Special Chapter 🌷

376 28 6
                                        

"Time flies so fast... Day after day passes us by, with or without smiles, new days will come, but it's okay, as long as the three of us stay together...."

*****

Kaki itu menaiki tangga perlahan, matanya mengedar seiring dengan langkah yang mengendap-endap, genggamannya pada pegangan tangga mencengkeram erat.

Baru saja merasa berhasil, tubuhnya membeku ketika dalam sepersekian detik ruangan di sekitarnya menjadi terang oleh cahaya lampu.

"Baru pulang?"

Suara berat itu membuatnya menoleh ke bawah, hanya ada ringisan dari gigi rapihnya ketika melihat seorang pria tinggi besar yang bersandar di dinding yang menyekat dapur.

"Hehe, Dad...." Ringisnya.

"Turun sini...."

Bibirnya sontak merengut, dia tidak akan selamat kali ini.

Tubuh itu hanya bisa duduk dan menunduk takut ketika melihat pria yang jauh lebih tua darinya itu menatap tajam ke arahnya.

"Bukannya tadi janji sama Daddy, kalau kamu nggak bakal pulang selarut ini Bian..." Ucapnya pelan.

Remaja laki-laki itu mendongak, masih dengan bibir yang mengerucut, "Maaf, Dad. Tadi temen-temen nggak mau pulang, Bian juga nggak boleh pulang duluan, Bian nggak enak kalau nolak."

Pria yang lebih tua itu mendengus, "Terus ngapain ngendap-ngendap kayak pencuri tadi, kan bisa pulang yang bener?"

"Bian takut Papa marah..."

"Anaknya seorang Farez ini takut sama Papanya, tapi masih aja bandel. Gimana ceritanya? Kamu ini masih kelas dua SMA, Bian! Baru mau naik kelas tiga!" Ledek pria yang ternyata Farez itu sambil tersenyum remeh.

Bian menatap Farez melas, remaja berusia 16 tahun itu menggenggam tangan Daddy-nya erat, "Jangan bilangin Papa ya, Dad. Bian janji ini yang terakhir."

"Kamu tuh ngomong gitu terus, tapi besok-besok ya gitu lagi. Mau dihukum sama Papa-mu apa gimana sih Bian?"

Bian makin merengut.

"Udah berapa kali Daddy bantuin kamu tuh, untung aja hari ini Papa kamu lembur di kantornya Opa Bram. Tadi pulang-pulang tuh nyariin kamu, Daddy udah baik ya, untung tadi Daddy bisa minta tolong om Dareen buat backup kamu, untungnya juga Papa kamu percaya huh!?" Kesal Farez sambil menyentil telinga Bian.

Bian hanya terdiam sambil mengelus telinganya, sedikit banyak juga sebenarnya merasa bersalah.

"Kamu lagi liburan sekolah, Daddy minta jangan sering keluar keluyuran. Diem di rumah, biar Papa nggak curiga sama kamu. Ngerti?"

Bian mengangguk pelan, "Iya Dad..."

Farez sudah ingin berlalu, namun langkahnya terhenti, "Satu lagi, Daddy juga udah sering banget bantuin kamu. Kalau suatu saat nanti tiba-tiba Papa kamu tau, jangan tanyain itu ke Daddy. Kamu juga tau banget gimana Papa kamu, dan Daddy nggak bakal bisa bantu kamu..."

Bian meneguk ludahnya kasar.

Huh, hatinya menjadi tidak tenang.

mystoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang