Bertaubat adalah hak setiap orang
~●~
Wati mengusap wajahnya, ia merasa lelah. Begitu banyak bisik-bisik dari para tetangga mengenai dirinya. Secara tidak sengaja ia mendengar para tetangga bergosip. Diusapnya perut yang mulai membuncit.
Bagaimana jika mereka tahu aku sedang hamil?
Kekhawatiran itu menghampiri Wati. Tetangga-tetangganya pasti akan lebih mencibir jika tahu dia hamil.
Ya Allah kuatkan aku
"Wat, anter emak ke rumah Haji Imron untuk setor hasil jualan!" Seruan Emak membuyarkan pikiran Wati.
"Iya, Mak." Wati bergegas merapikan dirinya, memakai pakaian yang longgar untuk menutupi perutnya yang mulai membuncit.
Wati dan ibunya berjalan menuju rumah Haji Imron, di perjalanan ada banyak mata menatap mereka. Wati merasa mereka menatap perutnya yang mulai membuncit.
Sampai di rumah Haji Imron Emak dan Wati disambut oleh istri Haji Imron dengan ramah lalu dipersilakan masuk.
"Saya mau setor hasil jualan pak Haji," ujar Emak sambil menyodorkan amplop berisi uang.
Pak Haji Imron mengangguk-angguk lalu menoleh ke arah istrinya baru kemudian melihat ke arah Emak.
"Ini ambil lagi saja, buat modal kamu berjualan." Haji Imron menyodorkan kembali amplop itu ke hadapan Emak.
"Maksud Pak Haji?"
"Ibu tidak perlu ambil sayuran dari kami lagi, Ibu bisa belanja sendiri ke pasar." Istri Haji Imron menjelaskan.
"Berarti kami harus belanja ke pasar sendiri?" tanya Wati.
"Iya."
"Kenapa? Apa ada kesalahan kami?" Emak penasaran dengan keputusan tiba-tiba Haji Imron.
"Lebih baik jika Ibu mandiri."
"Apa karena omongan orang-orang tentang anak saya?" tanya Emak tajam.
"Kami mohon maaf ..."
"Saya paham. Kami permisi!" potong Emak sambil menarik tangan Wati untuk mengajaknya pergi. Entah berita apa yang sudah sampai ke telinga Haji Imron hingga memutuskan hal tersebut.
Putrinya memang bersalah, emak sadar akan hal itu. Kesalahan putrinya tidak bisa menjadi pembenaran bagi masyarakat untuk menghukum mereka sejauh itu.
"Tapi, Mak. Ini gak adil," protes Wati.
"Kita memang harus berusaha sendiri. Ayo pulang!"
Hati Wati terasa berat, kesalahannya berujung pada kesulitan untuk Emak. Mereka harus belanja sendiri ke pasar. Dengan kondisi Emak yang cacat dan dirinya yang sedang hamil hal itu sangat sulit untuk dilakukan.
Sepanjang jalan Wati dan Emak hanya terdiam. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Mak, biar Wati yang belanja besok ke pasar." kata Wati sesampainya mereka di rumah.
"Gak usah. Biar nanti Emak nyuruh orang aja, kamu lagi hamil nanti kecapean."
"Wati sehat, Mak. Gak pa-pa. Emak doain aja biar kami kuat. Kalo nyuruh orang lagi mahal biayanya, Mak. Mau dijual berapa barang dagangan kita?"
"Tapi Wat ..."
"Gak pake tapi, insya Allah Wati dan si bayi kuat. Emak harus yakin." Wati sudah bertekad bulat, ia akan mampu melalui cobaan ini.
_____
Setiap dini hari Wati pergi ke pasar dan pulang saat subuh membawa barang dagangan berupa sayuran dan lauk pauk. Tidak terasa perutnya makin membesar.
Para tetangga menyadari perubahan tubuh Wati. Perut yang membuncit tak mungkin lagi disembunyikan walau ia sudah memakai baju-baju longgar.
"Wat, kamu hamil anak siapa?" Seorang tetangga yang hobi nyinyir bertanya tanpa berfikir pada Wati.
Wati mengatur nafasnya, ia tidak menjawab hanya diam sambil melayani pembeli lainnya.
"Ditanya malah diem, malu ya itu anak haram?"
"Ibu mending gak usah belanja di sini deh kalo nanya-nanya mulu." ketus Wati.
"Yee, kesindir tuh udah hamil anak haram."
"Denger ya Bu, anak saya bukan anak haram! Saya tau dan sadar kalo perbuatan saya salah, tapi anak ini gak bersalah!" Wati menekankan tiap kata-katanya.
"Gak usah ngegas, baru dibilang gitu aja marah,"
Ibu itu segera pergi dari hadapan Wati, menorehkan luka perih di hatinya.
"Maafkan ibu, Nak. Kamu bukan anak haram, ibu sayang kamu sampai kapan pun." lirih Wati sambil mengelus perut buncitnya.
Wati sadar apa yang ia lakukan di masa lalu adalah kesalahan dan ia sudah bertaubat. Namun sepertinya itu tidak cukup bagi para tetangganya.
***
Jangan lupa kunjungi 2 karya terbaru saya:
♥ 22 Juni 1527
♥ Fate Vaganti
KAMU SEDANG MEMBACA
...
General FictionAda yang terjebak di lembah maksiat karena kemiskinan.ingatlah, pintu untuk kembali ke jalan yang benar selalu terbuka.
