Chapter 1

99 4 0
                                    

Maaf ya kalau ceritanya kurang bagus dan gak nyambung maklum masih belajar.

Happy reading for you reader

Nadine pov

Hari ini aku menemani Mba Nadia pemotretan untuk salah satu brand yang memilihnya sebagai brand ambasador produk pakaian, karena aku adalah manajernya. Sejujur Ayah dan Bunda kurang setuju saat diriku menjadi manajer Mba nadia karena menurut Bunda hal itu akan berpengaruh pada kuliahku dan juga pekerjaan yang ku ambil di perusahaan keluarga kami.

Mba Nadia sedang melakukan sesi pemotretan dengan seorang model pria dengan mengikuti arahan dari penata gaya sekaligus fotografer yang di percaya oleh pemilik brand.

"Terima kasih untuk kerja sama kalian berdua," ucap fotografer yang ku tau bernama Andi pada Mba Nadia dan juga partnernya.

"Ada jadwal apa lagi setelah ini?" Tanya Mba Nadia saat sudah berdiri di dekat ku.

"Hari ini sudah selesai tapi besok pagi jam 10 Mba ada rapat di kantor manajemen dan jangan lupa juga setelah itu Mba ada wawancara di salah satu stasiun tv jam 1/2 4 acaranya mulai dan itu acara live tapi kita udah harus standby di sana jam 3an," jelas ku pada Mba Nadia seraya berjalan menuju ruang ganti.

"Setelah ini free?" Mba Nadia memastikan jadwalnya sekali lagi pada ku. Sepertinya Mba Nadia masih kurang yakin kalau dia free setelah ini.

"Iya Mba, memangnya Mba mau pergi lagi habis ini?"

"Bagaimana kalau kita shopping?"

"Okey tapi jangan lama-lama ya Mba aku ada tugas kampus,"

"Itu bisa di atur adikku sayang," haduh Mba ku satu-satunya ini genit banget sih biar keinginannya di turutin, salut aku sama Mas Devo yang tahan sama sikap nyebelinnya Mba Nadia kalau udah kambuh kaya gini.

--------

"Ada lagi yang mau Mba beli?"

"Menurut kamu gimana kalau kita beli baju atau dress gitu yang sama buat Mba, Kamu, Nandia sama Bunda?" Usul Mba Nadia.

"Mba aja ya yang milih, okey? Aku mau beli ice coffee, Mba mau nggak?" Tawar ku pada Mba Nadia.

"Kamu tunggu di cafe biasa aja ya nanti Mba nyusul kamu ke sana,"

"Oke, asal jangan bikin Aku sampe jamuran ya Mba," dengan kesabaran ekstra menghadapi mba nadia aku membawa beberapa kantong belanjaan dan menuju cafe.

Sepanjang perjalanan menuju cafe entah kenapa beberapa pasang mata memperhatikan ku saat berjalan menuju cafe, apa ada yang salah dengan penampilanku padahal pakaian ini sama dengan yang ku pakai mengantar Mba Nadia pemotretan tadi.

Aku hanya menggunakan celana jean's dengan kaos biasa dan menggunakan blazer yang senada dengan jean's untuk luaran kaosku, make upku juga tidak tebal aku hanya menggunakan make up natural dan kacamata minusku sedangkan untuk rambut, rambut ku hanya ku gelung asal dan menyisakan anak rambut ku pada kanan kiri sisi wajahku dan kakiku hanya ku pakaikan wedges yang ku pikir akan senada dengan penampilanku hari ini.

"Selamat datang, ingin pesan apa Kak?" Sambut pramusaji padaku.

"Ice coffee satu,"

"Ukuran apa dan atas nama siapa Kak?"

"Medium atas nama Nadine,"

"Ada tambahan?"

"Chocolate cheese cake satu,"

"Totalnya Rp 65.000,- Kak," kuberikan uang 100ribuan miliku.

"Akan kami antar silahkan menunggu," ucap pramusaji tersebut dengan memyerahkan uang kembalian dan juga nomer urut untuk ku menunggu pesanan.

-------------

Entah kemana mba nadia atau entah apa yang sedang dia beli hingga membuat ku menunggunya hampir empat puluh lima menit namun Mba Nadia tidak datang untuk menyusulku atau sudah pulang? Baiklah kita hubungi sekarang jika masih lama maka aku akan pulang lebih dulu.

"Mba, Mba dimana sih?" Kesal, sungguh aku sangat merasa kesal pada mba nadia dan itu ku tumpahkan melalui telepon.

"Mba udah jalan ke cafe kok, tunggu aja di sana," tak lama kemudian Mba Nadia menghampiriku.

"Maaf ya Dek, Mba tadi di depan butik nggak sengaja di wawancara infotaiment tentang peragaan busana kemarin waktu di new york," sesal Mba Nadia dan kulihat sepertinya dia tidak bohong. Baiklah aku maafkan dirimu wahai Mba ku satu-satunya.

"Oke, Mba sudah selesai kan belanjanya? Bolehkan kalau kita pulangnya sekarang?"

"Ayo pulang," ajak Mba Nadia padaku, entah kenapa saat ini malah dirinya yang terlihat semangat ingin cepat pulang dan sampai dirumah.

"Assalamualaikum," salam ku ucapkan bersama dengan Mba Nadia saat kami sampai di rumah.

"Waalaikumsalam," jawab Bunda dari dalam rumah.

"Kalian sudah pada makan belum?" Tanya Bunda pada ku dan juga Mba Nadia.

--------------

"Sudah Bun, Nandia kemana gak keliatan?" Tanya Nadia pada sang Bunda sedangkan Nadine langsung menuju kamarnya sedangkan pasangan ibu dan anak ini duduk berdua di ruang keluarga.

"Ada kerja kelompok di rumah temannya, Nadine mana?" Bunda tak menemukan keberadaan Nadine saat melihat Nadia duduk di sofa.

"Katanya banyak tugas dari kampus dan kantor udah gitu katanya mau ngurus jadwal aku buat 2 bulan lagi," jelas Nadia pada Bunda.

"Kamu gak bisa apa Mba cari manager baru buat gantiin Nadine? Sejak kamu jadi model waktu dia SMA sampe sekarang dia yang jadi manajer kamu, yang bantu Ayah di kantor juga dia, sekarang dia juga lagi kuliah waktunya selalu saja di isi sama kegiatan-kegiatan yang dia lakukan sampe Bunda jarang banget liat dia buat jalan-jalan atau hangout sama temen-temennya, kapan coba dia berubah jadi lebih kenal dunia luar," keluh Bunda pada Nadia yang sudah mulai gregetan melihat kelakuan Nadine.

"Ya mau gimana lagi Bun, setiap aku mau ganti manager biar dia gak kecapean dia malah diemin aku selama hampir 2minggu, aku mana tahan coba di diemin sama keluarga sendiri di rumah ini," keluh Nadia pada sang Bunda tentang sikap adiknya yang kadang terlalu berlebihan itu.

"Semoga saja dia nggak kecapean atau bahkan jadi sakit nantinya gara-gara dia kecapean sama aktifitasnya selama ini," ujar sang Bunda yang mendengar ucapan dari Nadia tentang Nadine menurut Nadia.

"Ya udah sana kamu istirahat nanti kalo udah masuk makan malam bunda panggilin, kebetulan Ayah pulangnya nanti pas makan malam,"

"Sip Bunda sayang," setelah mencium pipi Bunda Nadia langsung bergegas menuju kamarnya.

--------

Saat waktunya makan malam tiba seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan.

"Gimana pemotretan kamu Nadia?" Introgasi Ayah di sela-sela acara makan malam keluarga.

"Lancar Yah,"

"Kalo Nadine gimana?" Introgasi Ayah yang berlanjut pada puteri keduanya, Nadine.

"Semuanya lancar-lancar aja Yah, kerjaan kantor, kampus sama jadwal buat Mba Nadia udah aku handle semua, jadi semuanya udah beres untuk beberapa minggu ini,"

"Kalo Nandia?" Introgasi Nyah berlanjut pada sang bungsu.

"Lancar kok Yah, untuk tugas yang diminta guru kemarin buat di kumpulin minggu ini sama minggu depan udah selesai Nandia kerjain semua,"

"Udah dong Yah biar anak-anaknya makan dulu baru di ajak ngobrol lagi, ini itu meja makan bukan meja meeting," tegur Bunda pada Ayah.

Tbc

---------

Bagi yang sudah membaca author harap mau meninggalkan vomment nya terimakasih dan maaf apabila ada typo yang berlebihan

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 30, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

it's my lifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang