HSI - Chapter 2

109 11 1
                                    

"Mau nggak gue kenalin." Entah mengapa aku jadi niat banget untuk Ali & Laura bisa jadian.

"Yang mana emang Prill orangnya?"

"Ya emang temen akrab gue sama siapa lagi disekolah ini kalo bukan kecuali sama Ali. Ahelah Laura mah, lo pasti tau kan." Aku mulai sok akrab dengan menyenggol bahunya.

"Alifansyah fahri?" Tanya-nya.

"Iya cantik!" Aku menoel dagunya.

"Malu ah." Tolak Laura.

"Ih Laura jangan gitu ah. Kenalan dulu deh! Ali itu ganteng tauk, pinter, baik hati, dan tidak sombong."

"Gimana ya...." Laura berpikir sejenak. Entah tak mau atau malu-malu mau, ada kemungkinan Ia mulai tertarik. Yes.

Aku menatapnya dengan tatapan lucu. Aku tak mau tau. Laura harus kenalan sama Ali, titik.

"Iya deh iya. Gue cuma kenalan doang kan?"

What? Laura mau? Alhamdulillah... Ali! Gue berhasil bro! Aku bersorak dalam hati.

"Oke deh. Nanti ketemu didepan kantin ya Ra." Pamitku segera berlari ke kelas Ali dengan senang hati. Aku segera berlari menuju kelas Ali di XI A. Ia duduk membaca buku dimejanya yang dekat dengan jendela. Duduk sangat dengan tenang.

"Aleyyy woii..." Aku berlari menghampirinya. Ia mengalihkan pandangannya yang semula pada buku ke arahku.

"Apaan cebol?" Ledeknya.

"Ish sebel! Kurang asem lo." Aku menggerutu. Walaupun aku gak setinggi dia kan nggak usah diperjelas lagi. Nyebelin banget sih!

"Gue mah manis," Ucapnya dengan percaya diri. Memang si manis, tapi ngeselin.

"Udah! Males gue ribut sama lo. Ada yang lebih penting." Ucapku ketus.

"Apa? Paling lo mau cerita tadi gue habis ngobrol sama Erwin." Ucapnya dengan gaya ngomong dimaju-majuin. Gue sumpel nih mulut Lo!

"Ih bukan Ali."

Kring!!! Bel tanda masuk menggema. Tuh kan keburu bel. Aku menggerutu kesal.

"Liat kan jadi bel. Ish elo sih gara-garanya."

"Loh kok gue?"

"Iya lah dari tadi ngajak ribut mulu. Ihh ngeselin ah."

"Ehmmm......" Suara berat seseorang mengagetkanku. Mampus pak Ibrahim guru Pkn yang terkenal kilernya itu sudah masuk ke kalas Ali. Aku segera nyengir kuda dan pasang tampang sok suci sambil kabur secepat kilat. Aku pun segera menuju kelasku. Aku memegangi jantung yang mendadak berdentum tak karuan, belum lagi udara terasa panas dingin rasanya.aneh. oh good. Erwin pemirsah, berjalan mendekatiku.

"Lo dari mana?" Sapanya dengan suara lembut.

"Ah, anu, tadi abis dari kelas Ali." Erwin mengangguk dengan mulut berbentuk huruf O. "Kenapa emang?"

"Nggak. Gue nyariin elo soalnya tadi kata anak-anak lo udah dateng, tapi aneh kok belum nyampe ke kelas."

"Ya.. Yaudah kita ke kelas yuk." Ajakku dengan sedikit gugup.

***

Aku bergegas menuju kantin saat bel berdering. Pokoknya siang ini nggak boleh gagal melakukan pendekatan buat Ali dan Laura. Para siswa berjalan beramai-ramai menuju kantin sekolah sama seperti yang ku lakukan. Kulihat dari kejauhan seperti biasa Ali sudah menungguku sambil berulang kali melirik jam tangannya. Dasar tuh nggak sabaran banget deh. Aku pun setengah berlari mendekat.

"Tumben cepet," kagetnya menatapku yang ngos-ngosan karna tadi sedikit berlari.

"Laura mana?" Ucapannya tak ku hiraukan. Emang ya punya sahabat kayak gini salah. lama salah, cepet juga salah. Intinya aku harus berhasil untuk mendekatkan Ali pada Laura. Nanti kalau urusan mereka sudah selesai kan Ali bisa bantu aku untuk dekat dengan Erwin.

"Mana gue tau." jawabnya acuh.

"Tadi pagi tuh gue udah janjian sama dia didepan kantin."

"Buat apaan?"

"Kan gue mau kenalin sama elo dodol!" Ku toyor kepalanya. Lemotnya Ali kambuh deh.

"Gak usah pake noel-noel kepala gue."

"Idihh sekali-kali giliran gue keles. Masa cuma elo yang boleh noyor gue. Kaga adil."

"Lo nih kan pendek, kecil, cebol, wajar lah kalo gue aniaya. Udah pantes."

"Yeeee enak aja." Kucubit bahunya dengan gemas. Emang gue cewek apaan digituin? Ishh.

"Terus Laura mana?"

"Ih sok jual mahal, padahal pengen nih ye..." Ledekku.

"Prilly." Ku dengar suara lembut memanggilku. Yes! Laura dateng.

""Laura! Lama banget sih." Aku kembali sok akrab sambil cipika cipiki. "Yuk duduk." Ajakku memeluk bahu Laura. Kulihat Ali diam mematung. Mungkin terpesona dengan Laura yang cantik ini kali ya. Bagus deh.

"Nah Li, ini nih yang namanya Laura." Aku memperkenalkan Laura pada Ali. Mereka saling pandang dan tersenyum.

"Laura, ini sahabat tengil aku namanya Ali. Dia ganteng kan? Pokoknya udah aku anggap kayak abang sendiri deh." Kutepuk bahu Ali. "Eh kalian ngobrol aja dulu, kenalan gitu. Gue mau ke toilet." Pamitku pada Laura. "Li, ajakkin ngobrol, jangan dianggurin. Kalo perlu langsung jadiin." Aku berbisik ke telinga Ali. Seketika itu Ali langsung melotot kearahku yang hanya beberapa meter dari tempatnya karena aku langsung ngacir lari takut kena jitakannya. Haha.

Aku pun berjalan menuju taman sendirian sambil harap-harap cemas. Semoga pedekatean Ali dan Laura sukses. Ku pijakkan kaki dan duduk diatas lembutnya rerumputan.

"Boleh gue temenin?" Suara seorang pemuda dibelakang membuatku otomatis menoleh ke sumber suara. Erwin! Ya tuhan dua kali sudah aku hari ini disapanya.

"Iya boleh." Aku tersenyum senang.

"Nih buat kamu." Sebungkus roti coklat dan botol minuman dingin mengarahkan ke hadapanku.

"Makasih ya." Siang ini kuhabiskan waktu bersama Erwin. Kalau lagi jatuh cinta dunia memang serasa milik berdua.

***

"Gimana Li?" Tanyaku tak sabar saat kami berjalan meninggalkan sekolah.

"Apanya sih Prill?"

"Itu lo sama Laura."

"Siapa suruh lo ke toilet."

"Jadi gimana Li? Udah jadian apa belom?"

"Mau lo apaan?"

"Ya elo sama Laura jadian."

"Kalo itu mau elo, itu yang terjadi."

"Ih Ali! Gue serius nih."

"Belom jadian."

"Labil banget sih. Tadi bilang jadian, sekarang belom. Yang bener yang mana?"

"Tau ah." Ali mulai kesal.

"Buruan deh lo tembak, jangan sampe ditikung kakak kelas loh."

"Emang lo pengen banget gue jadian sama Laura?"

"Iya Ali yang ganteng! Biar lo gak galau terus."

"Kalo gue jadian sama Laura lo bakal bahagia gak?"

"Ya pasti lah Li."

"Yaudah deh kalo gitu." Ucap Ali.

"Oke, buruan jadian ya." Aku menepuk bahunya lantas berjalan masuk kedalam rumah. Karena memang sudah sampai.

Cinta itu adalah sebuah objek obsesi. Setiap orang menginginkannya, setiap orang mencarinya. Tapi sedikit orang yang mendapatkannya.
Orang yang pernah melakukannya akan selalu menghargai cinta, tersesat didalamnya tidak akan melupakannya.

***

Vote dan komennya jangan lupa eyy. :)
Sorry jika ada typo

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 30, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Haruskah Seperti IniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang