Hari ini, sekolahku akan pergi kemah ke salah satu hutan di Bogor.
Murid-murid di sekolah sangat senang tentunya. Bahkan, banyak sekali dari mereka yang datang 2 jam sebelum waktu keberangkatan tiba.
Aku memperhatikan dari jarak setengah kilometer kegiatan yang mereka lakukan. Nampaknya, ada salah satu murid yang sakit dan akhirnya ia pun tidak diizinkan mengikuti kegiatan ini. Na'as sekali.
Setelah semua murid berkumpul, bus pun berjalan meninggalkan pekarangan sekolah. Aku duduk di sebelah salah satu teman sekelasku.
Di perjalanan, kami tidak berbicang sama sekali sampai akhirnya bus yang kami tumpangi sampai di hutan perkemahan.
***
Udara segar langsung menyengat hidungku. Sudah lama sekali sekolahku tidak mengadakan perkemahan di hutan. Bayang-bayang akan kegiatan yang dilakukan nanti disini membuatku sulit bersabar menunggunya.Setelah menata tenda untuk menginap, kami pun diberi arahan oleh guru kami hal-hal yang tidak diperbolehkan untuk dilakukan di daerah ini.
Sepuluh menit kemudian setelah kepergian guruku, aku mencari dimana keberadaan sahabatku yang menjadi anggota kelas 9A.
Dari awal kegiatan dimulai, aku belum melihatnya sama sekali. Padahal biasanya ia selalu mendatangiku dahulu sebelum aku datang ke tempatnya.Karena sahabatku belum kutemukan, akhirnya aku pergi ke perkumpulan kelasku untuk makan siang.
***
Malam hari pukul 8 malam adalah waktu yang sangat tepat untuk bersenang-senang. Ya, aku sudah mempersiapkan apa yang akan kutampilkan nanti di depan semua pengikut perkemahan ini. Aku yakin pasti diantara mereka tidak menyangka apa yang akan kulakukan nanti.
***
Acara malam ini sebentar lagi selesai dan aku telah menemukan keberadaan sahabatku. Ia sedang mengobrol ringan bersama teman-temannya rupanya.
Aku langsung melakukan aksiku dengan memanggilnya pelan,
"Lana....Lana..."
Sahabatku langsung membalikkan badan ketika mendengarku memanggilnya.
Ia nampak pucat dan berkeringat. Kurasa, ia sedang ketakutan. Namun mengapa?
"Lana sini, aku mau ngomong. Sini Lan." Ucapku memaksa.
Ia tidak menjawab dan berjalan melangkah ke arahku.
Temannya? Teman-temannya sudah pergi semenjak mereka melihatku memanggil Lana.Saat Lana sudah berada tepat di hadapanku, aku langsung membawa tubuh Lana yang lemah ini ke jembatan di atas sungai yang tak jauh dari hutan.
Sungai dibawah jembatan ini aliran airnya deras sekali sampai-sampai orang yang melihatnya dari jauh saja sudah tidak nafsu untuk masuk ke dalamnya. Aku sendiri tidak peduli dengan kata-kata orang yang berpikir bahwa sungai ini tak layak untuk digunakan bermain. Menurutku, tempat seperti ini cocok untuk menguji adrenalin.
Aku memegang tangan kanan Lana yang dingin dan membawanya berjalan ke jembatan. Aku melihat tubuh Lana kaku tak bergerak. Ah ada apa dengan Lana ini?
Saat kami sudah berada di tengah jembatan; diselimuti oleh semilir angin yang berhembus, Lana menitikkan air mata.
"Kita akan bersama-sama lagi setelah ini kan?" Ucapku dengan senyum senang.
Dan hidup Lana berakhir malam ini terbawa aliran sungai.
***
Dear pembaca,Setelah hidup Lana berakhir, apakah kamu menyadari siapa aku sebenarnya?
Biar kutebak, mungkin sebagian dari kamu tahu siapa aku yang sebenarnya dan sisanya tidak tahu siapa aku yang sebenarnya.
Jadi saat ini akan kuberitahu kepadamu. Sejujurnya aku dan Lana itu bersahabat. Kami sangat akrab. Kami selalu menghabiskan waktu bersama, entah itu untuk bersenang-senang, berbagi duka, dan lain sebagainya. Sampai akhirnya, suatu hari aku sedang pergi berjalan ke rumah sakit untuk menjenguk nenekku lalu tanpa kuketahui di samping kiriku ada truk pembawa telur menabrakku.
Setelah kejadian itu aku hanya punya jiwa tanpa raga. Jujur, aku masih sangat ingin menghabiskan masa remajaku bersama sahabatku namun takdir berkata lain.
Karena aku tak tahu apa yang harus kuperbuat untuk bersama Lana lagi, akhirnya kupilih jalan yang paling egois yang pernah kulakukan selama ini.
Ya, aku merasuki tubuhnya lalu menerjunkannya ke sungai. Terlihat jahat memang, namun apa peduliku? Toh tidak ada yang tahu bagaimana hidupku berjalan.
Keesokan hari semua murid yang ikut kemah berpencar mencari Lana dan pukul 10.43 pagi Lana ditemukan di pinggiran sungai berlumuran darah di sekujur tubuhnya. Tubuh Lana dievakuasi dan dikuburkan di samping rumahnya.
Kehidupanku selanjutnya; mengelilingi dunia bersama Lana dengan jiwa yang kami punya.
Salam,
Aku.
***
P.s: Lakuna berarti ruang kosong, bagian yang hilang [kb, Latin]

KAMU SEDANG MEMBACA
Lakuna
Mystery / ThrillerSaat kami -aku dan Lana- sudah berada di tengah jembatan; diselimuti oleh semilir angin yang berhembus, Lana menitikkan air mata.