Part 1

2.6K 108 0
                                    

"Ibu, disini sangat silau sekali. Ini semua membuat mataku perih"

"Tenang nak. Jika semua ini telah selesai, maka tempat ini tidak akan membuat matamu kesilauan lagi"

Part 1

Perlahan ku merasakan kesilauan itu menampari wajah ini. Aku terbangun dengan gaun putih nanindah dan begitu mewah serta rambut yang cukup berantakkan. Anehnya ketika itu aku tertidur tepat di tengah - tengah jalan. Jalanan yang sepi dengan pohon yang berwarna putih. Saat itu sedang musim dingin dengan sedikit meninggalkan salju putih yang mulai memudar.

Aku mulai menelusuri jalanan itu tanpa menghiraukan apa yang telah terjadi. Kakiku terus berjalan sambil merasakan kasarnya jalanan. Gaun putih yang ku gunakan ternyata cukup terbuka, tapi dingin tak bisa kurasakan. Pemikiran itu hanya terlintas sebentar dalam pemikiranku. Terus berjalan tanpa tau tujuannya. Yang pasti, aku hanya ingin terus melangkah pergi menjauh dari tempat itu dan tanpa tau alasannya mengapa.

Setelah jauh berjalan. Tanpa sadar telah banyak orang disekelilingku dengan gedung - gedung tinggi yang berdiri kokoh. Aku tepat berdiri di depan sebuah gedung yang terletak di ujung persimpangan. Berjam - jam aku berdiri tanpa merasakan lelah dan hanya terdiam sambil melihat begitu banyak manusia yang berlalu lalang di hadapanku.

Tik....tik... tik....

Satu persatu tetesan hujan membasahi wajahku. Sekarang yang terlihat adalah manusia - manusia yang sedang berlarian menghindari hujan dan sibuk mencari tempat berteduh. Aku hanya tetap melakukan hal yang sama seperti yang ku lakukan beberapa jam sebelum hujan itu turun. Anehnya, hujan turun pada saat masih ada salju.

Disebrang jalan ini, ada sebuah gedung. Disana ada beberapa orang berpakaian rapi sedang berlarian di sekitar gedung tersebut. Sepertinya mereka sedang mencari seseorang.

Tanpa ku sadari, disampingku telah berdiri seorang pria yang memiliki wajah bersinar dan senyuman yang menawan. Ia sedang tersenyum kepadaku. Matanya seakan berbicara kepadaku. Pria itu merangkul lenganku dengan lembut. Ia membuatku berlari bersamanya meningalkan tempat yang telah ku diamin selama beberapa jam tersebut. Kami berlari seakan menantang hujan yang sedang menetes.

Kami berteduh di sebuah halte. Selama hujan terus menetes, ia tak melepaskan rangkulannya serta tak berbicara sedikitpun kepadaku. Ia hanya memandang lurus kedepan, seperti mencoba menghitung tetesan hujan yang tak berhenti - henti menetes. Sedangkan aku hanya terpaku menatap wajahnya. Aku sendiri tak sadar apa yang sedang ku lakukan. Ia membuatku berhenti berfikir.

Tak sadar hujan mulai mereda, tapi aku tak berhenti memandanginya yang sedang memandangi hujan. Tiba - tiba ia menoleh ke arahku.

"Hei... apa kau baik - baik saja?" sepertinya itu yang ia katakan kepadaku. Sudah ku katakan, iamembuatku berhenti berfikir. Entah berapa kali ia mencoba memulai berbicara padaku. Hingga akhirnya yang terdengar jelas ditelingaku hanya "Perkenalkan, nama ku kai...yah kai."

"Jadi, siapa namamu?"

***

Hujan terus berlanjut. Hujan itu hanya mereda beberapa saat seperti memberikan izin kepada Kai untuk memulai perbincangan dengan ku.

Sekarang aku sedang berada di apartemennya Kai. Ia mengajakku untuk singgah di apartemennya itu. Aku pun menyetujuinya tanpa banyak berpikir. Padahal seharusnya aku menaruh curiga kepadanya. Entah mengapa aku merasakan bahwa kami saling mengenal dan begitu terasa dekat.

"Jadi siapa namamu? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku dari tadi? Kau tinggal dimana?"

Ia terus bertanya, tapi aku hanya diam. Entah mengapa aku tak bisa mengeluarkan suaraku. Apayang telah terjadi denganku?

YOUR MY TARGETTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang