Pulang
Sica, sica malam ini hujan mendadak turun deras sekali, kamu pasti tidak pulang lagi.Sica kembali secepatnya, aku benci merindukanmu sendirian, aku benci pengapnya kamarku, pasti karena hujan, atau karena masih ada jejakmu yang tertinggal disini.
Kembalilah seperti janjimu yang kau ucapkan minggu lalu. Tidakkah kamu merindukan kekasihmu? Bukankah cukup buat mereka menikmati wajahmu yang muncul di berita akhir-akhir ini. Sica, aku ini egois, aku tidak ingin ada lebih banyak bagian darimu kau bagikan kepada mereka, aku ingin kau untuk aku dan aku saja.
Bagiku yang tahu bagaimana jeleknya saat hidungmu mengkerut, bibirmu manyun dan sikap kekanak-kanakanmu yang kurang ajar aku heran kenapa begitu banyak orang memuja memujimu cantik, berprestasi, dan omong-omong kosong lain yang sering membuatku mendecih jijik.
Sica, Jessica kamu gadis dinginku yang keras kepala, aku tidak mencintai hal-hal baik yang ada pada dirimu karena semua orang tahu itu, aku tidak sama dan tidak ingin sama. Aku senang kamu tidak malu menunjukan buruk-buruknya sikapmu, dan wajahmu yang tanpa dempul itu dihadapanku, karena kamu tahu aku mencintaimu bagaimana sungguh-sungguhnya kamu.
Aku masih betah menunggumu sambil menatap jendela, mendengarkan dentingan jam dinding bersamaan dengan bulir-bulir hujan yang menyentuh kaca tapi tubuhku masih dingin tanpa sambut pelukmu.
Aku merindukanmu.
Kemarin malam aku putus asa mencoba meraihmu lewat telepon, aku mati-matian ingin bertanya bagaimana tanggapanmu soal headline yang bilang kamu segera pergi dari sini, tempatmu, bersama pria yang kau sebut temanmu itu.
Omong kosong media, aku tidak percaya. Tapi tampaknya kamu menjawab pertanyaanku dengan cara yang lain.
Teleponku tak kunjung kamu jawab hingga hari ini, tapi kenop pintu terputar, kamu pulang.
"Yuri."
Hangatnya pelukmu sudah jadi candu, kamu tersenyum sambil menghampiriku. Lucunya tubuhmu yang mencari-cari kenyamanan dalam peluk tubuhku.
"Aku merindukanmu." ucapmu tidak jelas terhalang kain sweater.
Aku tidak bertanya walaupun sesungguhnya aku ingin. Melihat wajah lelahmu menyambutku malam ini sudah cukup membuatku yakin kau masih mencintaiku, bukankan begitu?
Singkirkan dulu bapak-bapak kaya yang menawarimu dunia, biarkan aku yang ada disampingmu, biar kutawarkan apa-apa yang tak bisa kau beli dengan uang.
"Bagaimana bisnismu, lancar?" tanyaku sebagai gantinya.
Kamu mengangguk masih mersa dipelukanku.
"Om Ty memperlakukanku dengan baik."
Itu dia kau sebutkan ketakutanku, ancaman terbesarku, musuhku, sainganku merebut cintamu.
Seperti paham dengan raut wajahku yang berubah ketika kau menyebutkan namanya, tanganmu bergerak mengusap punggungku menenangkan keteganganku menghilangkan semua kecemasanku.
"Jangan khawatir soal berita kemarin, aku tidak akan pergi meninggalkanmu, kamu tahu aku mencintaimu Yuri."
"Aku tidak khawatir tuh." jawabku melepas pelukanmu, mengganti posisi tanganku yang kini melingkar di pinggangmu lalu jatuh cinta lagi sambil menyelami mata coklatmu.
"Bohong."
Aku tertawa. "Iya, aku bohong."
Pipimu merona merah, kita sudah saling mengenal lebih dari satu dekade dan bersama hampir setengah dekade tapi kau masih malu-malu saat aku menggodamu.
Kukecup bibir mungil milikmu, kutatap matamu, kukecup lagi bibirmu dan kutatap lagi matamu, beruntungnya aku.
"Yuri, berhentilah khawatir, siapa juga yang mau dibawa lari Om Ty, aku memperlakukannya dengan baik karena dia mempercayakan uangnya padaku, sudah itu saja. Dia terlalu tua untukku lagipula yang aku mau kamu Yuri."
"Aku tidak percaya."
"Bagaimana caranya biar kamu percaya?" kamu bertanya, menyilangkan tanganmu didepan dada, melepaskan rangkulan tanganku dari pinggang kecilmu.
"Nikahi aku, ayo kita menikah."
Alismu terangkat, jelas sekali menganggap ucapanku hanya satu dari banyaknya candaan yang sering keluar dari mulutku seperti sebelumnya, tapi Sica, aku serius.
"Kapan? Besok? Baiklah." jawabmu lalu mengecup bibirku.
"Tidak, aku tidak bercanda. Ayo kita pergi ke luar negeri lalu menikah."
"Bagaimana dengan member yang lain?"
"Tidak apa-apa, mereka mengerti."
"Baiklah, ayo kita menikah lalu punya anak yang banyak, seperti yang kamu mau."
Hanya seperti itu, lalu kemudian aku tenggelam lagi dalam cintamu, hangatnya bibirmu memanjakan sepasang milikku jadi hal terbaik yang terjadi malam ini, ditengah hujan deras kamu memilihku untuk jadi tempatmu pulang.
End.
AN: Jadi begini, cerita yang dipublish di lapak yang ini memang hanya berbentuk oneshoot atau multishoot yang kebanyakan memang author gambarkan sebagai sudut pandang Yuri, tapi gak menutup kemungkindan akan ada sudut pandang dari tokoh lain yang muncul disini.
Jadi apakah kalian-kalian tertarik sama cerita semacam ini? Kalau memang banyak yang minat baca, bakal author terusin, kalau memang enggak mungkin bisa aja di unpublish, sesuai rencana memang begitu.
Vote+comment!
Thankyou

KAMU SEDANG MEMBACA
Playlist [Discontinued]
FanfictionEvery song has a different story, and here's the playlist. #oneshoot