Matahari menyapa dengan sinarnya masuk menelusup melalui jendela kamar, yang disambut oleh suara dering alarm Jam Waker. Mambangunkan seorang remaja perempuan dari bunga tidurnya. Diregangkan semua bagian tubuhnya. Ia merlirik kearah jam yang berada diatas meja samping ranjangnya dengan tatapan malas.
"Ah kenapa harus bunyi sih? heyy?? ini kan hari minggu!?"
Ujarnya sambil mematikan alarm itu dan kembali menarik selimutnya. Namun matanya tidak bisa lagi diajak kerja sama. Ia akhirnya memutuskan untuk bangkit dari hibernasinya itu. Ia melangkah keluar kamar dengan keadaan setengah sadar. seperti separuh nyawanya masih tertinggal dialam bawah sadar. Ia memperhatikan keadaan keliling. Rumahnya kosong melompong, tak ada seorang pun diruangan keluarga. Dilangkahkah kakinya menuju Dapur untuk mengambil air dingin dikulkas.
"ehh non putri udah bangun?"
"Eoh!? ada bi Imas. Kirain Orang orang pada ilang ditelen bumi."
"eh si non, kalo ngomong."
"Papa kemana bi? Udah pulang?"
"Sudah non, tapi kayanya bapak masih dikamarnya."
"terus Bang Dimas kemana?"
"Oh, kalo den Dimas mah biasa non hari minggu. Dia kan suka pergi sepedahan."
"Humm gitu. Yaudah bi, Aku mau mandi dulu ya. Ada janji siang ini sama Fathia."
"Oh iya non, nanti bibi siapin ya sarapannya."
"Iya bi, makasih ya."
Putri pun pergi meninggalkan Bi Imas yang lagi sibuk siapin sarapan didapur. Saat ia ingin melangkah masuk kedalam kamar. Ia melirik pintu sebuah ruangan yang tak lain adalah Kamar Ayahnya. Ia menghela nafas panjang dan beralih masuk kedalam kamarnya.
<<<FLASHBACK 1 MINGGU YANG LALU
"Kak Andries?/ekspresi shock/" (ini tuh si putri kaya pasang ekspresi kaget kecewa gitu loh. liat orang yang dia taksir ngegandeng wanita cantik yang gak lain ternyata pacarnya. *AWAS POTEK)
"eh Put, kenalin ini Chyntia. humm.. dia Calon aku."
"o-oh.. haii, Putri."
"Udah ya put, kita duluan."
"O-oh.. i-iya kak Andries,,"
Putri Pov
Malam itu setelah bertemu kak Andries dengan pacarnya di acara perkawinan rekan kerja papa. Aku menangis dan meminta papa, agar dia melakukan hal pendekatan antara aku dan Kak Andries. Tapi yang didapat adalah omelan dari Papa.
"Papa gak suka ya sama sikap kamu yang agresif kaya gitu ke teman papa si Andries. Kalian itu sudah batal tunangan. Gak usah baperan kaya gitu. Lagi pula juga Andries sebentar lagi akan tunangan sama Chyntia. kamu juga masih terlalu kecil."
"Papa kenapa sih nyalahin aku terus? jelas jelas, papa yang jodohin aku sama dia waktu itu. Sekarang aku minta kejelesan tentang hubungan aku sama dia. papah malah kaya gini. seakan aku yang salah."
"kamu banyak berubah ya, nak. TERSERAH. Kamu intropeksi diri aja. apa yang membuat Andries pergi dari kamu dan membatalkan pertunangannya."
"Okayy, aku yang salah. aku lagi."
Aku menangis malam itu gak karuan. Selama ini papa gak pernah kasar seperti itu padaku. apa aku salah, aku kaget, shock saat kak Andries tiba tiba menggandeng seorang wanita, saat cincin pertunangan itu masih melingkar dijari manisnya. Bahkan aku sendiri gak tau dimana letak kesalahannya. Dan lebih parahnya, ia terang terangan seperti itu didepanku saat tak ada kata batal diantara kami.

YOU ARE READING
Story of Book 2018 - Mr. Adi -
FanfictionBagaimana perasaan kalian, jika harus mengakhiri suatu hubungan saat sedang baik baik saja karena menganggap hubungan itu suatu kesalahan yang seharusnya tidak terjadi? dan berakhir dengan penyesalan? Cerita ini akan menceritakan suatu, kisah kegaga...