SHIT

47 12 4
                                    

'Shit'

Sambil melihat ke arah arlojinya, Matt terus berlari menyusuri lorong sekolah barunya. Bukan tanpa alasan dia berlarian seperti waria tertangkap satpol pp begitu, itu karena dia terlambat di hari pertama menjadi murid baru, mengesalkan bukan?

Matt berharap agar dapat bertemu dengan seseorang sekarang, dia benar-benar tidak tahu ke arah manakah ruang guru berada, sekolah juga sudah tampak senyap.

"Woi." Matt berteriak kepada seorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.

"Syukurlah aku bertemu denganmu, bisakah kau menunjukkanku ke arah manakah ruang guru berada?"

Orang itu tampak mengerutkan dahi sebentar sebelum menjawab permintaan Matt. "Ok, ikuti aku."

Orang itu kemudian berjalan mendahului Matt, dan mengintrupsikan agar Matt segera mengikutinya.

"Oh iya, nama kamu siapa?" Matt mensejajarkan posisi mereka dan mengulurkan tangannya kepada orang itu.

"Lizzy, Lizzy Grant," jawab orang itu tanpa membalas uluran tangan Matt.

'Apa-apaan ini, dia tidak menjabat tanganku? Dasar jual mahal'

Matt menarik tanganya lagi dengan perasaan sedikit tersinggung. "Oh hi Lizzy, namaku Matthew Co ... "

"Ini ruang guru, kau bisa masuk sekarang," kata Lizzy memotong percakapan Matt.

"Oh ok, terimakasih Lizzy," kata Matt seraya menarik sudut-sudut bibir ke atas.

Tanpa menjawab terimakasih dari Matt, Lizzy dengan segera meninggalkan Matt menuju ke kelasnya. Setelah melihat punggung Lizzy benar-benar menjauh, Matt mengubah senyumnya yang semula seperti malaikat surgawi menjadi malaikat pencabut nyawa.

"Bersiaplah untuk merasakan kejamnya dunia, Lizzy Grant."
--------------+-----------+----------+--------+--------+--------

Setelah menyelesaikan urusannya di ruang guru, Matt langsung menuju ke kelasnya, yang ternyata Blake juga berada dalam ruangan yang sama dengannya.

"Maaf, aku terlambat. Aku murid baru," ucapnya kepada seorang guru yang sedang mengajar

"Masuklah, perkenalkan dirimu!" jawab sang guru dengan senyumannya

"Hai. Namaku Matthew Collins. Aku murid pindahan dari Russia.."

"Rasis!" saut seorang murid.

"Diam, lanjutkan Matt!" guru tersebut menyuruh Matt untuk kembali melanjutkan pembicaraannya.

"Jadi, ya, aku dari Russia. Aku pindah ke New York karena ada alasan keluarga. Aku harap bisa berbaur dengan baik, dan berteman dengan kalian."

"Baik lah Matt, silahkan duduk!"

Matt mencari tempat duduk, dan hanya ada 1 yang kosong. Bangku pojok yang gelap dan dia duduk bersampingan dengan Jessica Harries. Cukup penuh dengan kejutan bukan?. Matt sekelas dengan Jessica dan Blake. Entah apa dia akan terjangkit virus dari keduanya atau tidak.

"Hai." sapa Matt kepada Jessica

"Apa mau mu?" jawab Jessica dengan kerutan di dahinya.

"Aku hanya ingin tau, kenapa pintu itu rusak?"

"Karena Blake."

"Kenapa dia merusaknya?"

"Tidak bisakah kau diam?"

Dan itu menjadi akhir pembicaraan mereka saat itu. Saat hendak mengalihkan pandangannya, Matt melihat ada tato berbentuk lingkaran dalam segitiga di tangan Jessica.

"Aku tau apa yang ada dalam pikiranmu Jessica, kita memiliki pikiran yang sama." Matt bergumam pelan, terlalu pelan hingga hanya dirinya yang mampu mendengarnya.

Disaat yang bersamaan, Jessica menatap Matt, dan Matt membalas tatapan Jessica dengan senyuman.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 28, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DELIVEREDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang