Kami sedang kencan. Aku Sasa Andriana, kakak dari Rain Andriana, duduk disamping Tama Indradewa, musuh bebuyutan yang juga mendapat gelar sebagai pacar tercintaku. Oke agak aneh memang, jadi begini.....
•••
"Eh, Sa ada Tama. Nggak niat nyamperin?" Kata temanku Nadia namanya. Gadis berhijab yang sedang tergila-gila dengan teman sekelasku yang freak abis. Baiklah, tidak penting.
Aku yang notabene meng-crush-kan seorang Tama Indradewa segera mengalihkan pandanganku pada arah pandangan Nadia. Dia disana sedang duduk sambil menyantap makanannya. Laki-laki itu memunggungiku. Oh ya Tuhan, bahkan dengan melihat punggungnya saja aku sangat bahagia.
Tak lama waktu berselang, Tama bangkit dari kursinya dan berjalan menuju salah satu kios makanan yang berjajar di kantin sekolahku. "Eh, yah, kok pergi? Kan belum puas liatinnya." Ucapku lemah, aku memanyunkan bibirku. Kebiasaan satu ini selalu muncul saat aku sedang kesal.
Namun, mimik mukaku segera berubah lagi saat mendapatinya kembali lagi ke meja yang tadi di tempatinya. Tapi yang lebih membuatku senang, dia memilih tempat duduk yang berhadapan denganku. Teknisnya, dia duduk di meja dan kursi berbeda, namun kami dapat saling pandang. Aku memberanikan diri memperhatikannya.
Dengan tak terduga, mata itu ikut menatapku. Oh Tuhan. Aku langsung mengalihkan pandangan. Tidak. Pasti tadi hanya ilusi. Mana mungkin seorang Tama melihatku. Aku menggeleng cepat. Lalu karena rasa penasaranku, aku memberanikan diri lagi menatapnya.
Aku terdiam. Mata tajam itu masih menatapku. Dalam. Aku terbius. Dan mulai disitu, perasaanku yang awalnya hanya meng-crush menjelma menjadi perasaan yang bernama cinta.
•••
Aku memanggilnya Indra, sedangkan yang lainnya memanggilnya Tama. Karena dia akan marah bila dipanggil "Indra" dengan orang yang kurang akrab dengannya. Saat ini kami sedang berada di antrian bioskop. Ya, kami mau nonton.
"Lama banget sih Ndra. Males tau nggak?" Rengekku, saat aku menggelendot manja dilengannya, ia hanya menatapku dan, seperti biasa, menyentil manja hidungku.
"Kebiasaan! Ngeluh terus! Dasar!" Cibirnya namun diakhiri dengan senyuman kecil yang terukir di bibirnya. Aku hanya memberengut kesal.
Cup. Sebuah ciuman mendarat di pipiku. "Jangan manyun-manyun gitu. Mau dicium?" Otomatis aku duduk tegap dan menutup bibirku dengan telapak tanganku.
"Mau mati?!" Ancamku. Aku menatapnya horor. Dia hanya tertawa, lalu menarikku lagi ke pelukannya. Aku menurut saja karena memang dipelukannya adalah tempat ternyamanku
"Ndra?" Panggilku di dalam dekapannya, sambil memainkan hpku. Sedangkan ia memainkan rambutku.
"Hmm?" Jawabnya acuh
"Ndra?" Panggilku lagi seraya memasukkan hp ke pouch kecilku.
"Apasih?" Tanyanya
"Sadar nggak kita diliatin? Sadar nggak kita nggak perduli sekitar?" Tanyaku. Dia terdiam sebentar lalu melayangkan tatapannya pada sekitar. Dan memang benar, orang-orang yang senasib denganku alias sedang ikut mengantri, sedang memperhatikan kami.
"Biarin aja sih. Kita ini yang ngejalanin, mereka iri mungkin." Ucapnya acuh sambil terus memainkan rambutku.
Teng... Suara alarm bioskop berbunyi, yang artinya bioskop sudah dibuka. Aku beranjak berdiri dan diikuti olehnya. Tanganku digenggamnya sampai ke dalam bioskop.
•••
"Ndra?" Panggilku
"Apa sayang?"
"Apaan sih sayang-sayang. Biasanya ngatain juga?!" Jawabku rusuh, salah tingkah
"Idih, salah tingkah-salah tingkah aja, nggak perlu dilepasin tangannya." Jeda, ia menggenggam tanganku lagi "emang mau dikatain kayak dulu lagi?"
"Hih! Nyebelin! Katain aja kalo berani! Pulang nih, pulang!" Ancamku
"Ngatainnya kan juga gara-gara salah tingkah. Kamu sih!" Ucapnya melepas pagutan tangan kami dan untuk kembali menarikku ke pelukannya.
Oh ya Tuhan, Indra bener-bener deh. Nggak liat-liat sekitar, maen peluk-peluk aja. Tapi gapapa sih, dulu cuma bisa bayangin soalnya, dinikmatin aja.
"Hayo loh! Mikir apa loh? Mikir yang iya-iya pasti. Yakan?"
Cetok..
Aku menyentil kening Indra dengan jariku. "Kamu kok jadi mesum gini sih? Jadi takut deket-deket kamu ih." Aku mengambil tangannya yang melingkar di pundakku dan melepaskannya "lepasin. Jauh-jauh sana!""Eh? Kok mesum? Darimananya? Eh, tapi iya sih tadi. Habis kamu diem trus senyum-senyum gitu. Eh, tapi yang iya-iya itu kan nggak berarti mesum! Kalo mesum itu yang enggak-enggak sayang."
Blush. Aish blushing lagi. Beruntungnya ruangan bioskop itu gelap. Yaiyalah, kalo nggak gelap bukan bioskop namanya, tapi pasar malem. Apaan ini?
"Apaan sih Ndra! Jangan panggil sayang-sayang!" Kataku agak keras yang mengakibatkan
"Sssssstttttt......" Seketika aku langsung disambut riuh oleh para penonton bioskop yang mengisyaratkan agar aku menurunkan suaraku atau bahkan menghilangkan suaraku, aku hanya menundukkan kepalaku malu.
"Kamu itu unlimited yah. Aku baru tau ada yang berani teriak-teriak di bioskop. Beruntung aku nemu kamu. Untung kamu sukanya sama aku. Untung juga kamu dulu yang ngedeketin aku. Coba aja kalo aku duluan yang naksir kamu, mana berani deketin kamu. Orang dideketin kamu aja aku salah tingkahnya malah bikin kamu sedih kok. Maaf ya buat yang dulu? Udah gak perlu malu. Jangan teriak-teriak lagi. Sstt" Ucap Indra sembari mengelus rambutku dan menarikku lagi agar bersandar di bahunya. Rasa maluku menguap seketika dan digantikan dengan debaran jantung yang 20x lipat lebih cepat dari biasanya.
"Sebel ah sama kamu! Romantisnya nggak tau tempat! Nggak mandang situasi dan kondisi! Lagi, emang aku barang pake nemu-nemu segala! Tau ah!"Aku bersungut-sungut seraya memasang evil smirkku lalu menggelitik pinggangnya
"Eh..eh.. Jangan digelitikin." Dia menggeliat karena kegelian "Eh..ehh..aduh, jangan digelitikin trus. Ntar dimarahin orang lagi loh." Whateva, tanganku tetap bergerilya di pinggangnya. "Berhenti atau aku cium?" Eh? Apa tadi? Cium? Tanganku berhenti seketika.
"Dasar Indra mesum! Mesum! Mesum! Bodo, aku mogok ngomong sama kamu!" Kataku ketus. Enak aja cium-cium anak orang!
"Yah, kok gitu? Jangan ngambek dong? Janji deh nggak nyium-nyium lagi. Ya?" Rayunya
Dan hari ini kupikir adalah salah satu hal terbaik yang pernah kurasakan bersama indra.
