"Hai. Kamu, yang sedang menatap bulan..."
"Apa kau mendengarkan ku?"
"Bulan sangat cantik malam ini, bukan begitu?"
"In the name of moon, I Love You,"
.
.
.
.
.
"Sa..."
"Sar..."
"Sara..."
"Sarada..."
"Sarada-nee..."
"SARADA ONEE-SAN!!!"
Sarada membuka mata ketika mendengar namanya dipanggil dengan suara yang keras. Dia terbangun dari tidurnya sebentar tadi lalu memeriksa keadaan.
Ha?
Sarada menggerutu. Bagaimana bisa dia tertidur di meja belajarnya sendiri? Sarada tak tau, terakhir kali dia sedang berbaring di atas ranjang...lalu...entahlah.
"Onee-san, apa kau mendengarkan ku? Usuratonkachi ," desis seorang lelaki berambut raven mencuat. Mata emerald suramnya menatap datar perempuan 21 tahun di depannya.
(Uchiha Satsuki : anggap saja matanya emerald)
Sarada menghembus nafas ketika melihat adik lelaki satu-satunya sedang berdiri di sampingnya. Berarti tadi dia membangunkannya?
"Apa yang kau lakukan disini, Satsuki? Aku sudah mengatakan bukan, jangan masuk ke kamar ku sembarangan," kata Sarada sembari bangkit dari duduknya. Dia menoleh ke arah Satsuki sekilas.
Satsuki--lelaki berambut raven--berdecih jengkel. Dia melangkah ke arah pintu kamar, membukanya lalu menatap Sarada. "Tch, mama sudah berteriak setengah gila. Dan nee-san belum juga terbangun. Lalu, nee-san ingin berhibernasi? Aku pergi," Satsuki mengakhiri ucapannya dengan tutupan pintu besar. Sarada tersenyum simpul melihat Satsuki.
"Ya...begitu rupanya, shannaro..." Sarada segera mencapai anduknya. Namun, sesaat dia terhenti di depan jendela besar yang ada di kamarnya. Sarada berjalan mendekat, membuka jendela itu selebar mungkin.
"Bisikan itu..."
Siapa yang membisikkannya?
YOU ARE READING
Boruto : Naruto SENGKLEK Generation
FanfictionKetika kalian sudah lelah dengan hal dunia. Hendak melarikan diri tapi arah tuju tak diketahui. Begitu juga dengan Boruto. Hei, lu pikir jadi ninja tu gak susah? Pergh... susahnya sampai bikin lu pada istigfar. Serius! Karena itulah, Boruto dan kawa...