Chapter 148 (Bagaimana Caranya)

457 29 7
                                        

Chapter ini tidak mengandung AU ‼️‼️

*****

"Barra! Bentar!" Panggil Farez berusaha menahan tangan Barra yang hendak keluar dari kamar mereka.

Barra menoleh dan mengibaskan tangannya pelan, "Kamu kalau ngomong sama aku cuma mau ngajak berantem, mending aku ke kamar Bian," desisnya.

"Kamu jadi lebih mentingin dia daripada aku kan sekarang akhirnya!?" Marah Farez.

Barra mengernyit, "Apa-apaan sih Rez! Nggak ada yang lebih mentingin siapapun, kapan sih kamu ngerti kalau kalian berdua itu berharga buat aku? Selama ini aku udah berusaha adil Rez, aku juga nggak pernah sampai cuekin kamu atau gimanapun, aku masih ngasih perhatian yang sama ke kamu, ke diriku sendiri juga, tapi aku juga nggak mau kalau harus ngurangin perhatian ke Bian! Dia berhak dapet itu Rez, bahkan seharusnya dia juga berhak dapet itu dari kamu!" Sentak Barra sambil menunjuk dada Farez kencang.

Farez sendiri masih terdiam menahan emosinya.

"Kamu ajak aku buat ketemu klien kamu, sekali aja aku cuma minta kita ajak Bian. Ini udah hampir tiga bulan Rez, mau alasan apa lagi kamu. Selama ini Bian diajak Mama, Yuwa, pake mobil ke mana-mana, dia baik-baik aja, dia happy. Apa salahnya ajak anak kamu sendiri!"

"Dia bukan anak aku!!" Potong Farez membuat Barra terdiam sejadinya.

Setelahnya Barra hanya melangkah pergi dari sana, sejujurnya ia terlalu terkejut dengan kalimat yang dilontarkan oleh Farez.

"Barra..." Panggil Farez berusaha menahan tubuh suaminya itu, "Barra dengerin dulu, hey..." Suaranya melunak, namun Barra bersikukuh untuk keluar dari sana, ia menampik pelan cekalan tangan Farez di bahunya.

"Kamu kalau pergi, pergi aja. Aku nggak ikut..." Ucap Barra lirih kemudian benar-benar keluar dari sana dan pergi ke kamar Bian. Sedangkan Farez mengusap wajahnya kasar dan terduduk di sofa.

Barra mengusap mata basahnya pelan, tidak ingin terlihat sedih di depan Bian. Ia melangkah pelan menuju kamar bayinya itu, hati dan pikirannya terus bergejolak memikirkan hari-hari sebelumnya.

Apa sejauh ini yang dilakukannya benar-benar tidak membuahkan hasil, tapi ia tidak mungkin menyerah.

Saat masuk ke kamar, bisa ia lihat Bian yang sedang meminum susu dibantu oleh pengasuhnya. Ia berusaha tersenyum dan berjalan mendekat, "Bian..." Panggilnya.

Bayi itu seperti paham jika namanya dipanggil, ia yang masih berada dalam posisi merebah pun menoleh dan tersenyum lebar, lalu bergerak semangat. Membuat Barra mempercepat langkah, "Minum susu dulu, nanti kesedak sayang. Sini sus, biar aku aja nggak papa."

Wanita paruh baya itu hanya mengangguk dan mengiyakan, hubungannya dengan dua majikannya ini juga semakin terlihat dekat dan akrab. Tidak ada formalitas yang terlalu kaku di antara mereka.

"Udah selesai mandi Nak Barra?"

Barra yang berusaha memangku Bian sambil memberikan susu pada bayinya itu pun tersenyum dan mengangguk, "Udah kok, Sus. Oh iya, itu botol susu yang ketinggalan di kamar aku, tolong dicuci dulu ya."

Pengasuh Bian itu tersenyum dan mengambil botol yang ada di sebelah Barra, "Nak Barra nggak papa?"

Barra mendongak, "Eh? Aku kenapa Sus?"

"Maaf, itu matanya merah, kayak capek banget. Apa nggak istirahat aja, biar Bian sama saya," ucap pengasuh Bian tak enak.

Barra tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya pelan, "Nggak papa kok, Sus. Cuma kecapekan dikit aja."

Barra menatap botol susu yang telah kosong, lalu mencabutnya pelan. Terkekeh kecil melihat Bian yang terdiam menatap dirinya, membuatnya merasa gemas dan mengusakkan hidungnya ke pipi bayi kecil itu, "Apa kok lihatin Papa hmm? Kenapa kamu bisa cepet gendut gini?"

mystoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang