Seorang lelaki tengah menghampiri seorang gadis yang duduk di bangku penonton, gadis dengan rambut sebahu berwarna cokelat, lelaki itu Nampak tak berminat untuk menyapa, jadi ia langsung duduk disamping si gadis.
"Berhenti menatap Rei seperti itu, Rin. Bukannya mengagumi, kau malah seperti ingin memakannya hidup-hidup" komentar lelaki itu, begitu melihat Rin tengah memelototi seorang pemain basket.
"Ck, berhenti menggangguku Zen" gumam Rin pelan, pandangannya masih berpusat pada pertandingan basket yang sedang berlangsung, atau boleh dikatakan ia masih memandangi Shin yang sedang berlarian sembari mendribel bola.
"Kau yakin dengan perasaanmu pada Rei?"
"Yakin"
"Bagaimana kalau persaanmu itu bukan perasaan suka melainkan hanya perasaan kagum?"
"Tidak mungkin, lagipula apa buktinya jika perasaan yang kumiliki adalah rasa kagum?" ujar Rin, ia benar-benar jengkel dengan Zen yang mengganggu acaranya memandangi Shin.
"Baik, akan kuberikan alasan tapi aku akan memberitahunya secara bertahap, karena jika tidak kau bisa bingung dengan perasaanmu sendiri" Rin hanya menatap bosan melihat kelakuan teman sekelasnya ini.
"Pertama, jika kau memandang mata orang yang kausukai dalam waktu 5 detik kau akan merasakan perasaan berdebar" ujar Zen sembari menangkupkan kedua tangannya ka pipi Rin, membuat gadis ini mau tak mau memandang matanya, walau itu tak berlangsung lama karena Rin dengan cepat memalingkan wajahnya. Zen hanya tersenyum melihat tingkah temannya ini.
"Untuk alasan yang selanjutnya akan kuberitahu secara tiba-tiba, jadi persiapkan dirimu nona" ujar Zen kemudian pergi begitu saja meninggalkan Rin yang masih terpaku membisu.
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi namun sebagian besar siswa sudah pulang dengan langkah tergesa-gesa sehingga dalam waktu kurang dari 10 menit sekolah sudah sepi. Rin nampak berjalan dengan santai melewati lorong sekolah, tanpa ia sadari Zen mengikutinya dari belakang.
"Alasan kedua" gumam Zen tiba-tiba, membuat Rin yang ada didepannya tersentak kaget dan langsung menoleh kearah Zen.
"Jika kau membuat kontak fisik dengan orang yang kau sukai, kau akan merasakan ribuan kupu-kupu terbang memenuhi perutmu, itu ungkapan perasaan senang" Zen menggenggam erat tangan Rin, membuat si pemilik tangan merasakan hal aneh, tanpa Rin sadari Zen tersenyum menatapnya.
"Ayo pulang" ujar Zen sembari menuntun Rin keluar sekolah. Sesampainya di depan rumah Rin, Zen melepaskan genggamannya.
"Sampai jumpa pendek" gumam Zen, lalu membiarkan Rin berjalan menuju gerbang rumahnya.
"Aku menyukaimu" bisik Zen saat Rin hendak membuka pintu, membuat Rin langsung menoleh Zen.
"Ada apa?" tanya Zen seakan tidak terjadi apa-apa.
"Tidak, hanya sepertinya aku melupakan sesuatu" jawab Rinpelan.
"Kalau begitu masuklah, ini sudah sore. Sampai jumpa" gumam Zen lalu pergi begitu saja, meninggalkan Rin yang nampak kebingungan.
Sore itu, sebagian siswa nampak bersemangat menonton pertandingan sepak bola, mungkin karena permainan Zen yang lincah sehingga tim lawan kelelahan dan kalah. Begitu permainan selesai Zen langsung berlari ke bangku pemain, menghampiri Rin lebih tepatnya.
"Bagaimana, permainanku keren kan?" tany Zen antusias sembari menerima handuk dan air mineral yang ditawarkan.
"Lumayan" komentar Rin pendek.
"Ck. Jika itu Shin, pasti kau akan mengomentarinya panjang lebar" protes Zen yang tidak setuju dengan komentar Rin, sedangkan Rin hanya menatap Zen dalam diam.
"Rin, besok bagaimana kalau kita belajar bersama? Kau tahu kan nilai sejarahku itu sedang dalam keadaan sekarat" pinta Zen dengan wajah memelas.
"Ok, besok jam 2 sore di rumahku, kalau telat sedikit saja aku tidak akan mau mengajarimu" jawab Rin sambil bersiap-siap pulang.
"Terima kasih, pendek" ujar Zen usil sembari mengelus rambut Rin, membuat si pemilik rambut diam membisu.
"Rin" panggil Shin tiba-tiba membuat Zen menghentikan kegiatannya mengelus rambut Rin. Jujur itu membuat Zen sedikit jengkel pada Shin. Rin yang mendengar namanya dipanggil langsung menghampiri Shin dan kemudian mereka nampak larut dalam sebuah pembicaraan. Entah kenapa ada perasaan aneh yang menyelinap di hati Zen, perasaan kesal, jengkel sekaligus iri , atau mungkin bisa disebut cemburu. Tak lama kemudian Rin menghampiri Zen sembari tersenyum lima jari.
"Sampai jumpa besok" ujarnya lalu pergi begitu saja. Jujur Zen ingin sekali menghentikan Rin dan menanyakan perihal obrolannya tadi bersama Shin namun bibir tak mengeluarkan sepatah katapun.Ugh. mungkin ini efek cemburu tadi.
***
Sudah setengah jam Rin mengoceh, lebih tepatnya menjelaskan materi sejarah yang Zen tidak mengerti. Namun bukannya ada kemajuan, Zen malah makin dongkol, ia masih memikirkan masalah kemarin. Terlalu banyak pertanyaan dalam benaknya namun tak satupun yang keluar dari bibirnya.
"Rin, jujur dari tadi aku sama sekali tidak mengerti penjelasanmu" ujar Zen.
"Bagian mana yang tidak kau mengerti?" Tanya Rin dengan nada jengkel.
"Sebelum itu, apa yang kau bicarakan dengan Shin kemarin?"
"Bukan masalah penting. Dia hanya ingin mengajakku berkencan" jawab Rin santai sembari melihat buku sejarah yang ia bawa.
"Ken—can? Lalu kau menerima ajakannya?"
"Tidak, karena aku harus mengajarimu sejarah"
"Hhh. Kupikir kau akan mengabaikanku dan menerima ajakan Shin. Jadi kau sudah sadar kau suka pada siapa?" Tanya Zen yang penasaran.
"Sudah. Ternyata yang kusukai bukan Shin" jawab Rin pelan. Tanpa Zen menahan nafas mendengar itu.
" Tapi Zen, orang itu kau." Gumam Rin sembari menunduk malu, wajahnya memerah seperti tomat. Sejenak keheningan terjadi karena ucapan tadi, suasana canggung juga memenuhi ruangan belajar tersebut.
"Aku juga menyukaimu, jauh sebelum kau menyadari itu." Ujar Zen dengan bersungguh-sungguh membuat Rin yang tadinya menunduk, menatap Zen dalam diam dengan muka memerah.
"Jadi sekarang kita pacaran?" Tanya Zen dengan muka kemerahan, Rin yang mendengar itu hanya membalasnya dengan sebuah anggukan pelan.
"Terimakasih, Rin" ujar Zen tulus, sesaat setelahnya mereka terdiam. Bingung harus memulai darimana, hingga akhirnya kakak Rin datang, merusak momen tersebut.
