Entah sudah berapa lama Saugi tidak pernah merasa bersemangat seperti siang ini. Senyumnya tidak pudar semenjak ia mengarahkan mobilnya kembali ke desa. Ia melirik kaca spion dan melihat tas-tas kertas yang berjajar di kursi penumpang belakang.
Sudah dua hari pria monolid itu berada di kota karena harus menghadiri rapat di kantor pusat. Dan terhitung dua hari juga ia tidak melihat Alin sejak terakhir mereka bertemu.
Alin benar-benar menepati janjinya untuk tidak meninggalkan Saugi, karena saat pria itu bangun maka sosok cantik sang mantan lah yang pertama ia lihat. Si Kepala Sekolah duduk di sofa dekat jendela sambil membaca buku miliknya. Ia selalu ingat betapa cintanya wanita itu dengan membaca, ia bahkan tidak sadar kalau Saugi sudah memiringkan tubuhnya dan berdiam diri memerhatikannya.
Sayang, suara batuknya menghancurkan momen itu.
Alin meletakkan buku ke sofa dan melepaskan kacamata bacanya. Ia menghampiri Saugi dan membantunya minum.
"Demammu sudah turun," ucap Alin setelah menempelkan telapak tangannya pada dahi dan leher si pria.
"Itu artinya aku tidak perlu ke dokter, kan?"
Alin memutar bola matanya. "Aku akan bawakan sarapan sebelum ke sekolah besok. Kalau demammu kembali naik aku akan meminta Joanna untuk menyeretmu ke dokter."
"Ughhh itu hal yang dia tunggu-tunggu."
Si wanita tersenyum geli. Ia melirik jam tangannya, "Aku harus pulang untuk menyiapkan bahan rapat besok." Beritahunya setelah itu kembali ke sofa untuk merapikan buku juga memasukan kacamatanya ke dalam tas.
"Aku akan mengantarmu. Sepedamu tinggalkan saja di sini," Saugi susah payah bangkit dari tempat tidurnya.
Mendengar itu Alin segera menghampiri si pria dan menahannya. "Tidak. Aku mau kamu tetap di kasurmu. Aku bisa pulang sendiri."
"Ini sudah jam delapan malam, Alin. Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri, apalagi kamu mengendarai sepeda." Saugi bersikeras dengan keinginannya. Alin menghela nafas pelan, ia menahan tubuh si pria untuk tetap duduk di atas kasur.
"Tetap di sini atau aku tidak akan pernah mau menemuimu lagi. Pilih."
Saugi menatap Alin tidak percaya. Kedua alis pria itu naik dan bertautan, tanda ia tidak suka dengan apa yang wanita di depannya itu lakukan.
"Fine." Jawabnya ketus. Ia pun membuang muka
Alin menghembuskan nafas yang sempat tertahan. Saugi yang dahulu tidak akan pernah mengalah semudah itu. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, termasuk menyakitinya. Tapi Saugi di depannya saat ini tidak menyentuhnya dengan ujung kukunya sekalipun.
Saugi di hadapannya itu berbeda.
Wanita itu pun tersenyum. Ia mengusap pipi si pria lalu memberikan kecupan singkat di puncak kepalanya.
"Sampai bertemu besok. Get well soon, bear."
Kedua sudut bibir Saugi tertarik hingga ke telinga saat kembali mengingat kata-kata Alinda saat itu.
'Bear' adalah panggilan kesayangan yang selalu Alin sematkan untuknya. Sudah lama ia tidak mendengarnya dan dadanya seperti akan meledak setiap mengingat suara lembut mantan kekasihnya kembali mengucapkan panggilan itu.
Saugi pun memarkirkan mobilnya di depan sebuah gang yang tidak bisa dimasuki kendaraan roda empat. Ada satu tempat yang akan ia kunjungi sebelum ke rumah Alin. Dibukanya pintu penumpang belakang dan ia ambil dua tas berisikan mainan yang dibelinya untuk Karin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Chance (?) ✔️
Fanfiction❗Gen-Ben❗ Alternate Universe Sequel of 3 Stages Of Loving You
