BAGIAN SATU

22 0 0
                                    

BAGIAN SATU : Hai, Kafka

————————✩—————————

"I want you to know, Kafka.
In this times, i was born."

————————✩—————————

H-a-i, Kafka

Aku ngga tahu harus mulai nulis notes ini dari mana mungkin harus memperkenalkan diri dulu kali, yay.

Namaku Dinda.

Adinda Bilqis, kelas XII Akuntansi yang sebentar lagi akan menghabiskan masa jabatannya sebagai pengurus OSIS yang kerjaannya cuma bisa nyerocos dan ngomelin anak orang. Orang-orang baik biasa memanggilku Adinda, sementara orang-orang jahat lebih suka memanggilku Ababil. Karena bagi mereka, kedatanganku yang tidak jelas dan langsung membabi buta, itu cocok disamakan dengan burung asal Neraka.

Kamu mungkin tahu siapa aku. Itu juga baru mungkin. Yah, tapi setidaknya kamu pasti pernah sesekali melihatku di tengah-tengah atau barisan terbelakang lapangan sekolah ketika upacara ingin dimulai untuk memanggil siswa-siswi yang melanggar aturan.

Lalu dengan gosip si Adrio, teman sekelasnya saat kelas X-XI, yang katanya suka aku. Dan ada juga Arsenio—lelaki pendek yang menjadi sahabatku sejak MPLS—teman sekelasmu dari kelas X Multimedia hingga sekarang ini. Ketika aku ke kelasmu untuk memanggil Merry, selaku bagian dari OSIS, aku selalu saja diejek oleh teman-teman Adrio. Shit, bahkan mereka bilang aku cocok dengannya, Kaf. Tapi aku yakin kamu sependapat, kalau kita berdua mungkin hanya sebatas saling tahu tapi engga saling kenal.

Pertama-tama,

Aku mau menjelaskan kenapa aku menulis curahan isi hatiku ini dalam sebuah folder dokumen MS. Word (yang berjudul DEAR YOU) adalah karena aku mau mengungkapkan perasaanku terhadap kamu ke dalam  bentuk kata-kata, berharap supaya aku bisa.. yah, sedikit merasa lega.

Kenapa engga di buku tulis aja atau aplikasi notes? Jawabannya, hanya satu; aku itu pemalas. Aku itu tipe manusia paling malas. Jika harus "menulis" itu adalah pekerjaan paling memuakkan karena nyatanya tulisan tanganku tidak sebagus buatan orang lain.

Lalu, mengapa di MS. Word? Bagiku, selain bisa diubah jika ada yang menjanggal, ini lebih mudah bagiku karena cuma mengetik tanpa harus memikirkan perasaan orang lain yang jengkel terhadap tulisan semrawutku.

Ya, walaupun sebenarnya, aku tahu ini agak percuma sih. Karena kalau dipikirkan kembali, engga ngaruh juga soalnya kan ngga bakal ada yang minat buka dan baca dokumen curhatan hati ini termasuk kamu.

Meskipun sesekali laptop yang dipakai ini seringkali dibawa jika memang diwajibkan.

Yang kedua,

Sejujurnya aku masih heran tentang alasan mengapa hatiku bisa secepat ini membiarkan orang lain masuk ke dalam, dan singgah disana untuk waktu yang tidak dapat ditentukan.  Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, "Salah ngga sih, Kafka, kalau perasaan ini ada? Kalau aku suka kamu, dan aku senang merasa seperti itu?"

Atau akunya aja yang terlalu berlebihan dalam menanggapi hal ini ya? Mengingat kita kan ngga pernah satu kali pun ngobrol layaknya seorang teman/sahabat (seperti aku dengan Arsenio). Lagi pun, aku ini lagi masa puber kok, jadi sepertinya ini hal yang lumrah bagi perempuan remaja seperti aku yang jatuh cinta dengan seorang lelaki.

Ah, entahlah, Kafka. Aku juga engga ngerti. Tapi yang jelas, aku udah engga bisa bohongi perasaan aku sendiri, lalu pada Arsen juga, rasanya percuma.

Apalagi hatiku selalu engga siap menerima kenyataan kalau nyatanya kamu sudah menjalin hubungan khusus dengan Hanin semenjak menginjak bangku kelas X.

I'm so sorry Kafka.

01 Desember 2018,
ADINDA BILQIS

Hai, Kafka!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang