“Ayah tak ingin melihatmu lama-lama bersedih. Menikahlah dengan Minhyung-ssi.”
Dua pemuda dihadapan pria paruh baya itu nampak sama tak bisa berkelit lidah. Lebih memilih menunggu lanjutan yang lebih tua.
“Aku juga akan pergi, tapi Jaemin masih bersedih. Aku harap Minhyung akan mengembalikan cahaya mentari musim panas Nana-ku.”
Putra dari pria tua itu bersuara.
“Pergi? Ayah akan pergi kemana?”
Chanyeol tersenyum kecil. Di belakang putranya, Minhyung juga melukis tanda tanya ditengah alis camar-nya.
“Kemarin dokter bilang padaku, hidupku tak akan lama lagi. Lagipula, ibumu terus memanggil aku untuk ditemani disana.”
Dagu Chanyeol menengadah keatas langit. Tentu saja Jaemin menangkap apa maksudnya.
“Tidak, Ayah! Ayah sedang berbohong dengan lelucon garing lagi, ya?!” pekik Jaemin.
Sekali lagi, senyuman kecil itu kini disertai kekehan renyah.
“Makanya, sebelum acara pemakamanku, kalian harus sudah menikah.”
Pernikahan yang bagi Jaemin adalah yang kedua, dilaksanakan dengan sederhana. Bahkan, ayahnya yang menginginkan pernikahan ini pun tak hadir.
Selesai dengan upacara pernikahan, maka esoknya adalah upacara pemakaman ayahnya.
Ia mulai terbiasa dengan keadaan ini, sehingga ia bisa merelakan kepergian sang ayah.
Hanya saja Jaemin tak menyadari atau mengingat bahwa ucapan— 'ayahmu akan merasa lebih baik terlepas dari sakitnya dunia dan menemui kekasih hatinya disana.' —itu keluar dari mulut suami yang tidak ia cintai. Yang membuatnya menjadi tegar.
Walaupun akhirnya ia dan Minhyung bisa mewujudkan keinginan ayahnya, namun tetap saja mereka belum bisa membiasakan keadaan.
Ini hanya tentang waktu. Rasa cintanya begitu besar terhadap Jeno, hilang ikut terbawa mati. Hingga Jaemin tidak atau belum bisa menerima limpahan cinta Minhyung barang sedikit. Ia tidak tahu.
Angin musim semi memang menyenangkan, hingga bunga matahari yang sengaja ditanam oleh tetangganya itu ikut menari.
Ia berlari kecil dengan sedikit menari, meliuk-liukan tangannya seirama dengan bunga matahari itu. Ditangan kirinya, secarik kertas digenggam. Bukan kertas biasa, itu poster pembukaan kelas menari.
“Hei, Jaemin! Kau menari bersama setangkai bunga?!” suara tetangganya itu menginterupsi.
“Hehe, bunga ini sangat bagus! Rawat dengan baik, ya Paman!”
Paman itu terkekeh dan menggeleng.
“Sudah punya suami, tapi kau masih anak yang nakal, ya? Haha.”
Itulah mengapa Mentari musim panas sangat menyenangkan ditengah-tengah musim semi, hingga tak satupun orang berharap akan datangnya hujan.
KAMU SEDANG MEMBACA
✔️Day After Day [MarkMin]
Fanfiction«COMPLETED» Minhyung pria sederhana mencintai Jaemin yang bagaikan setangkai mawar. Mudah untuk dimiliki, namun sulit digenggam olehnya. Apa yang akan Minhyung lakukan untuk mendapatkan hati Jaemin? Mark & Jaemin area!!!^_^
![✔️Day After Day [MarkMin]](https://img.wattpad.com/cover/208960014-64-k999352.jpg)