Tuhan, untuk sementara saja, kumohon matikan semua fungsi indera di tubuhku. Hidungku tak bisa lagi menghirup udara yang dihirupnya juga. Kulitku tak dapat lagi merasakan belaian angin yang membelainya juga. Telingaku tak sanggup lagi mendengarkan bisikan hujan yang meneriakkan namanya. Mataku tak berani lagi menatap dirinya. Dan bibirku telah kehilangan suara, bahkan untuk sekadar menyapa dan menanyakan kabarnya. Bukan karena tak ingin, tapi karena tak lagi memiliki izin. Aku memutuskan untuk memejamkan mata, menengadahkan tangan dan menghela napas panjang. Sekadar untuk merasakan titik-titik air yang menenangkan. Aku tak ingin mati dibunuh keheningan.
Setelah merasa sedikit tenang, mataku membuka perlahan. Tiba-tiba dia tidak ada. Aku mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan dirinya. Di mana dia? Dari balik kerumunan, terlihat dia berjalan tenang dengan membawa martin tua miliknya. Martin tua itu, yang dulu selalu menemani hari-hari kita. Dia dan martin tua adalah sesuatu yang dulu sangat kusyukuri karena ada di hidupku dan menjadi milikku. Lalu dia menarik kursi dan duduk di sampingku. Memetik senar martin tua. Menciptakan nada-nada indah yang sering kita nyanyikan bersama. Tanpa kusadari, aku bernyanyi mengikuti melodinya. Tersalurkan aliran syaraf buntu. Martin tua. Media pembuka. Berdansa sore hariku. Sejiwa alam dan duniamu. Melebur sifat kakuku. Rasanya tak cukup waktu. Terlalu cepat berlalu. Soreku nyaman denganmu.
Di akhir lagu, dia memelukku.Lama. Sangat lama. Aku tersenyum dan membalas pelukannya. Ya Tuhan! Aku sayangdia. Sungguh! Sangat! Kumohon hentikan waktu. Biarkan seperti ini saja. Tapitiba-tiba dia melepas pelukannya, berdiri, dan menatapku dalam. Matanyamemerah, bibirnya bergetar. Ada sesuatu di matanya yang tak mampu kupahami maksudnya.Ada sesuatu di sudut bibirnya yang tak mampu kuartikan maknanya. Lalu diapergi, membawa martin tuanya, dan menerobos hujan. Kurasa, kali ini, dia yangpergi, dia juga yang tersakiti.

YOU ARE READING
Martin Tua
Teen FictionLalu dia pergi, membawa martin tuanya, dan menerobos hujan. Kurasa, kali ini, dia yang pergi, dia juga yang tersakiti.