuskan sambungan video call dengan Tiara. Tepat ketika jarum jam bergeser ke angka tujuh, Aruna mendengar suara mobil berhenti di gerbang rumah sewanya.
Dengan segera, Aruna bergegas turun dan menghampiri Batara yang sudah duduk setia di kursi kemudi seolah ia adalah pangeran yang sedang menunggu seorang puteri untuk menemuinya.
"H-Hai, Pak Batara," sapa Aruna setengah menelan ludah melihat penampilan Batara yang tampan. Tubuh tegapnya ia balut dengan kemeja kasual berwarna salem, lengkap dengan jam tangan mahal serta rambut rapi yang ia tata sedemikian rupa.
"Please, Ru. Ini di luar daycare. Panggil saja Batara," pinta Batara yang secara refleks membuat Aru celingukan mencari sesuatu.
"Bintang mana?" tanya Aru polos. Yang tentu saja membuat lelaki itu menyungging senyum tipis.
"Bintang saya titipin ke Mario," jawabnya lugas. "Saya berhak untuk punya me time katanya, makanya dia menawarkan diri untuk mengurus Bintang selagi saya pergi makan malam sama kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
FOREVER WITH YOU [RE-EDITED VERSION]
RomanceSekalipun, Aruna Giandaru tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan Batara Prabu Alamsjah akan membawanya pada pelik kehidupan lelaki itu. Berawal dari pertemuan keduanya di sebuah daycare tempat Aru bekerja paruh waktu, hidup pemuda itu lan...
![FOREVER WITH YOU [RE-EDITED VERSION]](https://img.wattpad.com/cover/353145845-64-k998616.jpg)