o n e

38 1 0
                                    

Suara dering ponsel berhasil menembus indra pendengarannya. Eunbi berdecak kesal karena suara itu tak kunjung berhenti. Seolah memaksa kelopak matanya untuk terbuka. Tangannya bergerak asal mencari keberadaan benda kotak itu. Matanya mengerjap-ngerjap membaca siapa pengganggu tidurnya di hari libur ini.

Dahinya mengernyit bingung melihat deretan yang tidak ia ketahui. Tak lama suara dengan nada tinggi dan tidam enak didengar menyerang telinganya. Eunbi menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Ia sudah tahu siapa pemilik suara cempreng ini.

"Eunbi kau dengar aku?!"

"Iya aku di sini. Pelankan suaramu. Aku tidak tuli."

"Ah, maaf Eun. Kupikir aku sudah berbicara dengan volume paling kecil."

"Ya, ya. Ada apa?"

Eunbi bangkit dari posisi tidurnya. Menggeser kain putih yang menutupi jendela kamarnya. Cahaya kuning yang hangat langsung menyeruak mengenai wajahnya. Benda persegi panjang itu masih menempel pada telinga kanannya. Suara Namchin masih terdengar dengan jelas. Gadis itu bercerita dengan kesal tentang ponselnya yang rusak akibat jatuh ke dalam mangkuk yang berisi susu dan serealnya saat sarapan tadi. Eunbi hanya mendengarkan. Ia tidak begitu menanggapi.

Posisinya kembali kepada benda empuk yang nyaman. Kelopak matanya hampir saja akan tertutup namun tertunda akibat suara tangis dan teriakan dari Namchin. Eunbi mendengus. Ia mengingat kejadia beberapa minggu yang lalu. Saat mendengarkan curhatan Namchin tentang kematian kucingnya. Namchin terus menangis dan teriak dengan keras selama satu jam lebih. Tangisan Namchin tersebut mengurangi fungsi telinganya. Eunbi merasa pendengarannya jadi tidak bagus. Ia tidak mau hari ini telinganya menjadi tambah buruk.

"Aku matikan, ya. Telfon Heami saja."

"Jangan! Heami sedang sibuk dengan Taehyung. Ah, iya, ngomong-ngomong soal mereka, bagaimana kalau kita ikut mereka menonton hari ini. Aku bosan sekali. Kau tidak mau kan dengar aku mati kebosanan?"

"Mati saja."

Eunbi memperbaiki posisinya mencari posisi nyaman yang pas. Ia mencoba memejamkan matanya. Persetan dengan Namchin. Suaranya sudah tidak terdengar lagi karena Eunbi memutuskan panggilannya. Bahkan Eunbi sudah mematikan ponselnya. Paham betul jika Namchin pasti akan terus menghubunginya sampai Eunbi mengiyakan permintaannya. Lagi-lagi ia mendengus. Entahlah sudah berapa kali ia mendengus pagi ini. Pikirannya melayang pada ajakan Namchin tadi. Menonton bersama dengan Taehyung. Pria aneh itu. Eunbi malas jika harus bertatap muka dengan Taehyung.

Tiba-tiba sebuah ingatan terputar dalam pikirannya. Pagi itu jadi pagi yang tidak baik untuk kesehatan jantung Eunbi. Entah bagaimana ceritanya, Taehyung muncul dalam bus yang Eunbi naiki menuju sekolah. Ia duduk tanpa permisi di sebelah Eunbi. Eunbi sangat tahu bahwa rumah mereka tidak searah. Namun gadis itu enggan membuang tenaga untuk menanyakan tentang keberadaan pria di sebelahnya ini.

Hening. Tidak ada percakapan yang terjadi di anatara mereka berdua. Pandangan Eunbi fokus ke arah jendela. Memperhatikan hiruk-pikuk kendaraan yang melaju sepanjang jalan kota Seoul. Taehyung yang merasa diabaikan tentu tidak terima.

"Kau terlihat lebih cantik dengan rambut teruari."

Eunbi diam. Ia tidak merespon sama sekali. Bahkan pandangannya tidak beralih. Eunbi memang sangat jarang sekali mengurai rambutnya. Ia selalu menguncir rambutnya. Tapi siapapun sepertinya setuju dengan ucapan Taehyung. Rambut panjang kecokelatan milik Eunbi terlihat sangat indah.

"Besok jangan diurai lagi, ya. Aku takut nanti jadi suka padamu."

Dan Eunbi menuruti perkataan Taehyung. Sejak saat itu, gadis itu tidak pernah mengurai rambutnya.

Eunbi selalu menghindari Taehyung. Eunbi benci pria aneh itu. Eunbi benci bagaimana caranya menatap dengan mata hangatnya. Eunbi benci ketia ia tersenyum memperlihatkan senyum kotaknya. Eunbi benci suara beratnya yang lembut. Eunbi benci saat pria itu tertawa. Karena Eunbi tahu pria itu bukan miliknya.

Eunbi tertawa miris di atas kasurnya. Kenapa si Kim itu selalu saja mengganggu pikirannya. Eunbi tidak tahu bagaimana perasaan itu bisa tumbuh tanpa seizinnya. Tanpa permisi.

Bibir Eunbi tertarik ke atas saat melihat foto yang menggantung di dinding kamarnya. Terlihat foto Heami, Namchin dan dirinya mengenakan seragam SMP dan saling merangkul satu sama lain. Eunbi tertawa pelan memperhatikan Namchin yang tidak berubah. Gadis itu tetap menjadi yang terpendek di antara mereka bertiga. Begitupun dengan Heami. Gadis itu selalu cantik dengan senyum lembutnya.

Tidak heran jika para lelaki banyak menyukainya. Senyum Heami memang begitu memikat. Taehyung termasuk pria beruntung yang berhasil memenangkan hati Heami dari sekuan banyak pria yang mengejar Heami. Siapa sangka kehadiran Taehyung melahirkan rasa sakit dan perasaan bersalah dalam diri Eunbi. "Aku menyukainya. Aku menyukai Taehyung."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 30, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Direct In Direct Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang