Dia tampan

14 1 0
                                    

Entah mengapa setiap remaja perempuan pasti punya idola. Dan tentu saja seorang pria tampan yang punya segudang pesona. Begitu juga Amel, bernama lengkap Amelia sedang tergila gila dengan kakak temannya, Harapan.

"Hope...Hope!"

Yang ia harap si Hope itu dengar dan menoleh ke arahnya, malah dimarahi adiknya Hope.

"Eh lu ga sopan amat ya, udah salah nyebut nama, ga nyebut kakak maupun abang!" Kata Siska, ia keberatan abang sulung
kesayangannya tak dihormati.

"Ya elah lu Sis. Gua lagi ngejar masa depan. Emang lu ga mau punya kakak ipar kaya gua!" Ucap Amel santai.

"Ogah gua, yang ada rugi kalee... mana lu kerjaannya nebeng mulu ama gua. Takut gua ama toxic macam lu!"

"Sadis amat sih omongan lu! Liat aja ya pasti gua bisa naklukin abang lo!" Amel yakin

"Percaya diri sekali anda ini!" Siska jengkel

***

Sepulang sekolah Amel udah nongkrong cantik sekaligus membantu mama Siska beberes brownies yang ready untuk diantar ke pelanggan.

Shit!

Jago amat dia cari muka. Kalo gini, pasti gue yang diamuk mama.

"Dari mana aja anak mama yang cantik? Kok bisa Amel duluan nyampai, kamu singgah dimana?" Mama ga marah kok cuma rada kesal kok bisa anak orang lebih perhatian dibanding anak sendiri!

Siska menunduk dan mencium tangan mama, "Maaf, Ma! Lain kali Siska janji bakal pulang tepat waktu."

Siska segera naik ke kamar atas. Sementara Amel sedang membuatkan teh hangat, sambil mengaduk ia bernyanyi kecil. "Amel, makasih ya Nak!"

"Sama sama tante!" Ucapnya tersenyum.

Hari sudah gelap, sebenarnya malas ke bawah. Ada Amel yang lagi caper ke seluruh anggota keluarga.

tok tok tok

"Sis, dipanggil mama tuh!" Bang Har teriak. Ga ada manisnya abangku ini, entah kenapa banyak yang terpesona dengan dia. Dilihat darimana coba?!  Yang ada dia nyebelin!

"Sis..."

"Iya dengar, ga usah teriak kaleee..." Siska keluar kamar dengan muka manyun, kelihatan ga semangat tuh anak.

"Lo kenapa? Ga biasanya! Nilai ulangan jelek?" Bang Har tumben bersikap manusiawi.

"Amel" Siska dengan malas menyebut nama sahabatnya itu.

Eh bang Har malah tersenyum."Gue cuma menduga ternyata benar!"

"Please ya Bang, jangan tergoda sama dia. Dia itu asli cari muka. Mana ada dia serajin dan sebaik yang abang pikirin."

Bang Har tertawa, "Emang kamu siapa? Peramal, bisa baca pikiran orang?"

"Pokoknya jangan mau ya, Bang?"

"Iya, udah sana lekas makan." Bang Har mengacak poni Siska.

Dasar cewe, semua diurusin!

***

"Ma, Siska pergi dulu ya?" Kemudian mencium tangan mama.

"Ingat ya janji kamu semalam? Jadi anak yang baik!" Mama memberikan uang saku pada Siska.

"Macam Amel..." sambung bang  Har

"Abang..."

"Jangan sebut nama itu!" Siska memukul lengan bang Har.

Amel pov

Aku sebenarnya hanya berniat ngerjai si Siska. Abis aku iri dia itu amat sayang sama abangnya, sementara aku hanya sebatang kara. Eh ternyata respon Siska benar-benar bete, apalagi aku bilang aku bakal melakukan pedekate ke bang Har. Lucu deh wajah Siska yang gemesin itu kayak boneka. Untung punya temab imut macam dia, segala kesedihan hilang ketika mendengar omelannya. Tapi dia jadi serius memusuhiku, aku udah minta maaf karena hanya bercanda tapi dia ga percaya. Dia ga mau lagi menoleh padaku, melirik aja dia ogah. Padahal aku yakin dia ga setega itu sama aku. Apalagi kalo aku panggil Bang Har, pasti dia cepat berlalu dari kami.

"Mel, ini bukumu!" Bang Har duduk di sebelahku, kami sedang ada di kantin saat ini.

"Dari Siska?"

"Iya, kalian kenapa sih? Kok marahan ga kelar-kelar!"

Aku pun menjelaskan semuanya.

"Maafin Siska ya?"

Aku mengangguk.

Pulang sekolah, Siska ngambek lagi. "Iih abang ini udah dibilangin juga jangan mau dideketin Amel masih juga bandel!"

"Dia kan temanmu. Lagian kamu sendiri kan yang nyuruh abang kembalikan buku dia. Kok kamu marah ke abang?!"

"Itu akal-akalan dia aja, Bang!"

"Kalo sikap kamu begitu terus kamu bakalan ga punya teman."

"Pasti dia udah jelek-jelekin aku ke abang!"

"Jangan negatif thinking! Udah yuk pulang. Abang ada kelas basket jam 4!"

Ternyata di lapangan basket teman-teman sudah ngumpul dan beruntung belum telat.

"Eh Har, katanya lo bakal ikut lomba basket di sekolahan ya?" Tanya Riko yang jadi kapten basket tim Har.

"Belum tau, masih seleksi kok!" Har memulai pemanasan.

"Aku bakalan ikut seleksi bro..." Umar mendribel bola. Semua juga tau kalo Umar sedang mendekati seorang cewek di sekolah mereka. Umar dan Har satu sekolah sedang Riko beda sekolah.

"Semoga beruntung bro!"

Ah iya kemarin Amel sempat menanyakan soal Umar.Sepertinya Amel kurang suka tapi ia juga mencari tau sifat Umar gimana.

Mungkin aja Umar mau deketin Amel? Itu bukan urusanku. Asal jangan Siska aja. Soalnya sikap Siska itu masih kekanakan. Ia bahkan ga pernah membicarakan soal adiknya, seperti Rafael yang bangga dengan adiknya Rafles.

Latihan usai, Har merapikan tasnya, menatap botol minuman bermerek tupperware itu sudah kosong. Padahal aku masih haus, gumamnya. Ia pun lantas ke indomat membeli minuman energy. Setelah memilih beberapa item yang akan ia bayar.

Lho bukannya itu si Amel. Lama ia mengamati dua orang itu sedang asyik ngobrol dan terlihat sangat akrab. Mungkin Siska cemburu karena Amel memang gampang bergaul dan sepertinya tidak sulit untuk akrab dengannya.

Har keluar dan disapa oleh Amel."Belanja Bang!"

"Iya" Ucapnya singkat

Semoga kamu ga salah bergaul, Mel!

***

Pelajaran ini terasa sulit. Biasanya ia tinggal menelpon atau cuma ngechat aja Amel bakal datang. Ini udah sejam tapi jawaban matematika ga kelar. Apa aku telpon aja ya si Amel? Mau minta ajarin bang Har juga ga enak, soalnya dia baru pulang basket pasti capek dan ga mood dong bantuin aku.

How lucky I am

Amel menelpon karena buku matematikanya ga kelihatan padahal ia juga akan mengerjakan tugas itu.

"Gue segera otw"

"Ok"

Siska senang sekali, akhirnya gue ga perlu basa basi minta tolong pr matematika ini dan saatnya menunggu. Ah aku buatin lemon tea hangat, itu kan minuman favorit si Amel.

"Eh bakal ada tamu spesial ya?" Kata Bang Har membuat Siska kaget.

"Iya, Amel yang bakal datang!" Ucapnya senang

"Ooh abang ke atas dulu ya?" Bang Har membawa sebotol minuman ukuran besar.

"Ok Bang" Siska menata aneka cemilan untuk menyambut Amel.

Next chapter ya guys






Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 02, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Mengejar HarapanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang