Aku tak pernah tertarik padanya. Sama sekali tidak. Dia bertubuh besar dan jangkung. Tapi dia anak gaul di angkatan kakak kelas.
Semua dimulai pada hari itu.
"Eh Nat, lu mau ikut ekskul apa?" tanya Ray disebelahku.
"Ga tau ah, gue bingung tapi gue pengen ikut sesuatu yang menarik" jujur dari kelas 4, aku hanya mengikuti ekskul pramuka dan bina iman saja.
"Ikut basket aja yuk! Gue udah daftar, ayok lu ikut lah" ajak sahabatku itu.
"Tapi nanti kalau gue bosen, gue keluar ya"
Dimulai sejak aku mendaftarkan diri ikut basket, dia muncul dari belakangku.
"Wes, kayaknya kita dapat anggota baru yang jago nih Kris!" dia bicara pada seorang anggota klub lainnya.
Aku tahu dia hanya memberikanku motivasi lebih untuk ikut basket. Dan soal 'jago' itu? itu karena tubuhku lebih tinggi dari yang lain.
Aku hanya berpikir kalau dia orang yang benar - benar berisik. Dan aku benci itu.
Pada hari senin, saat ekskul sudah dimulai, aku dan Ray sedang ganti baju di ruang ganti klub.
Klub basket sekolah kami memang terbilang besar, lengkap dengan 2 lapangan basket indoor dan outdoor.
"Eh, lu pake baju item kan Nat?"
"Lah?" aku segera mencari baju kaos warna hitam, tapi yang kutemukan hanya kaos berwarna pink.
Sontak Ray tertawa terbahak - bahak melihatku.
"Aduhh, Nat lu denger briefing-nya Pak Wadi gak sih? huhahahaha"
Sambil merasa kesal, aku mengenakan kaos sialan itu. Dan pergi keluar ruang ganti.
Masih ada sekitar setengah jam hingga ekskul basket dimulai. Dan perutku mulai lapar.
Di kantin aku sendiri, Ray selalu membawa bekal. Dia selalu membawa bekal seperti sup dan dsb. Jadi dia pasti kerepotan kalau kuajak ke kantin.
Aku beli beberapa makanan, nasi telor dan es teh. Aku berniat jalan ke arah hall tempat ekskul basket, tapi tiba - tiba ada kakak kelas yang menabrakku.Kuah bakso panas menyentuh punggungku. Benar - benar panas sekali.
"Eh sori sori maaf gak liat nih" cewek itu terlihat amat menyesal.
"Iya gapapa kak, ini aku juga lagi gak fokus"
Dengan kencang aku berlari meninggalkan cewek itu. Aku berlari ke toilet hall. Sejenak aku melihat Ray sontak berdiri saat melihatku berlari.
Aku menangis karena sakit. Ini sungguh benar - benar sakit.
"Nat!! lu kenapaa?!!" Ray berlari ke arahku. Ia melihat luka bakar di punggungku.
"Ya ampun Ray lu ga usah ekskul dulu ya, mending ke dokter dulu aja" aku mengikuti nasehat Ray dan ke dokter setelahnya.
Beberapa minggu setelahnya, setelah aku benar - benar pulih, aku kembali ikut ekskul basket. Dan disana aku melihatnya latihan basket.
Hall lenggang sejenak. Hanya beberapa anak yang sedang berlatih. Aku menatapnya men-dribble bola. Lalu tiba - tiba dia berhenti. Dan menatapku.
Tatapan matanya seperti bertanya dan berharap. Matanya sungguh berbinar - binar seperti bintang.
Dia perlahan mendekat.
Mengulurkan lengannya padaku.
"Nama gue Jo"
to be continued.......😆😆
