=Ending=
Myungsoo menutup pintu rumah sakit dengan pelan.
Tangan kanannya membawa sekeranjang pastel buah-buahan.
Bibirnya tersenyum garis melihat Jiyeon yang sedang menunduk sambil memainkan kedua jarinya dengan gemetar.
"Hey. Bagaimana keadaanmu Jiyeon?"
Jiyeon mendongkak dan tersenyum lemah ketika melihat Myungsoo menarik kursi dan menaruhnya dihadapan ranjangnya, matanya beralih melihat buah-buahan segar yang berada dipangkuannya, tadi ketika Myungsoo mengambil kursi dia menaruh pastel buah-buahan itu kepangkuan Jiyeon.
"Kau tentu sudah tahu apa yang terjadi padaku" gumam Jiyeon
Myungsoo mengela nafas pasrah, dan tangannya mengelus bahu Jiyeon
"Jagalah bayi itu.. dia tidak bersalah"
Jiyeon tercengang dan langsung menatap Myungsoo "Iya.. dia tidak bersalah tapi aku yang bersalah"
"Oh tidak Jiyeon.. bukan itu mak-"
"Tidak apa Myungsoo, justru aku berterima kasih padamu yang telah memudarkan rasa kesalku kepada bayi ini"
Dalam pikirannya terus berperang dengan kata-kata yang ingin bertanggung jawab.
Ya Myungsoo berniat ingin menjadi ayah untuk anak Jiyeon, namun masih ada kebimbangan dihatinya dan rasa takut, ..
Myungsoo takut kalau dirinya ditolak kembali oleh Jiyeon dan bimbangnya.. apakah dia sudah siap menjadi ayah untuk anak Sehun?
Jika saja didalam perut Jiyeon adalah bayinya, mungkin dia tidak akan berperang batin ketika malam dingin itu datang, dia pasti akan langsung mempersunting Jiyeon, namun sayangnya keadaan terbalik dengan angannya.
"Jiyeon.."
Baiklah... aku akan membuktikan jika dirinya bukanlah lelaki labil, aku setuju niatku dari awal, batin Myungsoo
Jiyeon terdiam, wajah kusut Jiyeon masih seperti malam kemarin yang menyedihkan.
"Aku mohon Jiyeon kali ini saja pertimbangan permintaanku.. aku- aku ingin menjadi ayah dari anak ini"
Jiyeon membulatkan matanya dan bibir mungilnya pun terbuka lebar yang kemudian dia tutup dengan talapak tangannya yang mungil dan rapuh.
Hanya satu didalam otak Jiyeon, jika Myungsoo saat ini benar-benar gila.
Apa yang lelaki bermarga Kim ini pikirkan, dalam perutnya bukanlah anak dari Myungsoo tapi kenapa dia yang harus menjadi ayah dari anak Sehun?!
Kepala Jiyeon kembali berdenyut nyeri, rasa pusing kembali hadir menyerang sarafnya.
"Jiyeon!" Myungsoo segara memegang bahu Jiyeon ketika Jiyeon tidak sadarkan diri.
Myungsoo membaringkan tubuh Jiyeon dengan hati-hati.
***
Tangan kekar yang putih membuka knop Pintu rumah sakit.
Dibukanya pintu itu dengan pelan, kakinya yang dilapisi sepatu mahal melangkah pelan kearah ranjang rumah sakit.
Matanya yang tajam menatap nanar seorang gadis yang sedang tertidur pulas.
Sehun menghirup udara, dia merasakan sesak dihatinya.
Tangannya terulur untuk menggapai rambut caramel Jiyeon. Tangannya bergetar ketika dia mencoba mengelus lembut rambut Jiyeon.
Akhirnya dia bertemu kembali dengan Jiyeon, dan betapa senangnya Sehun bisa melecak keberadaan Jiyeon
KAMU SEDANG MEMBACA
What With Destiny?! (JYxSH)
Fanfiction[DON'T COPY PASTE MYSTORY!] Aku tahu kehidupan itu tidak bisa diplanning apalagi diatur, hanya Tuhan yang bisa mengubah nasib seseorang. Aku hanya manusia biasa yang mengiginkan kehidupan sederhana.... namun sayangnya tidak semudah yang aku bayang...
