Chapter ini tidak mengandung AU (Gambar) !!
****
Barra masih membantu Farez membenahi gendongan depan di sebuah pelataran parkir pusat perbelanjaan, ia tersenyum menyadari tubuh kaku suaminya itu.
"Santai aja napa sih, pak..." Ledeknya.
Farez mengulum bibirnya pelan, beberapa hari belakangan ia mulai belajar sedikit demi sedikit untuk menerima Bian dan sepertinya berhasil. Meskipun agak canggung, rasa sayang itu mulai muncul di hatinya. Dia juga jadi sering menggendong dan ikut menghabiskan waktu bersama Barra juga Bian.
Seperti hari ini, setelah pengasuh Bian kembali ke rumahnya. Barra harus kembali bekerja, begitu juga dirinya. Ia yang sebelumnya berjanji akan menemani Barra berbelanja keperluan Bian, baru bisa menepatinya hari ini.
Pengasuh Bian juga terpaksa tidak ikut, karena tidak ingin mengganggu waktu ketiganya.
"Sayang, ini beneran aman gendongannya?"
Barra sedikit mengernyit, "Aman aja, Dad... Kenapa emangnya?"
Barra juga membiasakan Farez dengan panggilan itu, agar Ayah baru itu tidak terus merasa canggung.
Farez menatap Bian yang tertidur di gendongannya, Barra memakaikannya gendongan M-shape dan membuat bayi itu tidur nyaman menghadap dirinya, kepalanya menempel penuh di dadanya.
"Takut dia nggak bisa nafas, kenapa kayak sempit banget?"
Barra terkekeh kecil dan mengambil tas kecil berisi perlengkapan Bian, "Nggak papa, Dad. Itu nggak sesak kok, emang modelnya begitu, anak kamu kepalanya belum bener-bener kuat kalau kamu lupa."
Keduanya lalu mulai berjalan dan masuk ke dalam pusat perbelanjaan.
"Tapi udah bisa tengkurap sama angkat kepalanya," jawab Farez sambil mengelus punggung Bian pelan, berharap bayi itu tetap tidur pulas.
"Hmmm, kadang masih nyungsep tapi..." Celetuk Barra membuat Farez tertawa kecil.
Berjalan ke arah rak susu, Barra kembali menatap suaminya, "Enak nggak buat jalan, Dad? Kalau kurang nyaman bilang ya."
"Nyaman aja kok, kayak bawa tas," jawab Farez membuat Barra terbahak.
Farez hanya menatap Barra ketika mengambil dua kaleng susu.
"Kok cuma dua, bukannya kemarin kata kamu tinggal satu di rumah?" Tanya Farez.
"Hmm? Nggak papa dua dulu, ntar beli lagi kalau abis," jawab Barra.
"Sekalian aja sayang, biar nggak bolak balik. Kata kamu sebulan Bian bisa habis enam kaleng," ucap Farez lagi.
Barra membulatkan bibirnya, "Nggak papa?"
Farez menganggukkan kepalanya, "Iya nggak papa sekalian."
Barra menurut dan menambah beberapa kaleng,
Barra mengajak Farez berkeliling dan membeli perlengkapan Bian, seperti popok bayi dan yang lainnya.
"Ehmmm, Barra..."
Barra yang tengah memilih perlengkapan mandi untuk Bian menoleh, "Apa?"
Farez nampak berpikir, membuat Barra menunggu.
"Itu... Apa namanya? Biar bisa digigit sama Bian, daripada kebiasaan masukin tangan terus," ucap Farez sedikit ragu.
Barra mengernyit dan mencoba mengingat sesuatu, "Ohhh, teether bayi?"
Farez menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Mungkin iya..."
Barra terkekeh kecil, hatinya menghangat melihat Farez yang mulai memperhatikan Bian. Ia menatap sekitar, "Nah itu!"
KAMU SEDANG MEMBACA
mystory
RomanceMenceritakan seorang pria player yang sayangnya berwajah cantik, bernama Barra dan dikenal suka berganti pasangan di setiap minggunya, tak peduli pria atau wanita. Namun suatu hari, dirinya terpaku dengan sosok pria berkacamata yang tengah duduk di...
