Ramadhan tahun ini sebenarnya terasa sama saja bagi keluarga Ayah Mada. Meskipun sebelumnya mereka sempat dilanda kesedihan karena keadaan Ankara, namun kini semuanya sudah baik-baik saja. Mereka masih bisa berkumpul bersama untuk menjalani banyak kegiatan di bulan penuh berkah ini.
Sifat Ankara dan Ayah Mada yang cenderung melankolis pada saat itu pun sudah menghilang tanpa jejak. Mereka benar-benar kembali bersikap seperti biasanya, seolah kejadian buruk yang menimpa mereka saat itu tidak pernah terjadi. Bunda Riana bahkan sempat dibuat terheran-heran karena mereka.
Tapi setelah Bunda Riana telisik lagi, sebetulnya ada beberapa perubahan yang terjadi. Utamanya dari tindakan mereka berdua terhadap satu sama lain. Di mana baik Ayah Mada maupun Ankara kadangkala tidak segan menunjukkan bentuk kasih sayang mereka dengan cara yang sama seperti dulu.
Perlu dipertegas bahwa meskipun Ankara bersikap kekanakan namun kesadaran akan usianya yang terus bertambah membuat Ankara mengerem segala tindakan kekanakannya itu. Paling-paling hanya sebatas tindakan yang berasal dari ucapannya saja. Ayolah, anak itu mana paham sih dengan istilah 'pendiam'. Dia terlalu bangga dengan segala kecerewetannya itu. Begitupun dengan Ayah Mada, usia Ankara yang sudah tidak muda lagi kadangkala menyadarkan Ayah Mada untuk berhenti terlalu memanjakan Ankara, khawatir Ankara tidak bisa bersikap dewasa dan mandiri.
Namun pasca kejadian tersebut, sadar tidak sadar, mereka telah kembali ke setelan pabrik mereka. Tidak ada lagi fikiran untuk membatasi segala bentuk kasih sayang mereka untuk satu sama lain, apalagi hanya didasarkan karena usia semata. Sehingga Ankara tidak segan untuk menunjukkan sifat kekanak-kanakannya lagi melalui tindakannya, begitupun Ayah Mada yang tidak lagi membatasi dirinya dalam hal memanjakan Ankara.
Meskipun begitu, kejadian yang hampir merenggut nyawa Ankara itu tetap memberikan banyak pembelajaran serta proses pendewasaan diri bagi seorang Ankara. Tindakan kekanak-kanakannya kali ini pun lebih cocok disebut sebagai bentuk kasih sayangnya pada orangtuanya saja. Dan pemikiran seperti ini pun serupa dengan Ayah Mada. Ibaratnya itu kalau bukan hari ini lalu kapan lagi mereka bisa melakukan itu? Sementara tidak ada jaminan mutlak bahwa besok keduanya masih bisa saling bertatap muka.
Lihat saja bagaimana kedua pria berbeda usia itu sibuk berpelukan di sofa ruang keluarga. Ah lebih tepatnya sih Ankara yang memeluk erat Ayahnya. Sementara Ayahnya hanya menatap tidak fokus pada layar televisi yang menayangkan acara sahur di jam dua pagi ini. Sejujurnya sih masih mengantuk, pun tadinya menonton televisi hanya diniatkan agar menghilangkan rasa kantuk. Meskipun hasilnya gagal.
Ayah Mada melirik ke arah Ankara yang dengan nyamannya tertidur berbantalkan bahunya, dia bahkan menghangatkan dirinya dengan memeluknya sampai Ayah Mada kesulitan bergerak. Tubuhnya sudah seperti guling jika dibandingkan dengan badan bongsor Ankara. Ayah Mada pun mengusapi rambut Ankara dengan tangannya yang bebas. "Dek" panggil Ayah Mada yang tidak disahuti Ankara. Kembali tidur nyenyak sepertinya. Ayah Mada pun langsung mendekatkan bibirnya ke depan telinga Ankara kemudian.... "Imsak!" teriaknya.
Ankara langsung berdiri dari posisinya. Lalu menatap wajah Ayahnya dengan tatapan tidak percayanya. Kedua matanya bahkan membulat lebar. "Sumpah Yah?!"
Ayah Mada tersenyum tipis lalu dia menarik tangan Ankara sampai Ankara kembali terduduk di atas sofa. Sekarang gantian dirinya yang menyandarkan kepalanya ke atas bahu Ankara. "Jam tiga bangunin ya Dek" katanya sebelum Ayah Mada memejamkan matanya dengan erat.
Ankara menghela napasnya keras. "argh Ayah" Sadar bahwa dia baru saja di prank oleh Ayahnya. Ankara pun langsung menjatuhkan kepalanya ke atas kepala Ayahnya dengan raut wajah tertekuknya. Dia sedang enak-enak tidur juga. Jujur saja, Ankara masih sangat-sangat mengantuk.
"Yah" bisiknya yang dibalas dehaman Ayah Mada.
"Bunda kecepetan nggak sih Yah banguninnya? Baru jam dua pagi. Imsak paling setengah lima. Kalau makan jam segini yang ada pas imsak udah laper lagi" ucap Ankara lagi dengan berbisik agar Bunda yang sedang memasak di dapur tidak mendengar ghibahan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
[5] Everyday : Home Sweet Home (✓)
Fanfiction(Completed) SEQUEL DAILY LOVE Local Fanfiction Cast : Hoshyer, Ni-Ki, Sunghoon & Chaehyun Family | Romance | Daily Life EVERYDAY: HOME SWEET HOME Keseharian semanis apel dari Keluarga Ayah Mada yang selalu dihiasi tingkah ajaib Ankara, juga kesehar...
![[5] Everyday : Home Sweet Home (✓)](https://img.wattpad.com/cover/369093897-64-k308551.jpg)