37.

16 1 0
                                        

​Di sudut aula yang agak sepi, ponsel Kenzie bergetar. Layarnya menyala menampilkan nama panggilan yang sedari tadi dia tunggu: "Cipit🤟". Tanpa pikir panjang, Kenzie langsung menggeser tombol hijau ke atas.
​"Halo, Aska?" ucap Kenzie cepat, suaranya tak bisa menyembunyikan rasa khawatir.

​"Halo, sayang..." terdengar suara Aska dari seberang telepon. Suaranya terdengar sangat letih, diselingi suara bising khas koridor rumah sakit. "Maaf ya aku baru bisa telpon kamu sekarang. Aku baru selesai ngurus administrasi rawat inap Omah di sini."

​"Gak apa-apa, Ka. Yang penting kamu udah sampai dengan selamat. Gimana kondisi Omah sekarang?" tanya Kenzie lembut.

​"Omah langsung masuk ruang observasi khusus, nzie. Dokter di sini bilang kondisinya emang kritis banget, tapi mereka bakal usahain tindakan operasi secepatnya. Doain ya, sayang..." Aska terdengar mengembuskan napas berat. "Jujur, aku kangen banget sama kamu. Baru juga sehari pisah, rasanya berat banget di sini tanpa ada kamu."

​Kenzie tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca menatap keramaian aula. "Aku selalu doain Omah, Ka. Kamu yang kuat di sana ya, jangan lupa makan dan jaga kesehatan kamu juga sama Abim. Aku di sini bakal selalu tunggu kabar dari kamu, aku gak bakal kemana-mana."

​Kata-kata Kenzie seolah menjadi penawar letih bagi Aska di seberang sana. Mereka mengobrol beberapa menit lagi, saling meyakinkan satu sama lain sebelum akhirnya Aska harus menutup telepon karena dipanggil oleh ibunya.


​Sementara itu, di kantin sekolah yang mulai sepi dari sisa-sisa pengunjung, Darren, Hesa, dan Baskara duduk melingkar sambil menikmati sisa es teh mereka. Wajah ceria Darren yang tadi sukses menjadi MC kini berganti menjadi raut penuh kecemasan.
​"Gue kepikiran Aska terus nih, asli. Tadi dia sempet nge-chat gue pas baru mendarat, katanya mukanya si Abim tegang banget selama di pesawat," ujar Darren sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja.

​Baskara mengangguk, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Iya, wajar sih. Omah itu udah kayak pengganti orang tua buat mereka berdua kalau nyokapnya Aska lagi lembur kerja. Pasti berat banget beban yang dipikul Aska sama Abim sekarang di negeri orang."

​Hesa, selaku ketua OSIS yang biasanya paling tenang, ikut menghela napas. "Gue cuma bisa mantau lewat grup chat dan kirim doa. Tugas kita di sini sekarang ya jagain anak-anak yang lain, termasuk mastiin si Haikal, Nino, sama Juan tetep fokus buat latihan band mereka. Kita gak boleh ikutan kelihatan rapuh, biar pas Aska nanya kabar kita di sini, dia gak makin kepikiran."

​"Bener kata lo, Sa. Semoga operasi Omahnya Aska berjalan lancar dan mereka bisa cepet balik ke jakarta," timpal Baskara yang langsung diaminkan oleh Darren dan Hesa.

​Di studio musik, suara petikan gitar Juan mendadak sumbang, memecah harmonisasi lagu yang sedang mereka mainkan.

​"Eh, Ju! Fokus dong, melodi lo lari kemana-mana tuh dari tadi," tegur Nino dari balik set drumnya sambil mengetuk stik drum ke udara.

​Haikal yang memegang bass ikut menurunkan instrumennya dan menatap Juan. "Lo kenapa deh, Ju? Dari pas di aula tadi muka lo kayak banyak pikiran banget. Ada masalah?"
​Juan menghela napas panjang, menurunkan gitarnya lalu duduk di lantai studio sambil memijat pelipisnya. Dia tahu dia gak bisa bohong dari sahabat-sahabatnya. Pikirannya benar-benar kacau. Sepanjang latihan, bayangan Kenzie yang sedang tersenyum manis saat menerima telepon-yang Juan yakini dari Aska-terus berputar-putar di kepalanya. Rasa cemburu dan sesak itu kembali menyerang pertahanannya. Dia tahu Kenzie adalah crush-nya yang sudah sepenuhnya dimiliki oleh Aska, sahabatnya sendiri.

​"Gue... gak apa-apa kok. Cuma agak capek aja sehabis tampil di aula tadi," bohong Juan, memberikan alasan klasik.
​Haikal berjalan mendekat lalu menepuk pundak Juan. "Ju, kalau emang capek, kita istirahat dulu lima belas menit. Tapi habis itu lo harus fokus lagi ya. Inget kata Bang Daniel, tiga bulan ini waktu yang singkat buat ngejar tiket ke Jepang. Gak usah mikirin hal-hal yang emang belum takdir lo buat digapai malam ini."

happy ending  Versi Ku Kapan?[end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang